Thursday, November 22, 2012

Kisah Nabi Daud AS (داود)









Setelah Bani Isra’il memasuki Palestina dan menguasainya di bawah
pimpinan Yusya bin Nun mereka selalu menjadi sasaran penyerbuan dan
serangan dari bangsa-bangsa sekelilingnya, separti suku Amaliqah dari
bangsa Arab, bangsa Palestina sendiri dan bangsa Aramiyin. Kemenangan
dan kekalahan di antara mereka silih berganti.


Pada suatu waktu datanglah bangsa Palestina penduduk “Usydud” suatu
daerah dekat Gaza menyerbu dan menyerang mereka dan terjadilah
pertempuran yang berakhir dengan kemenangan bangsa Palestinaa yang
berhasil, mencerai-beraikan Bani Israil dan merampas benda keramat
mereka yang bernama “Tabout”, yaitu sebuah peti tempat penyimpanan kitab
Taurat.


Peti yang disebut Tabout itu adalah merupakan salah satu dari banyak
karunia yang telah diberikan oleh Allah kepada Bani Isra’il. Mereka
menganggap Tabout itu suatu benda keramat yang dapat menginspirasikan
kekuatan dan keberanian kepada mereka dikala menghadapi musuh. Maka
karenanya dalam tiap medan perang dibawanyalah Tabout itu untuk memberi
kekuatan batin dan semangat juang bagi mereka memberi rasa berani bagi
mereka dan rasa takut bagi musuh. Maka dengan dirampasnya Tabout itu
oleh bangsa Palestinaa hilanglah pegangan mereka dan berantakanlah
barisannya, retaklah kesatuannya sehingga menjadi laksana binatang
ternak yang ditinggalkan gembalanya.






Dan memang sejak ditinggalkan oleh Nabi Musa, Bani Isra’il tidak
mempunyai seorang raja atau seorang pemimpin yang berwibawa yang dapat
mengikat mereka di bawah satu bendera dan menghimpun mereka di bawah
satu komando bila terjadi serangan dari luar dan penyerbuan oleh musuh.
Mereka hanya dipimpin oleh hakim-hakim penghulu yang memberi tuntunan
kepada mereka dalam bidang keagamaan dan kadangkala menjadi juru damai
jika timbul perselisihan dan sengketa di antara sesama mereka. Di antara
penghulu itu terdapat seorang penghulu yang paling disegani dan di
hormati bernama Somu’il. Kata-katanya selalu didengar dan
nasihat-nasihatnya selalu diterima dan ditaati.


Kepada Somu’il datanglah beberapa pemuda Bani Isra’il yang merasa
sedih melihat keadaan kaumnya menjadi kacau balau dan bercerai berai
setelah dikalahkan oleh bangsa Palestinaa dan dikeluarkan dari negeri
mereka serta dirampasnya Tabout yang merupakan peti wasiat dan benda
keramat bagi mereka. Mereka mengutarakan kepada Samu’il bahwa mereka
memerlukan seorang pemimpin yang kuat yang berwibawa dan mempunyai
kekuasaan sebagai seorang raja untuk menghimpun mereka dan seterusnya
menjadi panglima perang.


Samu’il yang mengenal baik watak mereka dan titik-titik kelemahan
serta sifat-sifat licik dan pembangkang yang meletak pada diri mereka
berkata: “Aku khawatir bahwa kamu akan takut dan enggan bertempur
melawan musuh bila kepadamu diperintahkan untuk berperang menghalau
musuh dari negerimu.” Mereka menjawab: “Bagaimana kami menolak perintah
semacam itu dan enggan maju bertempur melawan musuh sedangkan kami telah
dihina diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari sanak keluarga
kami. Bukankah suatu hal yang memalukan dan menurun darjat kami sebagai
bangsa, bila dalam keadaan yang sedang kami alami ini, kami masih juga
enggan berperang melawan musuh yang datang menyerang dan menyerbu daerah
kami. Kami akan maju dan tidak akan gentar masuk dalam medan perang,
asalkan saja kami akan dapat pimpinan dari seorang yang cakap, berani
serta berwibawa sehingga komandonya dan segala perintahnya akan dipatuhi
oleh kaum kami semuanya.”


