Isa (عيسى) merupakan seorang nabi yang penting dalam agama Islam.
Dalam Kitab Suci Al Qur’an, ia dipanggil Isa bin Maryam atau Isa
al-Masih. Kata ini diperkirakan berasal dari bahasa Aram, Eesho atau
Eesaa. Yesus Kristus adalah nama yang umumnya dipakai umat Kristen untuk
menyebutnya, sedangkan orang Kristen Arab menyebutnya dengan Yasu’
al-Masih (يسوع المسيح).
Narasi Qur’an tentang Isa dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri
dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Zakariya,
serta kelahiran Yahya. Kemudian Qur’an menceritakan keajaiban kelahiran
Isa sebagai anak Maryam tanpa ayah. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata:
“Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran
seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang)
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah) (QS Ali Imran: 45)
Beberapa kepercayaan yang dianut ummat Islam mengenai Isa antara lain :
1. Silsilah nabi Isa tersambung kepada nabi Ibrahim melalui putranya Ishak
2. Isa adalah salah satu nabi yang tergolong dalam ulul azmi, yakni
nabi dan rasul yang memiliki kedudukan tinggi/istimewa bersama dengan
(Muhammad, Ibrahim, Musa dan Nuh).
3. Isa diutus untuk kaum bani Israil
4. Isa bukanlah Tuhan maupun anak Tuhan, melainkan salah seorang
manusia yang diangkat menjadi nabi dan rasul sebagaimana juga setiap
nabi lain yang diutus pada masing-masing kaum.
5. Kelahiran Isa terjadi dengan ajaib, tanpa ayah biologis, atas
kekuasaan Tuhan. Ibunya (Maryam) adalah dari golongan mereka yang suci
dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
6. Isa memiliki beberapa keajaiban atas kekuasaan Tuhan. Di samping
kelahirannya, Ia mampu berbicara saat berumur hanya beberapa hari, Ia
berbicara dan membela Ibunya dari tuduhan perzinaan. Dalam Qur’an juga
diceritakan saat Ia menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan
kebutaan dan penyakit lepra.
7. Isa menerima wahyu dari Tuhan yakni Injil (merujuk pada Perjanjian
Baru agama Kristen), namun versi yang dimiliki oleh umat Kristiani saat
ini dipercayai telah berubah dari versi aslinya. Beberapa pendapat
dalam Islam menyebutkan bahwa Injil Barnabas adalah versi Injil paling
akurat yang ada saat ini.
8. Isa tidaklah dibunuh maupun disalib, Tuhan membuatnya terlihat
seperti itu untuk mengelabui musuh-musuhnya. Terdapat beberapa pendapat
yang mengatakan bahwa salah seorang musuhnya diserupakan dengan dia,
sedangkan Isa sendiri diangkat langsung ke surga dan musuhnya yang
diserupakan tadi adalah orang yang disalib.
Sementara pendapat lain (antara lain Ahmad Deedat) mengatakan bahwa
Isa benar-benar disalib namun tidak hingga mati kemudian diangkat ke
surga. Terdapat pula pendapat lain yang mengatakan bahwa yang disalib
oleh tentara Roma bukan Isa melainkan Yudas Iskariot.
Isa masih hidup dan berada di surga, suatu hari Ia akan datang
kembali ke bumi untuk melawan Dajjal (atau Antikristus dalam agama
kristen) dan merupakan salah satu tanda-tanda dekatnya hari kiamat.
Isa bukan merupakan penebus dosa manusia, Islam menolak konsep dosa
turunan dan menganut konsep bahwa setiap manusia bertanggung jawab dan
akan diadili atas perbuatannya sendiri.
Nabi Isa Beranjak Dewasa
Isa pun tumbuh menjadi dewasa dan mencapai masa mudanya. Isa
keluar dari rumahnya dan menuju tempat penyembahan kaum Yahudi. Saat itu
bertepatan dengan hari Sabtu. Di sana tidak ada satu rumah pun dari
rumah kaum Yahudi yang dapat menyalakan api atau memadamkannya pada hari
Sabtu, atau mengambil buah di hari itu. Dilarang bagi seorang wanita
untuk membikin adonan roti atau seseorang anak kecil mencuci anjingnya.
Nabi Musa telah memerintahkan untuk menghormati hari Sabtu dan hanya
mengkhususkanya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Terdapat hikmah di balik penghormatan hari Sabtu sehingga hari Sabtu
menjadi hari yang sangat disucikan di kalangan orang-orang Yahudi.
Mereka melaksanakannya dengan berbagai macam tradisi dan mereka
mencurahkan segala konsentrasi mereka untuk menjaga hari Sabtu dan tidak
meremehkannya. Sebab, mereka meyakini bahwa hari Sabtu adalah hari yang
dijaga dari langit sebelum Allah menciptakan manusia sebagaimana mereka
percaya bahwa Bani Israil telah diberikan pilihan kepada satu jalur
saja, yaitu menjaga hari Sabtu. Mereka bangga karena mereka dapat
menjaganya meskipun hal itu menyebabkan mereka kalah di kancah
peperangan atau mereka tertawan di tangan musuh. Bahkan saking ketatnya
mereka mempertahankan kehormatan hari Sabtu sampai-sampai mereka
menambah-nambahi berbagai macam larangan di hari Sabtu. Majelis kaum
Yahudi menetapkan ratusan larangan yang tidak boleh dilakukan di hari
Sabtu, seseorang dilarang untuk memakai gigi palsu di hari Sabtu.
Seorang yang sakit dilarang untuk memakai perban atau memakai minyak di
tempat yang sakit pada hari Sabtu atau memanggil dokter. Dilarang pula
di hari Sabtu untuk menulis dua huruf abjad; dilarang juga untuk
mempertahankan diri pada hari Sabtu; dilarang untuk panen dan belajar di
hari Sabtu. Kemudian, bepergian di hari Sabtu diharuskan untuk tidak
lebih dari dua ribu yard. Dilarang juga dihari Sabtu untuk membawa
sesuatu ke luar rumah.
Jadi, banyaknya syariat, hukum serta larangan-larangan biasanya
diikuti dengan banyaknya keburukan atau paling tidak membantu
terciptanya keburukan. Setiap timbul suatu larangan, maka timbul
bersamanya cara untuk menghindar darinya. Demikianlah, kehidupan kaum
Yahudi dipenuhi dengan kemunafikan yang luar biasa di mana secara
lahiriah mereka menampakkan penghormatan terhadap hari Sabtu, tetapi
secara batiniah mereka berusaha menodai kehormatan dengan berbagai macam
cara.
Meskipun kelompok Farisiun bertanggung jawab terhadap tugas
pelaksanaan syariat dan mengawasinya dengan banyak mendapatkan
jarninan-jaminan, maka kita akan melihat bahwa mereka siap untuk
menciptakan berbagai rekayasa dan tipu daya yang memungkinkan mereka
untuk menghindar dari hukum-hukum syariat di saat yang tepat. Saat yang
tepat adalah saat di mana syariat-syariat tersebut bertentangan dengan
kepentingan pribadi mereka atau dapat menjadi penghalang bagi mereka
untuk mendapatkan mata pencaharian yang haram yang sudah siap masuk pada
kantong mereka. Misalnya, terdapat kaidah syariat yang menetapkan
perjalanan pada hari Sabtu tidak boleh melebihi dua ribu yard.
Namun orang-orang Farisiun mengadakan walimah di mana mereka
mengundang orang-orang untuk menghadiri acara tersebut pada hari Sabtu,
padahal tempat diadakannya acara itu berjarak lebih dari dua ribu yard
dari rumah mereka. Lalu, bagaimana mereka dapat melaksanakan hal
tersebut? Sangat mudah sekali. Mereka meletakkan pada sore hari Sabtu
sebagian makanan yang berjarak dua ribu yard dari rumah mereka lalu
setelah itu mereka mendirikan suatu tempat tinggal di mana mereka dapat
berjalan setelahnya dan menempuh dua ribu yard yang lain. Dari sini
mereka dapat menambah jarak yang mereka inginkan. Begitu juga agar
mereka menghindar dari larangan membawa sesuatu ke luar rumah pada hari
Sabtu, maka mereka membuat tipu daya yang lain. Yaitu mereka mendirikan
gerbang-gerbang pintu dan jendela di berbagai jalan sehingga seluruh
kota seperti rumah besar yang dimungkinkan bagi mereka untuk membawa
segala sesuatu dan bergerak di dalamnya.
Contoh lain yang menunjukan bagaimana orang-orang Yahudi
mempermainkan syariat sedangkan mereka mengklaim menjaganya adalah,
bahwa syariat Musa menetapkan agar seorang anak menginfaki kedua orang
tuanya saat mereka menginjak usia tua dan membutuhkannya. Tetapi kaum
Farisiun memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk lari dan
menghindar dari tanggung jawab ini dengan suatu tipu daya yang
sederhana. Ketika seorang anak dituntut oleh kedua orang tuanya untuk
memberi nafkah, maka ia pergi ke para pendeta dan bersepakat kepada
mereka untuk mewakafkan semua hartanya dan kekayaannya kepada haikal,
yaitu tempat sembahan kaum Yahudi. Saat itu kedua orang tuanya tidak
mampu mengambil sesuatu pun darinya. Ketika mereka berdua telah putus
asa dan tidak lagi menuntut padanya untuk memberi nafkah, maka semua
harta kekayaannya akan dikembalikan kepadanya oleh para pendeta, dengan
catatan hendaklah ia memberikan bagian tertentu dari hartanya kepada
para pendeta itu. Demikianlah yang terdapat dalam Injil Mata.
Di tengah-tengah suasana kebodohan pemikiran yang luar biasa ini,
juga terdapat sikap keras kepala dan berpikir yang mengelilingi kaum
Yahudi. Terdapat tujuh tingkat kesucian dan dua puluh enam salat yang
harus mereka lakukan saat mereka membasuh tangan sebelum memakan
makanan, namun mereka menganggap bahwa meniadakan pembacaan salat-salat
sebagai bentuk pembunuhan terhadap jiwa dengan cara bunuh diri dan
tercegah dari kehidupan abadi. Demikianlah kekerasan sikap masyarakat
Yahudi yang menunjukkan bahwa moral mereka telah rusak dan dipenuhi
dengan kemunafikan yang tiada taranya.
