Nabi Nuh AS adalah nabi keempat sesudah Adam, Syith dan Idris dan keturunan
kesembilan dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamik bin Metusyalih bin
Idris.
Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa “fatrah” masa
kekosongan di antara dua rasul di mana biasanya manusia secara
beransur-ansur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang
meninggalkan mereka dan kembali bersyirik meninggalkan amal kebajikan,
melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.
Demikianlah maka kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut,
sehingga ketika Nabi Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang
menyembah berhala ialah patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan
mereka sendiri disembahnya sebagai tuhan-tuhan yang dapat membawa
kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan
kemalangan.berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan
mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu
diberinya nama-nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera
kebodohan mereka.Kadang-kadang mereka namakan berhala mereka ” Wadd ”
dan ” Suwa ” kadangkala ” Yaguts ” dan bila sudah bosan digantinya
dengan nama ” Yatuq ” dan ” Nasr “.
Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis
itu, mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan
kembali kepada tauhid menyembah Allah Tuhan sekalian alam melakukan
ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan
kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.
Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya agar melihat alam semesta yang
diciptakan oleh Allah berupa langit dengan matahari, bulan dan
bintang-bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang ada di atas
dan di bawahnya, berupa tumbuh-tumbuhan dan air yang mengalir yang
memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pengantian malam menjadi siang
dan sebaliknya yang kesemua itu menjadi bukti dan tanda nyata akan
adanya keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang
mereka buat dengan tangan mereka sendiri.Di samping itu Nabi Nuh juga
memberitakan kepada mereka bahwa akan ada ganjaran yang akan diterima
oleh manusia atas segala amalannya di dunia iaitu syurga bagi amalan
kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran terhadap perintah agama
yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.
Nabi Nuh yang dikurniakan Allah dengan sifat-sifat yang patut
dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata-katanya,
bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas risalahnya
kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara
yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan
kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi
pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah
dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka
membantahnya atau mematahkannya.
Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat tenaganya
berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan
kesabaran dan dalam setiap kesempatan, siang mahupun malam dengan cara
berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka ternyata hanya sedikit
sekali dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti
ajakannya, yang menurut sementara riwayat tidak melebihi bilangan
seratus orang. Mereka pun terdiri dari orang-orang yang miskin
berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang yang kaya-raya, berkedudukan
tinggi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan
pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak
mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan
melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala
mereka, bahkan mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak
melumpuhkan dan menggagalkan usaha dakwah Nabi Nuh.
Berkata mereka kepada Nabi Nuh:
“Bukankah engkau hanya seorang daripada kami dan tidak berbeda
daripada kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah akan
mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Ia akan
mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan
kami ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau hanya dapat
diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh
petani orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka
seperti sampah masyarakat.Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang
yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak, mereka
mengikutimu secara buta tuli tanpa memikirkan dan menimbangkan
masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Cuba agama
yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau sadurkan kepada kami
itu betul-betul benar, nescaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya
orang-orang yang mengemis pengikut-pengikutmu itu. kami sebagai
pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak
dan pandangan yang luas dan yang dipandang masyarakat sebagai
pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudah kami menerima ajakanmu dan
dakwahmu.Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soa-soal
kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pandai dan lebih
mengetahui daripada mu tentang hal itu semua.nya.Anggapan kami
terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalah pendusta
belaka.”Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya:
“Adakah engkau mengira bahwa aku dapat memaksa kamu mengikuti
ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan
kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakan ku dan
tetap membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap
mempertahankan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh
kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu
miliki.Aku hanya seorang manusia yang mendapat amanah dan diberi tugas
oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap
berkeras kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang benar dan menerima
agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada Allah
untuk menentukan hukuman-Nya dan ganjaran-Nya keatas diri kamu. Aku
hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan
amanah-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah
kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan seksaan-Nya di
atas kamu sekalian jika Ia kehendaki.Dialah pula yang berkuasa
menurunkan seksa dan azab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari
kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha
Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.”.Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan berkata:
“Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi
sokongan dan semangat kepada kamu dan kepada agama yang engkau bawa,
maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani,