Somu’il berkata: “Jika demikian ketetapan hatimu dan demikian pula
keinginanmu untuk memperoleh seorang raja yang akan memimpin dan
membimbing kamu , maka berilah waktu kepadaku untuk beristikharah
memohon pertolongan Allah menunjukkan kepadaku seseorang yang patut dan
layak menjadi raja bagimu.”


Di dalam istikharahnya, Somuil mendapat ilham dan petunjuk dari
Allah, agar ia memilih serta mengangkat seorang yang bernama “Thalout”
menjadi raja Bani Isra’il. Dan walaupun ia belum pernah mendengar nama
itu atau mengenalkan orangnya Allah akan memberinya jalan dan
tanda-tanda yang akan memungkinkan ia bertemu muka dengan orang itu dan
mengenalinya dengan segera.


Thalout adalah seorang berbadan gemuk dan jangkung, tegak, kuat dan
berparas tampan. Dari pancaran kedua matanya orang dapat mengetahui
bahwa ia adalah seorang yang cerdik, cakap dan bijaksana, memiliki hati
yang tabah dan berani. Ia hidup dan bertempat tinggal di sebuah desa
yang agak terpencil sehingga tidak banyak dikenal orang Ia hidup bersama
ayahnya bercucuk tanam dan memelihara hewan ternak. Pada suatu hari di
kala Thalout sedang sibuk bersama ayahnya menguruskan tanah ladangnya
terlepaslah dari kadang seekor keledai dari hewan- hewan peliharaannya
dan menghilang. Pergilah Thalout bersama seorang anak muda mencari
keledai yang hilang itu di celah-celah lembah dan bukit-bukit di sekitar
desanya, namun tidak berhasil menemukan kembali hewan yang terlepas
itu. Akhirnya ia mengajak anak mudanya kembali karena khawatir ayahnya
akan menjadi gelisah bila ia lebih lama meninggalkan rumahnya mencari
keledai yang hilang itu.


Berkata sang anak muda kepada Thalout: “Kami sekarang sudah berada di
daerah Shuf tempat dimana Somu’il berada. Alangkah baiknya kalau kami
pergi kepadanya menanyakan kalau-2 ia dapat memberikan keterangan dan
petunjuk kepada kami di mana kiranya kami dapat menemukan keledai kami
itu. Ia adalah seorang nabi yang menerima petinjuk dari Tuhannya melalui
para malaikat dan dia telah banyak kali mengungkapkan hal-hal ghaib
yang ditanyakan oleh orang kepadanya.” Thalout menerima baik cadangan
anak mudanya dan berangkatlah mereka berdua menuju tempat tinggal
Somu’il. Di tengah-tengah perjalanan, mereka bertanya kepada beberapa
gadis yang ditemuinya sedang menimpa air dari sebuah sungai: “Di manakah
tempat tinggal Nabi Somu’il?”. “Tidak usah kamu cepat-cepat meneruskan
perjalananmu. Somu’il sebentar lagi akan datang ke sini. Ia sedang
ditunggu kedatangannya di atas bukit oleh rakyat tempat itu.” Para gadis
itu menjawab.


Ternyata bahawa belum selesai para gadis itu memberikan
keteranagnnya, muncullah Somu’il dengan wajahnya yang berseri-seri
memancarkan cahaya kenabian dan kealiman yang mengesahkan. Thalout
segera mendekati Somu’il dan setelah saling pandang memandang,
berkatalah Thalout: “Wahai Nabi Allah, kami datang menemui bapak untuk
memohon pertolongan yaitu dapatkah kiranya kami diberi keterangan dan
petunjuk di manakah kami dapat menemukan kembali keledai kami yang telah
terlepas dari kandang dan menghilang tidak kami temukan jejaknya
walaupun sudah tiga hari kami berusaha mencarinya.”