Sementara itu, Isa berjalan menuju tempat beribadah. Orang-orang
berjalan di sekelilingnya. Mereka tampak membanggakan pakaian-pakaian
yang berwarna dan berharga sedangkan Isa berjalan dengan memakai baju
putih dan menampakkan kezuhudannya. Rambut Isa tampak lembut yang
mencapai kedua bahunya dan tampak ia basah terkena air awan yang
menurunkan gerimis. Kemudian kedua kakinya berjalan di atas tanah
sehingga tanah itu dipenuhi dengan bau harum yang tidak diketahui
sumbernya. Baju yang dipakai oleh Isa terbuat dari bulu domba yang
sangat sederhana dan kasar. Meskipun hari itu hari Sabtu, Isa memetik
buah di suatu kebun dan mengambil dua buah yang beliau berikan kepada
anak kecil yang fakir dan lapar. Tindakan semacam ini menurut
kepercayaan Yahudi dianggap sebagai tindakan yang menentang agama
Yahudi.
Isa mengetahui bahwa menjalankan agama yang hakiki bukan terletak
pada ketaatan eksternal sementara hati jauh dari sikap rendah diri. Oleh
karena itu, Isa mencabut buah dan memberikan makan kepada manusia pada
hari Sabtu. Beliau menyalakan api untuk wanita-wanita tua sehingga
mereka tidak mati kedinginan.
Isa sering mengunjungi tempat sesembahan orang Yahudi. Isa berdiri di
dalamnya dan mengamati para pendeta dan manusia yang hilir mudik di
sekitarnya. Sesampainya Isa di tempat sembahan, ia berdiri di dalamnya.
Isa mengamat-amati apa yang ada di dalamnya. Dinding-dinding tempat
beribadah itu terbuat dari kayu gahru yang memiliki bau yang harum. Di
samping itu, terdapat kelambu-kelambu yang terbuat dari kain-kain yang
mengagumkan yang dicampur dengan emas. Juga terdapat lampu-lampu yang
terulur dari atap dan juga ada lilin-lilin yang memenuhi ruangan dengan
cahaya. Meskipun demikian, kegelapan menyelimuti hati orang-orang yang
ada di situ.
Nabi Isa berdiri cukup lama di tempat penyembahan itu. Setiap kali ia
memutarkan wajahnya, ia mendapati para pendeta di sana. Terdapat dua
puluh ribu pendeta. Nama-nama mereka tercatat dalam haikal. Mereka
adalah kaum Waliyun yang memakai saku-saku yang besar yang di dalamnya
ada kitab-kitab syariat. Sedangkan kaum Farisiun, mereka memakai pakaian
yang lebar yang sisi-sisinya tertenun dengan emas. Mereka adalah
pembantu haikal yang resmi dengan memakai baju-baju mereka yang putih.
Adapun kaum Shaduqiyun adalah kelompok para pendeta aristokrat yang
bersekutu dengan penguasa di mana mereka memperoleh kekayaan melalui
persekutuan ini. Nabi Isa memperhatikan bahwa jumlah pengunjung
haikalita lebih sedikit daripada jumlah para pendeta dan para tokoh
agama. Tempat penyembahan itu dipenuhi dengan kambing dan merpati yang
dibeli oleh para pengunjung tempat penyembahan itu. Mereka
menyerahkannya sebagai kurban kepada Allah. Yaitu kurban yang disembelih
di dalam tempat persembahan di atas tempat penyembelihan. Alhasil
setiap langkah yang diayunkan oleh para pejalan di tempat penyembahan
itu akan menghasilkan uang.
Di tempat penyembahan Yahudi itulah tersingkap hakikat kehidupan kaum
Yahudi. Nilai satu-satunya yang disembah oleh manusia di zaman itu
adalah uang. Jadi, kemewahan materi atau kekayaan adalah nilai
satu-satunya yang karenanya manusia akan bergulat satu sama lain. Dalam
hal itu, tidak ada perbedaan antara tokoh-tokoh pembawa ajaran syariat
dengan manusia-manusia biasa. Kaum Shaduqiyun dan kaum Farisiun bekerja
sama di antara mereka di dalam haikal itu seakan-akan mereka di dalam
suatu pasar di mana mereka memanfaatkannya untuk diri mereka dengan
terus mencari kurban-kurban di dalamnya. Seringkali kaum Shaduqiyun dan
Farisiun berseteru dalam persoalan syariat dan hukum. Demikian juga,
mereka berseteru dalam menentukan kurban yang harus mereka raih di
haikal itu. Kaum Farisiun berpendapat bahwa hewan-hewan kurban itu harus
dibeli dari harta haikal sedangkan kaum Shaduqiyun menganggap bahwa
harta dari haikal adalah hak mereka. Oleh karena itu, mereka menganggap
bahwa hewan kurban itu harus dibeli dengan jumlah tersendiri. Begitu
juga kaum Farisiun mewajibkan untuk membakar hewan yang disembelih di
atas tempat penyembahan, sedangkan kaum Shaduqiyun mereka mengambil
hewan sembelihan ini untuk diri mereka sendiri.
Di dalam Talmud disebutkan bahwa kaum Shaduqiyun menjual merpati di
toko-toko mereka yang mereka miliki. Mereka sengaja memperbanyak
kesempatan-kesempatan yang diharuskan di dalamnya untuk mengorbankan
burung-burung merpati sehingga harga seekor burung merpati saja mencapai
beberapa Dinar. Melihat hal itu, salah satu tokoh Farisiun yaitu Sam’an
bin Amlail mengeluarkan fatwa yang intinya mengurangi
kesempatan-kesempatan yang diharuskan di dalamnya seseorang menyerahkan
merpati sebagai kurban. Setelah itu, harga burung cuma mencapai
seperempat Dinar. Pergulatan antara kedua kelompok itu mendatangkan
pukulan berat bagi pemilik toko yang menyimpan burung merpati terutama
anak-anak dari kepala pendeta.
Nabi Isa memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya; Nabi Isa
melihat kaum fakir yang tidak mampu membeli hewan kurban sehingga mereka
tidak mampu berkurban, Nabi Isa melihat bagaimana para pendeta
memperlakukan mereka dan memangsa mereka seperti serigala yang buas.
Nabi Isa berpikir di dalam dirinya, mengapa binatang-binatang itu mereka
bakar lalu dagingnya menjadi asap di udara, padahal di sana terdapat
ribuan kaum fakir yang mati kelaparan? Mengapa mereka mengira bahwa
Allah SWT ridha ketika tempat penyembelihan dilumuri dengan darah, lalu
hewan kurban itu dibawa ke rumah-rumah para pendeta dan toko-toko mereka
untuk dijual? Mengapa orang-orang fakir banyak berhutang dan
mengeluarkan banyak uang untuk membeli binatang-binatang kurban? Mengapa
binatang-binatang kurban itu harus dimiliki dan hanya dirawat oleh para
pendeta lalu apa yang mereka lakukan dengan uang-uang ini? Lalu, di
manakah tempat orang-orang fakir di haikal itu? Bukankah hal yang aneh
ketika seseorang memasuki rumah dengan keharusan membawa uang?
Nabi Isa Mendapat Wahyu
Nabi Isa pergi dari tempat penyembahan itu dan ia meninggalkan
kota menuju gunung. Dada Nabi Isa dipenuhi dengan kecemburuan yang suci
terhadap yang Maha Benar. Wajahnya tampak semakin pucat ketika melihat
berbagai macam kejahatan memenuhi dunia. Nabi Isa berdiri di atas sebuah
bukit dan beliau mulai melakukan salat. Tetesan-tetesan air mata mulai
berlinang dari pipinya dan jatuh ke bumi. Nabi Isa mulai merenung dan
menangis. Di sana terdapat bunga yang nyaris mati karena kehausan lalu
ketika ia mendapatkan tetesan air mata al-Masih, maka bunga itu mekar
kembali dan mendapatkan kehidupan. Tetesan air mata al-Masih
menyelamatkannya, sebagaimana beliau akan menyelamatkan manusia dengan
dakwahnya. Di malam yang penuh berkah ini pula, dua orang Nabi yang
mulia meninggalkan bumi, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Zakaria. Kedua Nabi
itu dibunuh oleh penguasa. Sejak kepergian mereka berdua, bumi
kehilangan banyak dari kebaikan. Pada malam itu juga, turunlah wahyu
kepada Isa bin Maryam. Allah SWT memutuskan perintah-Nya agar ia memulai
dakwahnya.
Nabi Isa menutup lembaran halus dari kehidupannya yaitu lembaran yang
penuh dengan tafakur dan ibadah. Beliau memulai perjalanannya yang
berat dan penuh tantangan serta penderitaan, beliau mulai berdakwah di
jalan Allah SWT, beliau mulai membangun kerajaan yang tegak berdasarkan
kerendahan hati dan cinta. Kerajaan yang penguasanya bertujuan untuk
membebaskan dan menyucikan ruh. Kerajaan yang memancarkan sikap rendah
diri dan cinta. Nabi Isa ingin menyelamatkan ruhani. Ajaran Nabi Isa
berdasarkan keimanan terhadap hari kiamat dan kebangkitan. Nilai-nilai
dan pemikiran tersebut tidak ditemukan dalam kehi-dupan orang-orang
Yahudi.
Syariat Musa menetapkan pemberlakuan hukum qisas, barangsiapa yang
memukulmu di pipi sebelah kananmu, maka pukullah pipi sebelah kanannya.
Lalu bagaimanakah orang-orang Yahudi menerapkan hukum qisas tersebut?
Jika yang dipukul mampu untuk menghancurkan rumah orang yang memukul,
maka ia tidak perlu merasa puas hanya sekadar memukul pipi sebelah
kanannya, namum jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia memukul pipi
sebelah kanannya. Namun boleh jadi hatinya dipenuhi dengan dendam karena
ia tidak dapat menghancurkan rumahnya.
Jadi, kebencian adalah pelabuhan tempat bersinggahnya syariat Musa.
Meskipun beliau adalah seorang Nabi yang merupakan cermin cinta Ilahi
yang besar namun syariatnya kini berada di bawah kekuasaan hati-hati
yang mati, yaitu hati-hati yang penuh dengan dendam dan kebencian. Lalu,
apa yang dilakukan Nabi Isa terhadap semua ini? Allah SWT telah
mengutusnya dan memperkuat Taurat yang dibawa oleh Musa sebagaimana
Allah SWT menurunkannya kepada Musa. Jadi, seorang nabi tidak
menghancurkan tugas nabi sebelumnya. Para nabi bagaikan satu mata rantai
yang tujuannya adalah satu, yaitu menciptakan kesucian dan
mempertahankan kebenaran serta mengesakan Allah SWT.