buruh dan hamba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pengaulanmu karena
kami tidak dapat bergaul dengan mereka duduk berdampingan dengan
mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam
suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dapat menerima satu
agama yang menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa
dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan
dengan orang yang miskin dan papa.”Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya dan berkata:
“Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tiada
pengecualian, yang pandai mahupun yang bodoh, yang kaya mahupun miskin,
majikan ataupun buruh ,diantara penguasa dan rakyat biasa semuanya
mempunyai kedudukan dan tempat yang sama terhadap agama dan hukum Allah.
Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu
menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dapat
ku harapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana
aku sampai hati menjauhkan daripadaku orang-orang yang telah beriman dan
menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu
menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam
tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan
bagaimanakah aku dapat mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku
kepada mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahawa aku telah
membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya semata-mata
untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak
wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran yang sihat.
Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran
sihat.Pada akhirnya, karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran
kata-kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk
melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka: “Wahai Nabi
Nuh! Kita telah banyak bermujadalah dan berdebat dan cukup berdialog
serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak
akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan
adat-istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau
mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah dengan kami.
Datangkanlah apa yang engkau benar-benar orang yang menepati janji dan
kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu
dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap
meragukan dakwahmu.”
Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima
puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka
meninmggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah
kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan yang
sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka
hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya,
mengangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingkat yang
sesuai dengan fitrah dan qudratnya dan berusaha menghilangkan
sifat-sifat sombong dan bongkak yang melekat pada para pembesar kaumnya
dan medidik agar mereka berkasih sayang, tolong-menolong diantara
sesama manusia. Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh
tidak berhasil menyedarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan
menerima dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadat kepada Allah
kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus
orang, walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-usahanya
dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran dan kesulitan menghadapi
penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, karena ia mengharapkan
akan datang masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan datang mengakui
kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Harapan Nabi Nuh akan kesedaran
kaumnya ternyata makin hari makin berkurangan dan bahawa sinar iman dan
takwa tidak akan menebus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat
oleh ajaran dan bisikan Iblis.
“Sesungguhnya tidak akan seorang daripada kaumnya mengikutimu dan
beriman kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih
dahulu, maka janganlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka
perbuatkan.” Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa
harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon
kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala
batu seraya berseru:”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun
daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini.
Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan
mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain
anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt mereka.”
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah dan permohonannya diluluskan dan
tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, karena mereka
itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam.
Nabi Nuh AS Membuat Kapal
Setelah
menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh
mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang
diperlukan untuk maksud tersebut, kemudian dengan mengambil tempat di
luar dan agak jauh dari kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan
tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembinaan kapal yang
diperintahkan itu. Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan
masyarakatnya, agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi
menyelesaikan pembinaan kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan
cemuhan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja
membina kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan:
“Wahai Nuh! Sejak kapan engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat
kapal?Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu,
kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal. Dan
kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah
maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang akan
menarik kapalmu ke laut?” Dan lain-lain kata ejekan yang diterima oleh
Nabi Nuh dengan sikap dingin dan tersenyum seraya menjawab:”Baiklah
tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekarang mengejek dan
mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk
mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami
siapkan ini.Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas diri
kamu.”
Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat
pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah :
“Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan
terlihat tanda-tanda daripada-Ku maka segeralah angkut bersamamu di
dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis
makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku.” Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras
dan dahsyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda
seluruh kota dan desa menggenangi daratan yang rendah mahupun yang
tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat
berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang
telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang
diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.
Dengan iringan “Bismillahi majraha wa mursaha” belayarlah kapal Nabi
Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang
kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal
terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang
menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang sudah sedia
menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu. Tatkala Nabi
Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat
orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan
air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama
“Kan’aan” timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak
menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman
Allah itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih
sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam
keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.
Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak
dengan sekuat suaranya memanggil puteranya:Wahai anakku! Datanglah
kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan
berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya
maut yang engkau menjalani hukuman Allah.” Kan’aan, putera Nabi Nuh,
yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya
yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan
panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang
menentang:”Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi
berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku
sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh
air bah ini.”
Nuh menjawab:”Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat
menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa
tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang
telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan
keampunan-Nya.” Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah
Kan’aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan
mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya
dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.
Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam
keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau
berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah:”Ya Tuhanku, sesungguhnya
puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku
dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan Engkaulah Maha Hakim
yang Maha Berkuasa.”Kepadanya Allah berfirman:”Wahai Nuh! Sesungguhnya
dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah
menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan
mengikuti jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu.Coretlah namanya
dari daftar keluargamu.Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu
mengikuti jalan mu dan beriman kepada-Ku dapat engkau masukkan dan
golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan
perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya.Adapun orang-orang yang
mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa
nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani
hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung.
Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau
belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam
golongan orang-orang yang bodoh.”
Nabi Nuh sedar segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta
kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan
ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri.
Ia sedar bahawa ia tersesat pada saat ia memanggil puteranya untuk
menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri
darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta
dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan
harta-benda. Ia sangat sesalkan kelalaian dan kealpaannya itu dan
menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru :
“Ya
Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat,
ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang
aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan
maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi orang
yang rugi.”Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis
binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan
hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah
kapal Nuh di atas bukit ” Judie ” dengan iringan perintah Allah kepada
Nabi Nuh :
“Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang
menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku
bagimu dan bagi umat yang menyertaimu.”Nabi Nuh turun dari perahunya dan ia melepaskan burung-burung dan
binatang-binatang buas sehingga mereka menyebar ke bumi. Setelah itu,
orang-orang mukmin juga tumbuhan. Nabi Nuh meletakkan dahinya ke atas
tanah dan bersujud. Saat itu bumi masih basah karena pengaruh topan.
Nabi Nuh bangkit setelah salatnya dan menggali pondasi untuk membangun
tempat ibadah yang agung bagi Allah SWT. Orang-orang yang selamat
menyalakan api dan duduk-duduk di sekelilinginya. Menyalakan api
sebelumnya di larang di dalam perahu karena dikhawatirkan api akan
menyentuh kayu-kayunya dan membakarnya. Tak seorang pun di antara mereka
yang memakan makanan yang hangat selama masa topan.
Berlalulah hari puasa sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.
Al-Qur’an tidak lagi menceritakan kisah Nabi Nuh setelah topan sehingga
kita tidak mengetahui bagaimana peristiwa yang dialami Nabi Nuh bersama
kaumnya. Yang kita ketahui atau yang perlu kita tegaskan bahwa Nabi
Nuh mewasiatkan kepada putra-putranya saat ia meninggal agar mereka
hanya menyembah Allah SWT.
Perahu Nabi Nuh AS
Menakjubkan: Perahu Nabi Nuh AS Telah Ditemukan Melalui Penelitian Ilmiah
Umat Nabi Nuh A.S yang ditenggelamkan oleh Allah SWT karena
kedurhakaannya seperti dikisahkan dalam Al-Qur’an, sudah menemukan
pembuktian kebenarannya secara ilmiah. Sejak tahun 1949, sudah
ditemukan lokasinya dan kemudian dilakukan penggalian oleh penelitian
tim antropolog yang dipimpin oleh Prof. Ron Wyatt di Turki sejak tahun
1977. Ini adalah sebagian foto-fotonya. ENJOY IT!! (Moef)
______________________________1. Awal PenemuanPemotretan awal oleh Angkatan Udara AS di tahun 1949 tentang adanya
benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan ketinggian 14.000 feet
(sekitar 4.600 meter).
Kemudian, awal tahun 1960, berita dalam Life Magazine: Pesawat
Tentara Nasional Turki menangkap sebuah benda mirip perahu di puncak
gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang diduga perahu
Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark)
a