Somu’il setelah memandang wajah Thalout dengan teliti sadarlah ia
bahwa inilah orangnya yang oleh Allah ditunjuk untuk menjadi raja
pemimpin dan penguasa Bani Isra’il. Ia berkata kepada Thalout: “Keledai
yang engaku cari itu sedang berada dalam perjalanan kembali ke
kandangnya di tempat ayahmu. Janganlah engkau pusingkan fikiranmu dengan
urusan keledai itu. Karena aku memang mencarimu dan ingin menemuimu
untuk urusan yang lebih besar dan lebih penting dari soal keledai.
Engkau telah dipilih oleh Allah untuk memimpin Bani Isra’il sebagai
raja, mempersatukan barisan mereka yang sudah kacau-balau serta
membebaskan mereka dari musuh-musuh yang sedang menyerbu dan menduduki
negeri mereka. Dan insya-Allah Tuhan akan menyertaimu memberi
perlindungan kepadamu dan mengaruniakan kemenangan”.


Thalout menjawab: “Bagaimana aku dapat menjadi seorang raja dan
pemimpin Bani Isra’il sedang aku ini seorang dusun anak cucu Benyamin
yang paling papa, terasing dari pengaulan orang ramai, seorang anak tani
dan penggembala hewan yang tidak dikenal orang?”


Berkata Somu’il: “Itu adalah kehendak Allah dan perintah-Nya. Dan
lebih tahu pada siapa Ia meletakkan amanat dan tugas-tugas-Nya. Dialah
yang menugaskan dan Dia pulalah yang akan melengkapi segala
kekuranganmu. Bersyukurlah engkau atas nikmat dan karuniaan Allah ini.
Terimalah tugas suci ini dengan keteguhan hati dan kepercayaan penuh
akan pertolongan dan perlindungan Allah kepadamu.” Kemudian dipeganglah
tangan Thalout, diangkatnya keatas seraya menghadap kepada kaumnya dan
berkata: ” Wahai kaumku, inilah orangnya yang oleh Allah telah dipilih
untuk menjadi rajamu. Ia berkewajiban memimpin kamu dan mengurus segala
urusanmu dengan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya dan kamu
berkewajiban taat kepadanya, mematuhi segala perintahnya dan berdiri
tegak di belakang komandinya. Bersatu padulah kamu di bawah bendera raja
Thalout dan bersiap-siaplah untuk berjuang melawan musuh-musuhmu.”


Bani Isra’il yang sedang berkumpul mengerumuni somu’il mendengarkan
pidato pelantikannya mengangkat Thalout sebagai raja, tercengang dan
terkejut dan dengan mulut ternganga mereka melihat satu kepada yang
lain, berpindahan pandangan mereka dari wajah Somu’il ke wajah thalout
yang menandakan keheranan dan ketidak-puasan dengan pengangkatan itu.
Selintas pun tidak terfikir oleh mereka bahwa seorang separti Thalout
yang papa dan miskin dan tidak dikenal orang ialah yang akan dipilih
oleh Somu’il soal pemilihan dan pengangkatan seorang raja bagi mereka.


Berkata mereka kepada Somu’il: “Bagaimana seorang separti Thalout ini
akan dapat memimpin kami sebagai raja padahal ia seorang yang miskin
yang tidak dikenal orang dan pergaulan sehari-harinya hanya terbatas
didesanya. selain itu ia bukannya dari keturunan “Lawi” yang menurunkan
para nabi Bani Israil, juga bukan dari keturunan “Yahuda” yang
menurunkan raja-raja Bani Isra’il sejak dahulu kala. Ia pun tidak
memiliki pengalaman dan kecakapan yang diperlukan oleh seorang raja
untuk mengurus serta mempertahankan kerajaannya. Mengapa tidak dipilih
saja seorang dari mereka yang berada di kota yang pandai-pandai,
berpengalaman dan berkeadaan cukup?”