Kemudian apa yang dilakukan Nabi Isa terhadap syariat qisas tersebut?
Yang jelas, tindakan yang dilakukkan oleh Nabi Isa murni dari ilham
yang didapatnya dari Allah SWT. Nabi Isa mengembalikan kaum kepada
tujuan asli dari syariat. Nabi Isa mengembalikan mereka kepada hikmah
syariat yang asli. Nabi Isa mengembalikan mereka kepada cinta. Nabi Isa
tidak mengatakan sesuatu pun kepada orang yang memukul pipi sebelah
kanannya. Nabi Isa tidak berusaha untuk memukul pipi sebelah kanannya.
Al Masih justru akan membalikkan pipi sebelah kirinya. Inilah syariat
Nabi Isa yang tidak berbeda sedikit pun dengan syariat Nabi Musa. Ia
merupakan kedalaman yang mengagumkan dari kedalaman syariat Nabi Musa.
Nabi Isa ingin menetapkan kepada kaum di sekelilinginya tentang sesuatu
yang penting. Nabi Isa ingin memberitahu mereka bahwa syariat bukan
mengajari kalian untuk meletakkan dendam pada diri kalian lalu kalian
memukul lawan kalian. Syariat yang hakiki adalah, hendaklah kalian
menebar kasih sayang, pemaaf, dan cinta.
Terdapat banyak binatang-binatang buas di hutan. Binatang-binatang
itu mencintai diri mereka sendiri. Mereka bermusuhan dan saling membunuh
demi makanan dan minuman. Mereka memberikan makan kepada anak-anaknya.
Perbedaan antara manusia dan binatang adalah perbedaan pada tingkat
cinta. Hewan tidak akan mampu melampui derajat cintanya kepada makhluk
yang lain. Atau dengan kata lain, hewan tidak dapat membagi cintanya
kepada jenis yang lain. Sedangkan manusia mampu melakukan hal itu. Di
situlah manusia mampu dapat mencapai kemuliaannya dan kemanusiaannya.
Al-Masih memberitahu kaumnya bahwa manusia tidak akan menjadi manusia
sempurna kecuali setelah ia mencintai orang lain sebagaimana ia mendntai
dirinya sendiri.
Dakwah Nabi Isa datang dan menghapus syariat Nabi Musa dalam bentuk
eksternal. Jika kita berusaha membandingkan dua syariat tersebut dalam
bentuk yang sederhana, maka pada hakikat-nya dakwah Nabi Isa bertujuan
untuk menghapus bid’ah yang dilakukan oleh kaum Farisiun dan Shaduqiun
terhadap syariat Nabi Musa dan menunjukkan hakikat syariat ini dan
tujuan-tujuannya yang tinggi. Di tengah-tengah masa materialisme yang
sangat luar biasa dan dunia dipenuhi dengan penyembahan terhadap emas
dan tersebarnya berbagai macam kejahatan, munculah dakwah al-Masih
sebagai reaksi ideal yang menunjukkan ketinggian dan kesucian. Al-Masih
mengetahui bahwa ia mengajak manusia untuk menciptakan perilaku ideal
dalam kehidupan; Al-Masih menyadari bahwa dakwahnya penuh dengan
idealisme tetapi idealisme ini sendiri pada saat yang sama merupakan
solusi satu-satunya untuk mengobati kehidupan dari kesengsaraan dan
penyakit-penyakit menular; Al-Masih mengetahui bahwa tidak semua manusia
tidak mampu untuk mencapai puncak yang diisyaratkannya. Tetapi paling
tidak, hendaklah setiap orang berusaha sedikit mendaki sehingga ia
selamat.
Dakwah Nabi Isa terdiri dari kesujudan yang mengagumkan, dakwah Nabi
Isa bertujuan untuk menyelamatkan ruh atau dakwah yang dapat dianggap
sebagai pedoman perilaku individu, bukan suatu system
perincian-perincian tersebut dan hanya memfokuskan kepada sumber utama,
yaitu ruh. Isa ingin menghidupkan ruhani manusia dan membimbingnya untuk
mencapai cahaya Sang Pencipta. Oleh karena itu, Isa datang dengan
didukung oleh ruhul kudus. Ruhul kudus adalah Jibril. Kita tidak
mengetahui bagaimana Allah SWT memperkuat Isa dengan Ruh Kudus, apakah
Jibril menemaninya dan menyertainya sepanjang pengutusannya? Jibril
turun kepada nabi untuk menyampaikan risalah atau membawa mukjizat atau
justru mendatangkan hukuman atas kaumnya, tetapi ia tidak bersama mereka
sepanjang waktu. Oleh karena itu, apakah memang Jibril menemani Isa
sehingga beliau diangkat ke langit?
Mukjizat Nabi Isa
Hampir saja hati menjadi tenang dengan tafsiran ini karena dalam
kehidupan Nabi Isa terdapat sisi-sisi malaikat di mana beliau mempunyai
kemampuan yang luar biasa yang berupa mukjizat-mukjizat. Bahkan
kemampuan beliau sampai pada batas menghidupkan orang-orang mati dengan
izin Allah SWT. Begitu juga, beliau memiliki kemampuan yang luar biasa
di mana beliau dengan hanya meniupkan pada suatu tanah, maka tanah itu
terbentuk menjadi burung dan ia terbang dengan izin Allah SWT. Selain
itu, Nabi Isa sama sekali tidak mendekati wanita sepanjang hidupnya
sehingga beliau diangkat oleh Allah SWT. Beliau tidak menikah. Ini juga
sifat malaikat di mana kita saksikan bahwa sebagian para nabi yang
diutus oleh Allah SWT dan memiliki beberapa wanita bahkan kitab-kitab
Yahudi menyebutkan bahwa jumlah istri-istri nabi mereka Sulaiman
misalnya, mencapai seribu wanita.
Isa hidup dalam keadaan tenggelam dalam ibadah seperti anak dari
bibinya, yaitu Yahya. Jika Yahya khusuk beribadah dan tinggal di gunung
dan gurun bahkan dia menginap di gua, maka hal itu adalah hal yang alami
baginya, sedangkan Isa hidup justru di tengah-tengah masyarakat kota.
Persoalannya adalah, bukan hanya Isa tidak terkait hubungan dengan
seorang wanita dan bukan hanya mukjizat-mukjizat yang diperolehnya yang
luar biasa yang berhubungan dengan ruh, tetapi yang lebih dari itu
adalah, bahwa beliau didukung oleh ruhul kudus sepanjang masa dakwahnya.
Tentu itu adalah nikmat yang tak seorang pun dari para nabi sebelumnya
diberi. Allah SWT berfirman:“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: ‘Hai
Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu
Aku menguatkan kamu dengan roh kudus. Kamu dapat berbicara dengan
manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah)
di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat, dan Injil, dan
(ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang
berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk
itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah),
waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan
orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu
kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan
seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari
keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara
mereka berkata: ‘Ini tidak lain hanya sehir yang nyata.’ Dan (ingatlah),
ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: ‘Berimanlah
kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.’ Mereka nienjawab: ‘Kami telah beiiman
dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang
yang patuh (kepada seruanmu).’” (QS. al-Maidah: 110-111)
Ayat-ayat tersebut menyebutkan lima mukjizat Nabi Isa. Pertama, bahwa
beliau mampu berbicara dengan manusia saat beliau masih di buaian.
Kedua, beliau diajari Taurat dan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa
telah tersembunyi dan telah mengalami perubahan yang dilakukan oleh
orang-orang cerdik dari kaum Yahudi. Ketiga, beliau membentuk tanah
seperti burung kemudian meniupkannya lalu tanah itu menjadi burung.
Keempat, beliau mampu menghidupkan orang-orang yang mati. Kelima, beliau
mampu menyembuhkan orang yang buta dan orang yang belang. Terdapat
mukjizat yang keenam yang disebutkan dalam Al-Qur’an al-Karim:
“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: ‘Hai Isa putra
Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada
kami?’ Isa menjawab: ‘Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu
orangyang beriman.’ Mereka berkata: ‘Kami ingin memakan hidangan itu dan
supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah
berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan
hidangan itu.’ Isa putra Maryam berdoa: ‘Ya Tuhan kami, turunkanlah
kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan
menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami
dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu: beri
rezekilah kami dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.’ Allah
berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu,
barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan) itu, maka
sesungguhnya Aku ahan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku
timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.’” (QS. al-Maidah:
112-115)
Mukjizat yang keenam itu adalah turunnya makanan dari langit karena
permintaan Hawariyin. Juga terdapat mukjizat yang ketujuh yang terdapat
surah Ali ‘Imran yaitu beliau diberi kemampuan melihat hal-hal yang gaib
melalui panca inderanya meskipun beliau tidak menyaksikannya secara
langsung. Oleh karena itu, beliau memberitahu kepada sahabat-sahabatnya
dan murid-muridnya apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di
rumah-rumah mereka: “Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan
apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu
adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu benar-benar
beriman. ” (QS. Ali ‘Imran:: 49)
Inilah mukjizat Nabi Isa yang ketujuh yang didahului oleh mukjizat
kelahirannya yang sangat mengagumkan. Beliau lahir tanpa seorang ayah,
lalu diikuti mukjizat berikutnya di mana beliau diangkat dari bumi ke
langit ketika penguasa yang lalim berusaha menyalibnya. Barangkali
pembaca akan bertanya-tanya: mengapa mukjizat-mukjizat seperti ini
diperoleh oleh Nabi Isa? Kita mengetahui bahwa mukjizat adalah hal yang
luar biasa yang Allah SWT berikan kepada nabi-Nya. Tetapi pemberian itu
menjadi sempurna jika mukjizat itu disesuaikan dengan keadaan zaman
diutusnya nabi tersebut sehingga mukjizat itu sangat berpengaruh dalam
jiwa kaum dan mampu menggoncangkan hati mereka dan menjadikan mereka
berimana kepada pemilik mukjizat ini. Jadi, mukjizat menjadi suatu hal
yang luar biasa. Oleh karena itu, Allah SWT berkehendak agar mukjizat
ini sesuai dengan zaman diutusnya nabi tersebut.
Jadi, setiap mukjizat yang dibawa oleh rasul selalu berlain-lainan.
Nabi Saleh diutus di tengah-tengah kaum yang melihat bagaimana seekor
unta yang melahirkan dari gunung atau mampu membelah batu-batuan gunung.