a
2. Foto-foto tahun 1999-2000Seri pemotretan oleh Penerbangan AS IKONOS tahun 1999-2000 tentang dugaan adanya perahu di Gunung Ararat yang tertutup salju.

3. Peta Lokasi Perahu Nabi Nuh

a
4. Tanah berbentuk Perahu Nabi Nuh di atas Gunung Arafat. 
a
5. Situs Perahu Nabi Nuh sebelum dibersihkan

a
6. Pengukuran di Atas Perahu


a
7. Struktur Perahu menurut para arkeolog yang menemukannya
a

a
8. Bentuk Perahu Nabi Nuh AS

a
The Real Noah’s Ark!
Top Points to Consider
10 Hal Penting untuk Diketahui tentang Perahu Nabi Nuh:!!
- It is in the shape of a boat, with a pointed bow and rounded stern. Bentuknya adalah perahu dengan deknya berbentuk bundar/melingkar.
- Exact length as noted in biblical description, 515 feet or
300 Egyptian cubits. (Egyptian not Hebrew cubit would have been known
to Moses who studied in Egypt then wrote Genesis.) Panjangnya seperti dinyatakan Bible adalah 515 feet atau 300 cubit Mesir [± 160 meter.
- It rests on a mountain in Eastern Turkey, matching the
biblical account, “The ark rested . . . upon the mountains of Ararat”
Genesis 8:4. (Ararat being the name of the ancient country Urartu which
covered this region.) Perahu ini terdampar di Timur Turki,
akur dengan pernyataan Bible, “Perahu itu terdampar … di atas
pegunungan Ararat” (Genesis 8:4). (Ararat adalah sebutan untuk negara
kuno Urartu yang meliputi wilayah ini.
- Contains petrified wood, as proven by lab analysis. Dari pengujian laboratotirum, perahu itu adalah kayu yang sudah membatu.
- Contains high-tech metal alloy fittings, as proven by
separate lab analyses paid for by Ron Wyatt, then performed later by
Kevin Fisher of this web site. Aluminum metal and titanium metal was
found in the fittings which are MAN-MADE metals! Dari beberapa
pengujian terpisah, bahannya mengandung metal yang sangat kuat dan
berteknologi tinggi. Metal alumunium dan titanium ditemukan ditemukan
menyatu yang dibuat tangan manusia.
- Vertical rib timbers on its sides, comprising the skeletal
superstructure of a boat. Regular patterns of horizontal and vertical
deck support beams are also seen on the deck of the ark.
Bingkai timah vertikal pada sisi-sisinya menunjukkan kerangka struktur
perahu yang canggih. Pola-pola yang sama pada dek horisontal dan
vertikal yang memperkuat balok-balok tiang juga terlihat di atas dek
perahu.
- Occupied ancient village at the ark site at 6,500 ft.
elevation matching Flavius Josephus’ statement “Its remains are shown
there by the inhabitants to this day.” Lokasi perahu itu menutupi sebuah desa kuno di ketinggian 6.500 kaki (2275 meter.
- Dr. Bill Shea, archaeologist found an ancient pottery sherd
within 20 yards of the ark which has a carving on it that depicts a
bird, a fish, and a man with a hammer wearing a headdress that has the
name “Noah” on it. In ancient times these items were created by the
locals in the village to sell to visitors of the ark. The ark was a
tourist attraction in ancient times and today. Dr. Bill Shea,
seorang antropolog, menemukan pecahan-pecahan tembikar sekitar 18 meter
dari perahu yang memiliki ukiran2 burung, ikan, dan orang memegang
palu dengan memakai hiasan kepala yang bertuliskan “Nuh.” Pada zaman
kuno, barang-barang tersebut dibuat oleh penduduk lokal di desa itu
untuk dijual kepada para pengunjung perahu. Sejak zaman kuno hingga
sekarang, perahu tersebut telah menjadi lokasi wisata.
- Recognized by Turkish Government as Noah’s Ark National Park
and a National Treasure. Official notice of its discovery appeared in
the largest Turkish newspaper in 1987. Sekarang ini lokasi
itu dijadikan Taman Nasional Perahu Nabi Nuh dan (Warisan Nasional.
Pejabat setempat menyebutkan berita liputan penemuan perahu tersebut
muncul dalam koran terbesar Turki pada tahun 1987.
- Visitors’ center built by the government to accommodate tourists further confirms the importance of the site. Gedung Pusat Turis dibangun oleh Pemerintah untuk mengakomodasi para turis agar mengetahui pentingnya lokasi tersebut.
- 11. Huge anchor stones were found near the ark and in the
village Kazan, 15 miles away, which hung off the rear of the ark to
steady its ride. Jangkar batu besar ditemukan dekat perahu di
Desa Kazan, berjarak 15 mile (24 meter) yang menggantung di bagian
belakang perahu untuk mengokohkan tumpangan.
- 12. The ark rests upon Cesnakidag (or Cudi Dagi) Mountain, which is translated as “Doomsday” Mountain. Perahu terletak di atas Gunung Cesnakidag yang diartikan sebagai “Gunung Kiamat.”
- Dr. Salih Bayraktutan of Ataturk University stated, “It is a man made structure, and for sure it’s Noah’s Ark” Common Sense. This
same article also states “The site is immediately below the mountain
of Al Judi, named in the Qur’an as the resting place of the Ark.” Houd Sura 11:44.
Dr. Salih Bayraktutan dari Universitas Ataturk menyatakan “ Perahu ini
adalah strukur yang dibuat manusia dan karenanya yakin ini adalah
Perahu Nabi Nuh.” Artikel itu juga menyatakan, “Lokasinya di Gunung
Judi yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai tempat pendaratan bahtera.”
Surat Hud ayat 44.
- Radar scans show a regular pattern of timbers inside the
ark formation, revealing keels, keelsons, gunnels, bulkheads, animal
chambers, ramp system, door in right front, two large barrels in the
front 14′ x 24′, and an open center area for air flow to all three
levels. Scan radar menunjukkan pola timah yang tetap di dalam
formasi perahu, ada balok-balok kayu besar di dasar perahu, dinding
pemisah, kandang2 binatang, sistem lorong-lorong jalan dalam perahu,
pintu bagian depan, dua tong besar berukuran 14’x24’, dan sebuah pusat
area terbuka untuk sirkulasi udara untuk tiga tingkat ruangan dalam
perahu.
http://jumailischaniago.wordpress.com/category/kisah-para-nabi/nabi-nuh-as/