berkata Somu’il menanggapi keberatan-2 yang dikemukakan oleh kaumnya:
“Pengurusan kerajaan dan pemimpin perang tidak memerlukan kebangsawanan
atau kekayaan. Ia memerlukan kecakapan, kebijaksanaan, kecerdasan
berfikir dan kecekatan bartindak. sifat-2 itu terdapat dalam dir Thalout
di samping ia memiliki tubuh yang kuat, perawakan tegap dan kekar serta
paras muka yang tampan yang memberi kesan baik bagi orang-orang yang
menghadapinya. Selain itu semuanya, ia adalah pilihan dan tunjukan Allah
Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal hamba-hamba-Nya. Maka tidak
patutlah kami memilih orang lain setelah Allah menjatuhkan pilihan-Nya.”


“Baiklah”, kata mereka, “Jika yang demikian itu pilihan dan kehendak
Allah, maka kami tidak dapat berbuat lain selain meneriam kenyataan ini.
Akan tetapi untuk menghilangkan keragu-raguan kami tentang diri
Thalout, berilah kepada kami suatu tanda yang dapat menyakinkan kami
bahwa Thalout benar-benar pilihan Allah.”

Somu’il menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengetahui watak dan tabiat
kamu yang kaku dan keras kepala. Imanmu tidak berada di dalam hati
tetapi di kelopak mata. Kamu tidak mempercayai sesuatu tanpa bukti yang
dapat kamu rasa dengan panca indera kamu. Maka sebagai bukti bahwa Allah
merestui pengangkatan Thalout menjadi raja kamu, ialah bahawa kamu akan
menemukan kembali peti keramatmu “Tabout” yang telah hilang dan
dirampas oleh bangsa Palestinaa. Kamu akan menemukan itu datang kepadamu
dibawa oleh malaikat. Pergilah kamu keluar kota sekarang juga untuk
menerimanya.”


Setelah ternyata bagi mereka kebenaran kata-kata Somu’il dengan
ditemuinya kembali Tabout yang sudah tujuh bulan berada di tangan
orang-orang Palestina itu, maka diterimalah pengangkatan Thalout sebagai
raja mereka dengan memberikan bai’at kepadanya dan janji akan taat
serta mematuhi segala nasihat dan perintahnya.




Thalout Diangkat Sebagai Raja Bani Isra’il


Tugas pertama yang dilakukan oleh thalout setelah dinobatkan
sebagai raja ialah menyusun kekuatan dengan menghimpunkan para pemuda
dan orang-orang yang masih kuat untuk menjadi tentara yang akan
menghadapi bangsa Palestinaa yang terkenal kuat dan berani. Ia menyusun
bala tentaranya dari orang-orang yang masih kuat, tidak mempunyai
tanggungan keluarga, tidak mempunyai ikatan-2 dagang usaha sehingga
dapat membulatkan tekadnya untuk berjuang dan memusatkan fikiran dan
tenaga bagi mencapai kemenangan dna menghalaukan musuh dari negeri
mereka dengan semangat yang teguh yang tidak tergoyahkan.


Sebagai ujian untuk mengetahui sampai sejauh mana rakyatnya atau
barisan tentaranya yang disusun itu berdisiplin mengikuti komando dan
perintahnya, Thalout berkata mereka: “Kamu dalam perjalananmu di bawah
terik panasnya matahari akan melalui sebuah sungai. Maka barang siapa di
antara kamu minum dari air sungai itu, ia bukan pengikuntuku yang setia
yang dapat kupercayai kesungguhan hatinya dan kebulatan tekadnya.
Sebaliknya barangsiapa di antara kamu yang hanya menciduk air sungai itu
seciduk tangan untuk sekadar membasahi kerongkongannya, maka ia ialah
seorang pengikutku dan tentara yang benar-benar dapat kuandalkan
keberaniannya dan kedisiplinannya.”