Sedangkan Nabi Musa diutus di tengah-tengah kaum yang gemar memainkan
sihir sehingga sihir mendapat tempat istimewa. Oleh karena itu, mukjizat
yang dibawa oleh Nabi Musa bentuk lahirnya seakan-akan menyerupai
sihir, tetapi pada hakikatnya ia justru menjatuhkan sihir. Mukjizat itu
berupa tongkat yang menjadi ular dan kemudian ular itu memakan
tongkat-tongkat para tukang sihir.
Lain halnya dengan Nabi Isa, beliau diutus di tengah-tengah kaum
materialis yang mengingkari ruh dan hari kebangkitan. Mereka menduga
bahwa manusia hanya sekadar tubuh tanpa ruh. Mereka adalah kaum yang
meyakini bahwa darah makhluk adalah ruhnya atau jiwanya. Taurat yang ada
di tangan Yahudi menyebutkan bahwa tafsir an-Nafst adalah darah.
Disebutkan di dalamnya: “Janganlah engkau memakan darah dari tubuh
manusia karena jiwa setiap tubuh adalah darahnya. “
Nabi Isa diutus di tengah-tengah kaum yang mereka disesatkan oleh
falsafah yang dasarnya mengatakan bahwa penciptaan alam memiliki sumber
pertama, seperti sebab dari akibat. Jadi, alam memiliki wujud yang
mendahuluinya. Di tengah-tengah masa yang niaterialis ini, di mana ruh
diingkari, maka secara logis mukjizat Nabi Isa terkait dengan usaha
menunjukkan alam ruhani. Demikianlah Isa dilahirkan tanpa seorang ayah.
Mukjizat ini cukup untuk membungkam kaum yang mengatakan bahwa alam
memiliki sumber pertama. Jelas bahwa alam tidak memiliki wujud yang
mendahuluinya. Kita berada di hadapan Sang Pencipta yang mengadakan
sistem bagi segala sesuatu dan menjadikan sebab bagi segala sesuatu. Dia
menjadikan proses kelahiran anak berasal dari hubungan laki-laki dan
wanita, tetapi Pencipta ini sendiri menciptakan sebab-sebab dan
sebab-sebab itu tunduk kepadanya sedangkan Dia tidak tunduk kepada
sebab-sebab itu. Dengan kehendak-Nya yang bebas, Dia mampu memerintahkan
kelahiran anak tanpa melalui ayah sehingga anak itu lahir.
Dan, kelahiran Isa pun terjadi tanpa seorang ayah. Cukup ditiupkan
ruh kepadanya: “Lalu Kami tiupkan ke dalamnya (tubuhnya) roh dari Kami
dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi
semesta alam. ” (QS. al-Anbiya’: 91)
Kelahiran Isa membawa mukjizat yang luar biasa yang menegaskan dua
hal: pertama, kebebasan kehendak Ilahi dan ketidak terkaitannya dengan
sebab karena Dia adalah Pencipta sebab-sebab, kedua pentingnya ruh dan
menjelaskan kedudukannya serta nilainya di antara kaum yang hanya
mementingkan fisik sehingga mereka mengingkari ruh. Seandainya kita
mengamati sebagian besar mukjizat Nabi Isa, maka kita akan melihatnya
dan mendukung pandangan tersebut. Misalnya, mukjizat Nabi Isa yang mampu
membentuk tanah seperti burung lalu beliau meniupkannya sehingga tanah
itu menjadi burung. Mukjizat ini pun menguatkan adanya ruh. Semula ia
berupa tanah yang bersifat fisik yang tidak dapat disifati dengan
kehidupan tetapi ketika Nabi Isa meniupnya, maka segenggam tanah itu
menjadi burung yang memiliki kehidupan, Sungguh sesuatu yang bukan fisik
masuk ke dalamnya. Sesuatu itu adalah ruh. Ruh itu masuk ke dalam tanah
sehingga ia menjadi burung. Jadi, ruh adalah nilai yang hakiki, bukan
jasad atau fisik. Di samping itu, juga ada mukjizat menghidupkan
orang-orang yang mati. Bukankah ini juga menunjukkan adanya ruh dan
adanya hari akhir atau hari kebangkitan. Orang yang mati telah ditelan
oleh bumi di mana anggota tubuhnya telah hancur berantakan sehingga ia
hampir menjadi tulang-belulang yang hancur lalu al-Masih memanggilnya
dan tiba-tiba dia hidup kembali dan bangkit dari kematiannya.
Seandainya orang yang mati hanya berupa fisik sebagaimana dikatakan
orang-orang Yahudi, maka ia tidak akan mampu bangkit dari kematiannya
karena fisiknya telah hancur tetapi mayit itu mampu bangkit dari
kematian. Jasadnya kembali hidup dan ia bangkit dari kuburannya serta
berbicara. Jadi, ruh adalah nilai yang hakild. bukan fisik atau jasad.
Kalau begitu, di sana terdapat hari kebangkitan dan hari kiamat. Hal ini
bukanlah mustahil sebagaimana yang dikatakan orang-orang Yahudi, karena
setelah kematian jasad menjadi tanah yang berterbangan di udara. Itu
bukan mustahil tetapi mungkin-mungkin saja. Dalil dari hal itu adalah,
kebangkitan orang-orang yang telah mati di hadapan mata kepala mereka
sendiri. Nabi Isa telah menghidupkan mereka agar kaumya yakin bahwa
kiamat fisik akan terjadi dari kematian dan itu adalah benar dan bahwa
hari akhir adalah benar.
Juga terdapat mukjizat yang lain, yaitu beliau mampu memberi tahu
kaumnya tentang apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka, tanpa
terlebih dahulu beliau masuk ke rumah mereka atau dapat bocoran dari
seseorang. Mukjizat ini menetapkan bahwa panca indera bukanlah nilai
yang hakiki. Nabi Isa tidak melihat apa yang ada di rumah mereka tetapi
ruhnya mampu untuk melihat dan berbicara atau memberitahu mereka. Jadi,
ruhani adalah nilai yang hakiki, bukan fisik. Demikianlah
mukjizat-mukjizat Isa datang untuk memberitahukan pentingnya ruh dan
kebebasan kehendak Ilahi. Mukjizat-mukjizat Nabi
Lalu, apakah mukjizat menghidupkan orang-orang yang mati masih
memberikan celah kepada para pengingkar akhirat untuk terus
mengingkarinya atau memberikan ruangan kepada penentang hari kebangkitan
untuk meneruskan penentangannya? Kami telah mengatakan bahwa
orang-orang Yahudi telah diracuni dengan pikiran ketidak percayaan atau
penentangan pada hari akhirat serta tidak beriman kepada hari akhir,
maka menghidupkan orang-orang yang mati yang dibawa atau dikuasai oleh
Isa menjadi suatu pukulan telak bagi mereka yang membuat mereka beriman,
tetapi mereka masih menentang tanda-tanda kebesaran Allah.
Nabi Isa Berdakwah
Nabi Isa menutup lembaran kehidupannya yang lembut dan dan ia
mulai berdakwah di jalan Allah. Beliau didukung oleh ruhul kudus dan
mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Al-Qur’an al-Karim menceritakan
kepada kita bahwa esensi dakwah al-Masih tidak banyak berubah dari
esensi dakwah para nabi sebelumnya, yaitu menyuarakan Islam yang intinya
adalah menebarkan tauhid yang sempurna hanya serta menyerahkan diri
kepada Allah: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian.”
Al-Qur’an memberitahu kita bahwa yang mengatakan kalimat tersebut
adalah Isa. Kalimat tersebut adalah kalimat yang sama yang pernah
disampaikan seluruh nabi, meskipun nama mereka, sifat mereka, mukjizat
mereka, baju mereka, bahasa mereka, usia mereka, bentuk mereka, dan
warna kulit mereka tidak sama. Mereka semua bersepakat untuk menyuarakan
Islam dan hanya menyerahkan diri kepada Allah SWT serta beriman bahwa
Allah SWT adalah Tuhan mereka dan Tuhan alam semesta. Tiada sekutu
bagi-Nya dan tiada yang setara dengan-Nya. Dia Maha Esa yang tidak
beranak dan tidak diperanakkan dan tiada sesuatu pun yang
menyerupai-Nya.
Isa tidak mengatakan persoalan tauhid lebih banyak atau lebih sedikit
dari apa yang pemah disampaikan oleh para nabi. Al-Qur’an datang
kira-kira setelah lima ratus tahun dari pengangkatan Nabi Isa. Allah
SWT, melalui ilmu-Nya yang azali mengetahui apa yang terjadi di
tengah-tengah kaum Masehi di mana mereka berselisih tentang hakikat Isa.
Oleh karena itu, Al-Qur’an al-Karim berusaha menyingkap dialog mereka
yang belum terjadi. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Allah
berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:
‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ Isa menjawab:
‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau
telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku
tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha
Mengetahui perkara yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka
kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu:
‘Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu,’ dan aku menjadi saksi terhadap
mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan
aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan
atas segala sesuatu.’” (QS. al-Maidah: 116-117)
Al-Qur’an secara tegas mengatakan bahwa dakwah al-Masih adalah dakwah
tauhid. Al-Qur’an ingin mengatakan bahwa al-Masih terlepas dari segala
tuduhan yang dialamatkan kepadanya, yaitu tuduhan bahwa ia anak Tuhan
atau ia justru tuhan itu sendiri. “Aku tidak pernah mengatakan kepada
mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya)
yaitu: ‘Sembahluh Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu.”
Nabi Isa pergi berdakwah di jalan Allah SMT. Inti dakwahnya adalah,
bahwa tidak ada perantara antara Pencipta dan makhluk, tidak ada
perantara antara seorang penyembah dan yang disembah. Allah SWT
menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa. Ia adalah kitab suci yang datang
untuk membenarkan Taurat dan berusaha menghidupkan syariatnya yang
pertama. Injil adalah cahaya, petunjuk, dan peringatan bagi orang-orang
yang bertakwa. Nabi Isa ingin meluruskan tafsiran orang-orang Yahudi
terhadap syariat di mana mereka menyampaikan tafsir dari syariat itu
secara harfiah dan sesuai dengan kepentingan mereka. Nabi Isa
menenangkan orang-orang yang yang menjaga syariat bahwa ia tidak datang
untuk menghilangkan syariat, tetapi ia datang untuk menyempurnakannya
dan menyelesaikan tugas para nabi. Namun Isa lebih menekankan pada
penafsiran esensinya, bukan kepada bentuk lahiriahnya.