Ternyata apa yang dikhawatirkan oleh Thalout telah terjadi dan
menjadi kenyataan. Setiba barisan tentara Thalout di sungai yang
dimaksudkan itu, hanya sebahagian kecil sajalah dari mereka yang
berdisiplin mengikuti petunjuk Thalout secara tepat. Sedang bahagian
yang besar tidak dapat bersabar menahan dahaganya dan minumlah mereka
dari air sungai itu sepuas-puas hatinya.


Walaupun telah terjadi pelanggaran disiplin oleh sebahagian besar
dari anggota tentaranya, thalout tetap berkeras hati melanjuntukan
perjalanannya menuju ke medan perang dg pasukan yang tidak bersatu padu
dan berdisiplin sebagaimana ia menduga dan mengharapkannya. Ia hanya
bersandar dan mengandalkan kekuatan tentaranya kepada bahagian kecil
yang ternyata setia dan patuh kepada perintah dan petunjuknya. Sedang
terhadap mereka yang sudah melanggar perintahnya dan minum dari air
sungai itu, Thalout bersikap sabar, lunak dan bijaksana untuk
menghindari keretakan di dalam barisan tentaranya sebelum menghadapi
musuh.


Tatkala mereka tiba di medan perang dan berhadapan dengan musuh,
sebahagian dari pasukan Thalout ialah mereka yang telah melanggar
disiplin dan minum dari air sungai, merasa kecil hati dan ketakutan
melihat pasukan musuh yang terdiri dari orang-orang kuat dan besar-besar
dengan peralatan yang lebih lengkap dan jumlah tentara yang lebih besar
di bawah pimpinan seorang komandan bernama “Jalout”.


Jalout, panglima komandan pasukan musuh terkenal seorang panglima
yang berani, cakap dan terkenal tidak pernah kalah dalam peperangan.
Tiap orang yang berani bertarung dengan dia pasti jatuh terbunuh.
Namanya telah menimbulkan rasa takut dan kecil hati pada bahagian besar
dari pasukan Thalout. berkata mereka kepadanya: “Kami tidak berdaya dan
tidak akan sanggup menghadapi dan melawan Jalout berserta tentaranya
hari ini. Mereka lebih lengkap peralatannya dan lebih besar bilangannya
daripada pasukan kami.”


Akan tetapi kelompok yang setia yang merupakan golongan yang kecil
dalam pasukan Thalout, tidak merasa takut dan gentar menghadapi Jalout
dan bala tentaranya, walaupun mereka lebih besar dan lebih lengkap
peralatannya karena mereka keluar ke medan perang mengikuti Thalout
dengan tekad yang bulat hendak membebaskan negerinya dari para penyerbu
dengan berbekal tawakkal dan iman kepada Allah. Sejak mereka
melangkahkan kaki keluar dari rumah mereka sudah berniat bulat berjuang
bermati-matian melawan musuh yang telah merampas rumah dan tanah mereka
dan bersedia mati untuk tugas suci itu. Berkata mereka kepada
kawan-kawannya kelompok pengecut itu: “Majulah terus untuk bertempur
melawan musuh. Kami tidak akan kalah karena bilangan yang sedikit atau
karena kelemahan fisik. Kami akan menggondol kemenangan bila iman di
dalam dada kami tidak tergoyahkan dan kepercayaan kami akan pertolongan
Allah tidak menipis. Berapa banyak terjadi sudah, bahwa kelompok yang
kecil jumlahnya mengalahkan kelompok yang besar, bila Allah
mengizinkannya dan memberikan pertolongan-Nya. Dan Allah selalu berada
di sisi orang-orang yang beriman, sabar dan bertawakkal.”