Nabi Isa memberi pengertian kepada orang-orang Yahudi bahwa sepuluh
wasiat yang dibawa oleh Isa mengandung makna-makna yang lebih dalam dari
apa yang mereka bayangkan. Wasiat yang keenam bukan hanya melarang
pembunuhan materi, sebagaimana yang mereka pahami tetapi juga menyangkut
penindasan dan usaha rnencelakakan orang lain. Sedangkan wasiat yang
ketujuh bukan hanya melarang zina (dalam pengertian terjadinya hubungan
antara laki-laki dengan perempuan melalui cara-cara yang tidak sah),
tetapi zina berarti segala bentuk perbuatan yang menjurus kepada dosa.
Misalnya, ketika mata diarahkan kepada lawan jenis disertai syahwat dan
hasrat seksual, maka itu pun berarti zina. Nabi Isa berkata:
“Sesungguhnya lebih baik bagi manusia untuk menghindarkan matanya dari
sesuatu yang dapat menghancurkannya daripada ia harus hancur dengan mata
itu sendiri. Syariat yang dibawa oleh Isa melarang untuk melanggar
sumpah dan janji Nabi Isa memberi pengertian kepada kaumnya bahwa
hendaklah mereka tidak melakukan sumpah palsu karena merupakan
“kesalahan besar jika nama Allah dibuat main-main di atas mulut-mulut
manusia.” (Injil Mata 21 sampai 48).
Dakwah Nabi Isa juga berbenturan dengan arus materialisme yang sangat
mendominasi masyarakat saat itu. Oleh karena itu, beliau mengingatkan
manusia dari perbuatan munaflk, pamrih, tamak, dan gila pujian. Begitu
juga beliau mengingatkan mereka dari sifat rakus terhadap kekayaan
dunia; beliau mengingatkan agar jangan sampai mereka menimbun harta di
dunia. Yakni, hendak lah mereka tidak memfokuskan perhatian mereka pada
urusan-urusan duniawi semata yang sifatnya tidak abadi. Tetapi hendaklah
rnereka memfokuskan perhatian mereka pada hal-hal yang bersifat samawi
(ukhrawi) karena itu bersifat abadi.
Nabi Isa memberitahu kepada masyarakatnya agar mereka menjadi
orang-orang yang teliti saat memilih gaya hidup mereka karena pada
gilirannya akal mereka akan menjadi cermin darinya. Kecenderungan
manusia itu terkait kuat dengan hatinya. Jika hati tertuju kepada cahaya
langit, maka kehidupan manusia akan tampak bersinar tetapi jika hati
tertuju pada kegelapan dunia, maka kehidupannya pun tampak gelap. Nabi
Isa mengingatkan kaumnya dari sikap pamrih dan cinta dunia. Beliau
mengajak mereka untuk teliti dalam memilih majikan yang mereka mengabdi
kepadanya karena manusia tidak dapat mengabdi kepada dua majikan dalam
satu waktu. Boleh jadi ia akan menjadikan harta sebagai majikannya, atau
boleh jadi ia akan menjadikan Allah SWT sebagai tuannya. Jika ia
menyembah harta, maka berarti ia jauh dari penyembahan terhadap
Tuhannya. Oleh karena itu, hendaklah manusia menjauhi dunia, seperti
makanan dan pakaian di mana mereka akan dikuasai oleh kegelisahan dan
ketidaktenangan serta keraguan tentang penjagaan Allah SWT kepada
mereka. Allah SWT telah berjanji untuk memenuhi kebutuhan
hamba-hamba-Nya dalam kehidupan. Ketika timbul kegelisahan dan keraguan
pada diri mereka, maka itu dikarenakan keraguan mereka terhadap
penjagaan Allah SWT dan ketidakpercayaan mereka kepada janji-janjinya
dan rahmat-Nya serta bimbingan-Nya. Allah SWT-lah yang menciptakan
mereka dan Dia pula yang menjamin kehidupan mereka dan melindungi
mereka. Bahkan Dia juga melindungi makhluk yang paling kecil urusannya
seperti burung di langit dan kumbang-kumbang di kebun.
Nabi Isa memberitahu kaumnya bahwa hanya memperhatikan dunia adalah
hal yang salah, yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang
beragama. Itu adalah sikap para penyembah berhala karena penyembah
berhala tidak mengetahui apa yang lebih baik darinya, sedangkan
orang-orang yang beragama mengetahui bahwa di sana terdapat bimbingan
Ilahi yang mengajak mereka untuk percaya kepada Allah SWT dan tidak
begitu peduli dengan dunia. Allah SWT mengetahui kebutuhan-kebutuhan
mereka lebih daripada apa yang mereka ketahui, Allah SWT akan melindungi
mereka dan akan menjamin kehidupan mereka. Karena itu, yang layak bagi
mereka adalah, hendaklah mereka memohon agar diberi kekuasaan Allah SWT
dan kebaikan dari-Nya. Yakni kehidupan ruhani dan apa yang dikandungnya
dari kebahagiaan abadi.
Di samping itu, Nabi Isa menasihati mereka agar jangan terlalu pusing
dengan kejadian-kejadian yang akan datang dan persoalan-persoalan esok
hari karena esok hari sudah berjalan sebagaimana mestinya. Jika
kebutuhan dan penderitaan datang silih berganti, maka bantuan dan
perlindungan Ilahi pun terus datang silih berganti. Dakwah Nabi Isa juga
berbenturan dengan dualisme yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.
Kita saksikan sebagaimana mereka suka mendapatkan kebaikan yang
ditujukan kepada diri mereka, maka mereka pun biasa untuk melakukan
kejahatan kepada orang-orang lain. Demikianlah, kehidupan orang-orang
Yahudi dicemari sikap dualisme ini. Nabi Isa mewasiatkan kepada manusia
agar mereka memperlakukan sesama mereka sesuai dengan akidah yang
mengatakan: “Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau memperlakukan
dirimu sendiri”
Pertentangan Nabi Isa Dengan Bani Isra’il
Kemudian pertentangan antara Nabi Isa dan Bani Israil semakin
meningkat. Mereka adalah orang-orang yang hatinya keras, yang membeku di
hadapan kebenaran. Isa datang kepada mereka dan menghancurkan segala
pemikiran mereka dan kehidupan mereka serta sistem mereka. Sesungguhnya
dakwah Nabi Isa terfokus kepada kebenaran, kedamaian dan keadilan dan
pada saat yang sama mengumumkan peperangan terhadap kehidupan
orang-orang yang lalim yang telah menjauhi kebenaran. keadilan, dan
kedamaian. Injil Mata menyebutkan melalui lisan Isa: “Jangalah kalian
mengira bahwa aku membawa kedamaian ke muka bumi. Aku tidak datang hanya
membawa kedamaian tetapi aku datang membawa pedang.”
Kalimat tersebut menyiratkan hakikat yang penting dari hakikat dakwah
para nabi. Para nabi adalah pejuang sejati di mana senjata yang mereka
gunakan di medan peperangan beraneka ragam. tetapi mereka pada
hakikatnya adalah pejuang. Mereka memulai peperangan mereka dengan satu
pemikiran yaitu suatu tekad mengatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah
SWT. Pemikiran itu tentu berbenturan dengan kepercayaan akan tuhan-tuhan
yang diyakini oleh manusia, baik tuhan-tuhan yang terbuat dari emas
atau batu. Pemikiran itu sangat mengganggu ketenangan orang-orang yang
lalim atau penguasa yang bengis serta sangat melawan kepentingan mereka,
sehingga para raja dan para penguasa seperti biasanya bergerak
menentang nabi kecuali orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.
Para pembesar dari kalangan kaum nabi menentang nabi. Al-Mala’ adalah
para pembesar sebagaimana telah kami jelaskan dalam kisah Nabi Nuh dan
sesudahnya. Kemudian Nabi terus melangsungkan peperangan mewujudkan
tekadnya: Nabi meletakkan dasar peperangannya dengan menyampaikan
ketuhanan Allah SWT.
Setelah meneguhkan dasar yang kuat ini, Nabi menetapkan keadilan. Tak
seorang pun berhak untuk menghinakan seseorang atau menjadikannya
sebagai budak karena penghambaan hanya pantas ditujukan kepada Allah
SWT. Manusia adalah sama di antara mereka sehingga tidak berhak
seseorang untuk memanfaatkan kekuatan manusia untuk membangun kejayaan
pribadinya atau unruk memperkaya dirinya dengan merugikan orang lain,
atau menghancurkan hak-hak mereka atau berbuat buruk terhadap mereka
dalam berbagai bentuknya. Jadi, inti dakwah para nabi berarti mengganti
dan mengubah sistem yang rusak yang didirikan oleh para pembesar
kaumnya. Kalau begitu, ia adalah dakwah yang menyatakan peperangan dan
karena itu seseorang nabi harus membava senjata. Setelah meneguhkan
pemikiran tersebut, dimulailah peperangan. Seorang nabi menggunakan
pedang. Ia berlindung di balik senjata dan senjata yang dimiliki oleh
setiap nabi berbeda-beda.
Mula-mula seorang nabi tidak menggunakan senjata apa pun dalam
peperangannya selain berusaha untuk membangkitkan akal. Lalu peperangan
semakin meningkat sehingga nabi terpaksa untuk menggunakan senjata. Para
musuh memaksanya untuk menggunakan senjata sehingga para nabi pun
menggunakan senjata. Di sini setiap nabi mempunyai senjata yang
berbeda-beda. Terkadang senjata seorang nabi berupa mukjizat yang dapat
menghentikan langkah dan menghancurkan mereka seperti taufan (kisah Nabi
Nuh) atau angin (kisah Nabi Hud), dan terkadang senjata para nabi
adalah mukjizat yang membantunya untuk mengalahkan musuh-musuhnya secara
pasti seperti ditundukkannya jin dan burung baginya (kisah Nabi
Sulaiman) dan senjata nabi berupa mukjizat yang menyelamatkannya dari
tipu daya musuh seperti berubahnya api menjadi sesuatu yang dingin dan
membawa keselamatan (kisah Nabi Ibrahim) dan terkadang senjata nabi yang
luar biasa yang memperkuat dakwahnya seperti menghidupkan orang-orang
yang mati (kisah Nabi Isa) dan terkadang senjata nabi berupa pedang yang
dipegang di tangannya saat ia melangsungkan peperangan dan
mempertahankan dakwahnya (kisah Nabi Muhammad saw).
Jadi, senjata para nabi berbeda-beda, baik dalam bentuk kualitas
maupun kapasitasnya. Allah SWT mengetahui kondisi mereka lebih dari apa
yang kita ketahui sehingga Allah SWT sangat tepat ketika memilihkan
senjata untuk setiap nabi. Dan tak seorang nabi pun yang tinggal di
suatu tempat sementara ia tidak berjuang dan tidak bergerak dan tidak
mengalami penderitaan dari kaumnya. Oleh karena itu, sesuai dengan kadar
kesabaran para nabi dan perjuangan mereka dalam menyampaikan dakwah di
jalan Allah SWT, mereka layak untuk mendapatkan tempat yang istimewa di
sisi Allah SWT.
Isa bin Maryam telah menyampaikan bahwa beliau adalah seorang pejuang
yang membawa senjata. Kata-katanya sendiri berusaha menghancurkan
masyarakat yang keras, masyarakat yang bodoh. Masyarakat di zaman Nabi
Isa berdiri di atas kesalahan, kesyirikan, kebohongan, kemunafikan,
meterialisme, pamrih, kelaliman dan tidak ada kebebasan. Maka melalui
kalimat-kalimatnya, Nabi Isa menghancurkan semua ini. Nabi Isa
memberitahu kaumnya bahwa dakwahnya di jalan Allah SWT bukan terfokus
pada dakwah kedamaian tetapi dalam hal-hal tertentu dakwahnya pun berisi
pernyataan perang. Sesuatu menjadi tidak bernilai ketika tidak berusaha
dipertahankan oleh yang bersangkutan sampai tetes darah penghabisan.
Timbulnya pemikiran-pemikiran, nilai-nilai dan prinsip-prinsip tidak
hanya bersandar kepada idealismenya tetapi nilainya justru bersandar
kepada usaha keras yang dikerahkan oleh para pembawanya dalam rangka
mempertahankannya. Tanpa peperangan dan mengangkat senjata dakwah para
nabi akan menjadi pemikiran-pemikiran yang sekadar idealisme yang tidak
akan menghentikan seseorang pun dan tidak akan membangkitkan seseorang
pun.
Kita mengetahui bahwa sebagian besar nabi berhadapan dengan kelompok
besar dari masyarakat yang menentangnya dan berusaha memeranginya.
Mula-mula mereka mengejeknya dan pada akhirnya mereka berusaha untuk
membunuhnya. Kita mengetahui bahwa para nabi berusaha mati-matian untuk
memperjuangkan kebenaran yang dibawanya. Melalui kisah para nabi, kita
mengetahui bahwa bagaimana serangan masyarakat, para pembesar, dan para
penguasa terhadap para nabi tetapi pada saat yang sama kita seakan-akan
tidak melihat bagaimana serangan para nabi terhadap mereka. Penjelasan
dari hal itu sangat mudah. Peperangan yang dibangkitkan oleh kebatilan
atas para nabi didukung oleh alat-alat yang canggih dan sangat kuat di
mana mereka memiliki berbagai macam sarana untuk menjatuhkan para nabi,
sedangkan para nabi hanya menyandarkan kekuatan dari yang Maha Benar,
yaitu Allah SWT; kekuatan yang tidak berdasarkan pada sebab-sebab
tertentu atau tidak peduli dengan tuduhan-tuduhan atau kegaduhan.
Para nabi hanya terus melangsungkan dakwahnya yang berdasarkan kepada
usaha membangkitkan akal dan hati serta menvucikan ruh. Keteguhan sikap
para nabi ini bagi musuh-musuh mereka merupakan problem yang besar.
Dakwah nabi juga menjamah suatu keluarga di mana seorang ayah dapat
beriman sementara seorang anak dapat menentang atau seorang anak dapat
beriman sementara si ayah dapat menentang atau seorang istri beriman
atau seorang suami kafir atau seorang suami beriman sementara si istri
kafir. Perbedaan anak laki-laki dengan ayahnya dan seorang istri dengan
suaminya menimbulkan permusuhan di dalam rumah-rumah. Dengan terjadinya
hal ini, masyarakat bergerak untuk menentang nabi dan semakin
meningkatkan tekanan-tekanan mereka kepadanya sehingga permusuhan dan
kebencian mereka kepada nabi semakin meruncing. Mereka pun berusaha
untuk melawan nabi itu yang bagi mereka telah memisahkan antara ayah dan
anaknya atau ia datang untuk memisahkan seorang anak perempuan dari
ibunya.
Kemudian seorang nabi meletakkan suatu undang-undang bagi orang yang
mengikutinya, yaitu undang-undang pokok yang membatalkan undang-undang
yang tidak sesuai dengannya. Undang-undang ini tampak dalam kalimat
nabi: “pertama-tama cinta kepada Allah dan kemudian cinta kepada nabi
dan setelah itu cinta kepada sesama manusia.” Makna-makna yang demikian
ini tercermin secara jelas dari kalimat-kalimat Isa yang disampaikan
oleh Injil Mata pada pasal ke-10.
Al-Masih berkata: “Janganlah engkau mengira bahwa aku datang membawa
kedamaian di bumi, aku datang bukan hanya membawa kedamaian tetapi
pedang. Aku datang untuk menjadikan seorang anak berbeda dengan ayahnya
dan seorang anak perempuan berbeda dengan ibunya sehingga musuh
seseorang justru terdapat pada keluarganya. Maka barangsiapa yang
mencintai ibunya dan ayahnya lebih dari kecintaannya kepadaku, maka ia
tidak berhak mencintaiku, dan barangsiapa yang mencintai anak
laki-lakinya dan perempuannya lebih dariku, maka ia tidak berhak
mengikutiku. Meskipun kehidupannya tampak beruntung sebenarnya ia telah
rugi, dan barangsiapa yang kehidupannya merugi karena aku, maka
sebenarnya ia telah beruntung.”
Penjelas Injil mengatakan: “Pemikiran orang-orang Yahudi tentang
al-Masih adalah, ketika al-Masih datang, maka semua pengikutnya akan
merampas kekayaan dan kejayaan di dunia ini lalu ia hanya memberi mereka
ketenangan dan kedamaian. Ketika al-Masih datang, ia menjelaskan kepada
para muridnya bahwa hal tersebut tidak benar, karena jika ia datang
untuk memberikan kedamaian kepada para pengikutnya, maka mereka akan
terancam kelaliman dan mereka akan mati karena tajamnya pedang. Maka
hendaklah mereka tidak mengharapkan kedamaian tetapi peperangan;
hendaklah mereka tidak mengharapkan keserasian tetapi perpecahan.”
Demikianlah masyarakat Yahudi terbagi menjadi dua kelompok: kelompok
orang-orang yang fakir, orang-orang yang lemah dan orang-orang yang
bersih hatinya bersama Isa, sedangkan kelompok mayoritas menentang Isa.
Bahkan kelompok mayoritas kafir itu sering menyakiti Isa.
Injil Mata menceritakan penderitaan al-Masih pada pasal ke-11. Ia
menceritakan bagaimana kemarahan al-Masih terhadap orang-orang yang
tidak mengabdi kepada Yuhana (Yahya) dengan baik atau mengabdi kepadanya
secara pribadi dengan baik. Injil Mata menguntip pernyataan Isa sebagai
berikut: “Dengan apa aku menyerupakan generasi ini, Sesungguhnya mereka
menyerupai anak-anak kecil yang duduk di pasar yang berteriak-teriak
memanggil teman-teman mereka sambil berkata: “Kami telah meniup seruling
tetapi kalian tidak menari. Kami mengasihi kalian tetapi kalian tidak
menangis.” Yuhana telah datang dan tidak makan dan minum tetapi mereka
mengatakan, sesungguhnya ia terkena setan. lalu datanglah seorang anak
manusia yang makan dan minurn lalu mereka mengatakan, ia adalah seorang
yang ahli makan dan ahli minum khamer.”
Dokumen itu menunjukkan penderitaan al-Masih dan menyingkap
peperangan yang akan dihadapinya. Penderitaan yang dialami oleh hati
suci al-Masih adalah sebagai tindakan generasi tersebut di mana beliau
diutus di dalamnya sebagai orang yang memberi petunjuk dan menyampaikan
berita gembira tentang kerajaan langit. Beliau menyerupakan generasi
Yahudi itu dengan anak-anak kecil yang duduk-duduk di pasar sambil
berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka sambil berkata: “kami
telah meniup seruling tetapi kalian tidak menari. Kami berbelas kasih
kepada kalian tetapi kalian tidak menangis.” Al-Masih mengisyaratkan
dengan pernyataan itu tentang apa yang diperbuat anak-anak kecil saat
mereka bermain-main, di mana biasanya mereka meniru orang-orang yang
besar saat mereka bergembira dengan menari-nari dan saat mereka sedih
mereka menangis. Demikianlah mereka sangat cepat berubah antara
bergembira dan sedih tanpa melalui pertimbangan dan kesadaran.
Demikianlah keadaaan orang-orang Yahudi saat mereka mengabdi kepada
Yahya, kemudian saat mereka mengabdi kepada al-Masih. Yahya telah datang
kepada mereka dalam keadaan menangis, tidak makan dan tidak minum dari
apa yang mereka makan dan yang mereka minum. Ia tidak bergaul dengan
sembarangan manusia. Telah datang kepada mereka seorang nabi yang ahli
ibadah tetapi kebanyakan mereka menolaknya dan mereka mengatakan bahwa
ia terkena setan. Kemudian datang kepada mereka al-Masih di mana ia
makan dan minum bersama pada acara walimah dan hari raya lalu mereka pun
menolaknya dan mengatakan bahwa ia suka makan dan minum khamer padahal
beliau adalah cermin terbesar dalam menghilangkan syahwat dan kesucian
yang sempurna.
Alhasil, generasi itu adalah generasi yang main-main Iayaknya anak
kecil. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mempengaruhi mereka dan mereka
tidak mau bertaubat. Meskipun demikian, di sana terdapat kelompok kecil
dari manusia yang terpengaruh dan bertaubat. Dokumen tersebut
menunjukkan betapa beratnya penderitaan Isa di tengah-tengah generasi
yang sezaman dengannya. Isa mengalami banyak penderitaan dalam
menyampaikan dakwahnya. Isa banyak menderita di tengah-tengah kaum yang
pikiran mereka belum matang. Mereka tak ubahnya seperti anak-anak kecil
yang suka bermain-main. Kaum yang tak tergugah oleh kalimat-kalimat yang
baik dan mereka tidak bergerak atau tersentuh ketika menyaksikan
mukjizat-mukjizat yang luar biasa.
Allah SWT kembali memperkuat Isa dengan mukjizat-mukjizat yang
mengagumkan. Mukjizat di sini adalah senjata yang diberikan Allah SWT
kepada nabi-Nya agar nabi tersebut menjadi tenteram dan agar menambah
keyakinan orang-orang yang beriman kepadanya, sedangkan bagi orang-orang
kafir mukjizat tersebut justru menambah kekufuran mereka sehingga Allah
SWT memberikan pembalasan yang setimpal kepada kedua kelompok tersebut.
Mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Isa bin Maryam yang lain adalah,
Allah SWT mengabulkan doa Hawariyin dengan menurunkan makanan dari
langit. Allah SWT berfirman:
“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: ‘Hai Isa putra
Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada
kami?’ Isa menjawab: ‘Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu
orang yang beriman.’ Mereka berkata: ‘Kami ingin memakan hidangan itu
dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah
berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan
hidangan itu.‘ Isa putra Maryam berdoa: ‘Ya Tuhan kami, turunkanlah
kiranya kepada hami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan
menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami
dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu: beri
rezekilah kami dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.’ Allah
berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu,
barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan) itu, maka
sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku
timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.’” (QS. al-Maidah:
112-115)
Barangkali kita terheran-heran ketika memperhatikan perkataan
Hawariyin, “wahai Isa bin Maryam, apakah Tuhanmu mampu?” Mungkin
pertama-tama yang terlintas dalam pikiran kita berkenaan dalam ayat
tersebut adalah, keraguan Hawariyin terhadap kekuatan atau kekuasaan
Allah SWT. Bagaimana hal itu mampu mereka laku-kan sedangkan mereka
adalah murid-murid Isa yang beriman dan berserah diri kepada Allah SWT?
Berkaitan dengan tafsir ayat tersebut, para ulama berbeda pendapat.
Sebagian ulama mengatakan, bahwa pertanyaan mereka ‘apakah Tuhanmu
mampu?’ Yakni, berarti apakah Tuhanmu bisa? Kemudian mereka mencarikan
alasan yang membenarkan perkataan Hawariyin itu dengan mengatakan bahwa
pertanyaan itu dilontarkan saat mereka baru saja mengikuti Isa, sebelum
mereka banyak mengetahui Allah SWT. Oleh karena itu, Isa berkata dalam
jawabannya terhadap pertanyaan mereka, bertakwalah kepada Allah SWT jika
kamu benar-benar orang mukmin. Yakni, janganlah kalian meragukan
kekuasaan atau kekuatan Allah SWT.
Qurthubi menampik tafsir ini. Hawariyin adalah para penolong Allah
SWT, sesuai dengan nas Al-Qur’an dan tentu tidak boleh bagi penolong
Allah SWT untuk tidak mengetahui kekuatan-Nya, apalagi meragukan
kekuasaan-Nya. Sebagian ulama mengatakan bahwa perkataan tersebut
dikeluarkan orang-orang yang bersama Hawariyin yang berasal dari Bani
Israil dan tidak seorang pun dari Hawariyin yang mengatakan demikian
kecuali mereka hanya sekedar menukil perkataan tersebut. Ada pendapat
lain lagi yang mengatakan bahwa ayat tersebut tidak dibaca ‘hal
yastathi’ rabbuka‘ tetapi dibaca ‘hal tastathi’ rabbaka’ sebagaimana
bacaan Aisyah dan sebagaimana dibaca oleh Nabi. Maknanya, “apakah engkau
mampu menghadirkan kekuatan Tuhanmu terhadap apa yang engkau minta.”
Ada pendapat yang lain mengatakan ia dibaca ‘hal tastathi’ rabbaka’,
yakni “apakah engkau mampu untuk berdoa kepada Tuhanmu atau
meminta-Nya.”
Sebagian kaum sufi berpendapat bahwa kaum Hawariyin bukan tidak
mengetahui kekuasaan Allah SWT tetapi pertanyaan itu justru bersumber
dari cinta kepada Allah SWT dan keinginan menyaksikan kekuasaan Allah
SWT. Sikap mereka ini menyerupai dengan perbedaan tingkatan sikap Nabi
Ibrahim as ketika beliau mengatakan:
“Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan
orang-orang mati?’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim
menjawab: ‘Saya telah percaya, tetapi agar bertambah mantap hatiku.’”
(QS. al-Baqarah: 260)
Oleh karena itu, kaum Hawariyin berkata: “Dan hati kami menjadi
mantap,” sebagaimana Nabi Ibrahim berkata: “Agar bertambah mantap
hatiku.” Inilah tafsir yang membuat kita puas dan membuat hati kita
tenang. Nabi Isa menjawab pertanyaan mereka: ‘Bertakwalah kepada Allah
jika betul-betul kamu orang yang beriman.’ Yakni, hati-hatilah kalian
dengan banyak bertanya dan menguji Allah SWT karena kalian tidak
mengetahui apa yang boleh kalian minta untuk didatangkan bukti-bukti
kekuasaan Allah SWT. Perkataan Nabi Isa, jika kalian benar-benar beriman
terfokus kepada apa yang dibawanya yang berupa mukjizat-mukjizat atau
tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Nabi Isa bermaksud untuk mengatakan,
sesungguhnya apa yang telah aku bawa dari mukjizat-mukjizat bagi kalian
seharusnya sudah cukup membuat hati kalian mantap. “Mereka berkata:
‘Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan
supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami
menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.’”
Kaum Hawariyin menjelaskan kepada Isa sebab pertanyaan mereka ketika
beliau melarangnya. Jika Nabi Isa keluar, maka beliau diikuti lima ribu
orang atau lebih. Sebagian mereka dari kalangan Hawariyin dan sebagian
yang lain campuran di antara pengikutnya dan musuhnya. Dikatakan bahwa
mereka berpuasa dan mereka tidak mempunyai makanan, lalu para pengikut
berkata kepada kaum Hawariyin, “Tanyalah kepada Isa apakah ia mampu
berdoa kepada Tuhannya sehingga diturunkan kepada kita makanan dari
langit.” Kemudian kaum Hawariyin pergi dengan membawa surat kaum itu
kepada Isa. Ketika Isa meminta mereka untuk merasa cukup dengan
mukjizat-mukjizat sebelumnya, mereka kembali melontarkan kebenaran
permintaan mereka: ‘Kami ingin memakan hidangan itu. Mereka adalah
orang-orang yang lapar sementara mereka tidak mempunyai makanan. Dan
supaya tenteram hati kami.
Hati kaum Hawariyin menjadi tenang seperti tenangnya hati Ibrahim.
Dan para pengikut pun merasa hatinya tenang dan mengakui bahwa Isa
adalah Nabi yang diutus untuk mereka. Dan hati musuh juga menjadi tenang
karena mereka menyaksikan kebatilan mereka sehingga pilihan mereka
untuk tidak mengikuti Isa berakibat pada suatu saat mereka akan dimintai
pertanggung jawaban.
“Dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami.
Yakni kami mengetahui bahwa engkau utusan Allah. Dan kami menjadi
orang-orang yang menyaksikan hidangan itu. Yakni, kami menyaksikan
keesaan Allah dan risalah dan kenabianmu. Dan bagi orang lain yang tidak
menyahsikannya, maka kami akan menceritakan kepada mereka peristiwa
yang terjadi.”
Isa putra Maryam berdoa: ‘Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada
kami suatu hidangan dari langit (yang hari turimnya) akan menjadi hari
raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kavii dan yang datang
sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu: beri rezekilah kami
dan Engkaulah Pembeti rezeki Yang Paling Utama.’
Ketika kaum Hawariyin bertanya kepada Isa bin Maram agar diturunkan
makanan dari langit, maka Nabi Isa berdiri dan meletakkan pakaian dari
kulit wol kemudian beliau melangkahkan kakinya dan meletakkan tangan
kanannya di atas tangan kirinya, lalu beliau menundukkan kepalanya dalam
keadaan khusuk dan tunduk kepada Allab SWT. Kemudian beliau membuka
matanya dan menangis sehingga air matanya membasahi jenggotnya bahkan
mencapai dadanya dan berkata: ‘Ya Tuhan kami, turunhanlah kiranya kepada
kami suatu hidangan dari langit… Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku
akan menurunkan hidangan itu kepadamu.
Lalu turunlah makanan besar dari celah dua awan: satu awan di atasnya
satu awan di bawahnya. Saat itu manusia melihatnya. Nabi Isa berkata,
“Ya Allah jadikanlah makanan ini sebagai rahmat dan jangan menjadi
fitnah.” Lalu turunlah di depan Nabi Isa sapu tangan yang menutupinya
kemudian Nabi Isa tersungkur dalam keadaan sujud yang diikuti oleh kaum
Hawariyin. Mereka mendapati suatu bau yang harum yang belum pernah
mereka temukan sebelumnya.
Nabi Isa berkata, “Siapakah di antara kalian yang paling ikhlas dan
paling percaya kepada Allah SWT agar ia membuka makanan itu sehingga
kita bisa makan darinya serta berzikir kepada Allah SWT atasnya serta
bersyukur kepadanya.” Kaum Hawariyin berkata: “Wahai Ruhullah
sesungguhnya engkau lebih berhak daripada kami dalam hal itu.”, maka
Nabi Isa berdiri lalu beliau mengambil wudhu dan salat. Kemudian beliau
banyak berdoa sambil duduk di sisi makanan itu dan membukanya. Tiba-tiba
di atas makanan itu terdapat ikan yang lezat yang tidak ada durinya.
Nabi Isa ditanya: “Wahai Ruhullah, apakah ini makanan dari dunia atau
dari surga?” Nabi Isa menjawab: “Bukankah Tuhan kalian melarang kalian
untuk bertanya pertanyaan semacam ini. Ia turun dari langit dan tidak
ada makanan sepertinya di dunia dan ia bukan berasal dari surga tetapi
ia adalah sesuatu yang Allah SWT ciptakan dengan kekuasaan yang luar
biasa di mana Dia cukup mengatakan “jadilah, maka jadilah.”
Para mufasir berbeda pendapat sekitar bentuk makanan yang diturunkan
kepada Isa, apakah itu ikan atau daging? Apakah roti atau buah-buahan?
Kami memandang bahwa pembahasan-pembahasan ini kurang penting. Sesuatu
yang paling penting yang perlu kita perhatikan adalah apa yang dikatakan
oleh Nabi Isa, Sesungguhnya ia diciptakan oleh Allah SWT dengan
kekuasaan yang mengagumkan di mana Dia cukup mengatakan “Jadilah, maka
jadilah ia.”
Inilah hakikat makanan tersebut. Ia merupakan tanda-tanda kebesaran
Allah SWT yaitu suatu tanda yang Allah SWT mengancam bagi siapa yang
menentangnya Dia akan menyiksanya dengan azab yang belum pernah diterima
oleh seseorang pun di dunia. Para ulama berbeda pendapat apakah makanan
tersebut memang diturunkan atau tidak, tetapi menurut pendapat
mayoritas dan ini yang benar makanan tersebut memang diturunkan, sesuai
dengan firman Allah SWT: “Aku akan menurunkan hidangan itu bagimu. “
Dikatakan bahwa ribuan pengikut Nabi Isa memakannya dan makanan
tersebut tidak habis. Setiap orang yang buta ia sembuh dari butanya dan
setiap orang yang belang ia sembuh dari belangnya akibat memakan
hidangan itu. Alhasil, setelah menyantap makanan itu, orang yang sakit
sembuh dari penyakitnya. Maka hari turunnya makan itu dijadikan hari
raya dari hari raya-hari raya kaum Hawariyin dan para pengikut Nabi Isa.
Kemudian berita dan peristiwa turunnya makanan itu mulai hilang dan
mulai dilupakan sehingga kita tidak menemukan beritanya hari ini di
Injil-Injil yang mereka akui. Setelah peristiwa makanan yang Allah SWT
ceritakan dalam surah al-Maidah, Allah SWT menunjukkan kepada kita sikap
lain dari Nabi Isa bin Maryam. Allah SWT berkata setelah menceritakan
kepada kita tentang turunnya mukjizat makanan dari langit:
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah
kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang
tuhan selain Allah!’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut
bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah
mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang
ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang
gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada rnereka kecuali apa yang Engkau
tiepadaku (mengatakan)nya yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku, dan
Tuhanmu,’ dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di
antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang
mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala
sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah
hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ Allah berfirman: ‘lni
adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran
mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai;
mereka kekal di dalamnya selama-selamanya; Allah ridha terhadap mereka
dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling
besar.’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (QS. al-Maidah:
116-120)
Dengan ayat-ayat tersebut, Al-Qur’an menutup surah al-Maidah.
Demikianlah konteks Al-Qur’an berpindah secara mengejutkan dari turannya
makanan kepada sikap atau dialog antara Allah SWT dan Isa bin Maryam
pada hari kiamat. Allah SWT bertanya pada hari kiamat: ‘Hai Isa putra
Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku
dua orang tuhan selain Allah?’
Para ahli ilmu sepakat bahwa pertanyaan tersebut bukan bersifat
pertanyaan mumi meskipun tampak dalam bentuk pertanyaan karena Allah SWT
mengetahui apa yang dikatakan oleh Isa. Tentu yang dimaksud dengan
pertanyaan itu adalah sesuatu yang lain. Ada yang mengatakan bahwa Allah
SWT bermaksud memberitahu Isa bahwa kaumnya telah mengubah ajarannya
sepeninggalnya. Dan mereka telah mendapatkan fitnah. Ada lagi yang
mengatakan bahwa Allah SWT bermaksud dari pertanyaan itu untuk mencela
orang-orang yang mengubah akidah Nabi Isa setelah beliau tidak ada. Kami
kira pertanyaan tersebut memuat dua makna dan mencakup makna yang lain.
Allah SWT ingin menyingkap dan memberitahu manusia dalam Kitab-Nya
yang terakhir bahwa Nabi Isa terlepas dari berbagai macam tuduhan, dan
apa saja yang dilakukan kaumnya sepeninggalnya. Konteks AI-Qur’an
menunjukkan tentang peristiwa gaib yang belum terjadi meskipun akan
terjadi pada hari kiamat. Oleh karena itu, Al-Qur’an menyampaikannya
dalam bentuk fi’il madhi (kata kerja bentuk lampau). Al-Qur’an
menyampaikan berita gaib ini kepada penduduk dunia agar mereka
mengetahui hakikat Isa bin Maryam.
Allah SWT bertanya kepadanya dan Isa bin Maryam menjawab. Sebagai
nabi besar, Isa tidak menjawab kecuali setelah ia mengatakan: ‘Maha Suci
Engkau ya Allah.’ Sebelum menjawab, Isa memulai dengan tasbih dan
menyucikan Allah SWT. Nabi Isa menampakkan kepatuhan dan ketundukan
kepada kemuliaan Allah SWT dan rasa takut terhadap azab-Nya. Qurthubi
menyampaikan dalam tafsirnya:
“Ketika Allah SWT berkata kepada Isa, apakah engkau berkata kepada
manusia jadikanlah aku dan ibuku tuhan selain Allah, maka Isa tampak
gemetar terhadap perkataan itu sehingga ia mendengar rintihan dari
tulang-tulangnya di dalam jasadnya lalu ia berkata: ‘Maha Suci Engkau,
tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).
Tidak mungkin aku memutuskan sesuatu yang tidak aku miliki, yang diriku
tidak dapat melakukannya. Aku hanya seorang hamba, bukan seorang yang
disembah: Jika aku pernah mengatakannya maha tentulah Enghau telah
mengetahuinya.
Demikianlah Nabi Isa menyampaikan jawabannya kepada Allah SWT dan ia
mengembalikan sesuatu kepada Allah SWT. Dan Allah SWT Maha Mengetahui
terhadap apa yang dikatakannya. Engkau mengetahui apa yang ada pada
diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Yakni,
Engkau mengetahui apa yang aku sembunyikan sedangkan aku tidak
mengetahui apa yang engkau sembunyikan. Engkau mengetahui rahasiaku dan
apa yang terlintas dalam hatiku dan aku tidak mengetahui apa yang Engkau
sembunyikan dari ilmu gaib-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
perkara yang gaib. Hanya Engkau yang tahu terhadap hal-hal yang gaib.
Hanya Engkau yang tahu terhadap apa yang terjadi di tengah-tengah mereka
setelah Engkau angkat aku dari bumi: ‘Aku tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang Engkau kepadaku (mengatakan)nya yaitu:
‘Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu.’
Demikianlah kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Isa bin Maryam. Dia
hanya mengajak manusia untuk hanya menyembah Allah SWT dan tidak
menyekutukan-Nya: Dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku
berada di antara mereka.
Sesungguhnya Engkau mengawasi mereka saat aku tinggal di
tengah-tengah mereka dan mengajak mereka ke jalan yang benar. Maka
setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Al-Wafat
dalam Kitab Allah mempunyai tiga bentuk: Pertama, wafat dalam pengertian
kematian, sebagaimana firman Allah SWT:“Allah memegang jiwa (orang)
ketika matinya.” (QS. az-Zumar: 42)
Yakni ketika tercabutnya ajal. Kedua, bahwa wafat adalah tidur,
sebagaimana firman Allah SWT: “Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam
hari. ” (QS. al-An’am: 60)
Yakni yang menidurkan kalian. Ketiga, wafat berarti pengangkatan,
sebagaimana firman Allah SWT: “Hai Isa, sesungguhnya Aku yang
menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku. ”
(QS. Ali ‘Imran: 55)
Demikianlah Isa terbebas dari apa yang mereka katakan dan apa yang
mereka nisbatkan kepadanya. Isa mengumumkan bahwa dakwahnya tidak lebih
dari sekadar ajakan untuk bertahuid dan tidak keluar dari kerangka Islam
yang diakui oleh pengikutnya. Kemudian Isa kembali menyampaikan
pembicaraannya dan meminta belas kasihan kepada Allah SWT: Jika Engkau
rnenyiksa mereka, makasesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Tidak
seorang pun dari makhluk yang mempunyai kekuasaan di atas-Mu dan tidak
ada Pencipta selain-Mu. Maha Suci Engkau dan tiada sekutu bagi-Mu dalam
kerajaan dan kekuasaan. Pada akhirnya, mereka adalah hamba-Mu dan
seorang hamba tidak memiliki apa-apa di hadapan tuannya kecuali
kepatuhan: Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’
Isa tidak mengatakan jika Engkau mengampuni mereka, maka Engkau Maha
Pengampun dan Maha Pengasih. Jadi, jawaban Isa terfokus pada penyerahan
diri dan kepatuhan serta tunduk kepada kemuliaan Allah SWT dan
kebesaran-Nya. Para pengikut Nabi Isa adalah hamba-hamba Allah SWT yang
patuh. Jika Allah SWT berkehendak, maka Dia akan menyiksa mereka sesuai
dengan siksaan yang layak mereka terima, dan jika Dia berkehendak, maka
Dia akan mengampuni mereka karena Dia mengetahui karena mereka memang
layak untuk mendapatkan ampunan. Dengan penyerahan yang mutlak ini, Isa
menyampaikan jawaban atas pertanyaan Allah SWT dan beliau berlepas diri
dari apa yang dikatakan oleh kaumnya sepeninggalnya. Isa
menyampaikan—pada awal pembicaraannya—bahwa hanya Allah SWT yang patut
disembah, dan pada akhir pembicaraannya Isa menyampaikan penyerahan
dirinya kepada Allah SWT. Allah berfirman: ‘Ini adalah suatu hari yang
bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.
Allah SWT memuji ketulusan Isa, dan karena dialog tersebut terjadi
pada hari kiamat, Allah SWT berfirman: “Hari ini adalah hari kiamat di
mana orang-orang yang benar akan dapat mengambil manfaat dari kebenaran
mereka di dunia. Kebenaran mereka di sana akan mereka temukan balasannya
yang berupa rahmat di sini. “Bagi mereka surga yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-selamanya; Allah
ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. “
Demikianlah balasan orang-orang yang benar, surga. Dan ada balasan
yang lebih baik dari surga, yaitu kepuasan (ridha) seorang hamba
terhadap Allah SWT dan keridhaan Allah SWT terhadap hamba. Pengertian
kepuasaan seorang hamba adalah kegembiraannya terhadap penyembahan
kepada Allah SWT sedangkan pengertian keridhaan Allah SWT terhadap
hamba-Nya adalah rahmat yang diberikan-Nya kepada mereka: Itulah
keberuntungan yang paling besar.’ Setelah itu Allah SWT, memberitahukan
hakikat Isa dan seluruh nabi-Nya: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit
dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu.” Allah SWT adalah Penguasa satu-satunya dan Dia Pencipta
satu-satunya. Selain-Nya adalah hamba.