Dengan tidak menghiraukan kasak-kusuk dan bisikan kelompok pengecut
yang ingin mundur dan melarikan diri dari kewajiban berperang, Raja
Thalout terus maju memimpin pasukannya seraya bertawakkal kepada Allah
memohon pertolongan dan perlindungan-Nya. Setelah kedua pasukan merapat
berhadapan satu dengan yang lain dan pertempuran dimulai, keluarlah dari
tengah-2 barisan bangsa Palestinaa, panglima besarnya yang bernama
Jalout berteriak dengan sekuat suaranya menentang pasukan Thalout
mengajak bertarung seorang lawan seorang. Berulang-ulang ia berseru
dengan suara yang lantang agar pihak Thalout mengeluarkan seorang yang
akan melawan dia bertanding dan bertarung namun tidak seorang pun keluar
adri tengah pasukan Bani Isra’il menghadapinya. Kata-kata ejekan dan
hinaan dilontarkan oleh Jalout kepada pihak musuhnya, pasukan Bani
Isra’il yang sedang dicekam oleh rasa takut dan bimbang menghadapi
Jalout yang sudah termasyur sebagai jagoan yang tidak pernah terkalahkan
itu.


Pada saat yang kritis dan tegang itu di mana rasa malu rendah diri
memenuhi dada dan hati para pemimpin pasukan Bani Isra’il yang sedang
memandang satu kepada yang lain, seray bertanya-tanya dalam hati
masing-masing gerangan siapakah di antara mereka yang dapat maju
membungkam ,ulut si Jalout yang berteriak-teriak itu dan melawannya,
datanglah pada saat itu menghadap raja Thalout seorang lelaki remaja
berparas tampan, bertubuh kekar dan tegak, sinar matanya memancarkan
keberanian dan kecerdasan. Ia meminta izin dari sang raja untuk keluar
menyambut tentangan Jalout dan menandinginya.


Thalout merasa kagum akan keberanian pemuda yang telah menawarkan
dirinya untuk bertarung dengan Jalout, sementara orang-orang dari
pasukannya sendiri yang sudah berpengalaman berperang tidak ada yang
tergerak hatinya untuk menyahut cabaran Jalout yang berteriak-teriak
melontarkan ejekan dan hinaan. Thalout dengan cermat memperhatikan
perawakan sang pemuda itu merasa berat dan ragu-ragu untuk memberi izin
kepadanya turun ke gelanggang melawan Jalout. Ia tidak membayangkan
seorang dalam usia semuda itu, yang belum pernah turun ke medan perang
dan tidak berpengalaman bertarung akan selamat dan keluar hidup dari
pertarungan melawan Jalout. Ia benar-benar bukan tandingannya, kata hati
Thalout, bahkan merupakan suatu dosa bila ia melepaskan pemuda itu
bertarung dengan Jalout. Sayang bagi usianya yang masih muda itu bila ia
akan menjadi korban dan makanan pedang Jalout yang tidak pernah memberi
ampun kepada lawan-lawannya.


Sang pemuda dengan memperhatikan roman muka Thalout dapat menangkap
isi hatinya bahwa ia ragu-ragu dan bimbang untuk melepaskannya bertarung
dengan Jalout maka berkatalah ia kepadanya: “Janganlah engkau
terpengaruh oleh usia mudaku dan keadaan fisikku yang menjadikan engkau
ragu-ragu dan khawatir melepaskan aku melawan Jalout karena yang
menentukan dalampertarungan bukanlah hanya kekuatan fisik dan kebesaran
badan akan tetapi yang lebih penting dari itu ialah keteguhan hati dan
keuletan bertempur serta iman dan kepercayaan kepada Allah yang
menentukan hidup matinya seseorang hamba-Nya. beberapa hari yang lalu
aku telah berhasil menangkap seekor singa dan membunuhnya tatkal ia
hendak menyergap dombaku dan sebelum itu terjadi pula aku menghadang
seekor beruang yang ganas dan berhasil membunuhnya setelah bergulat
mati-matian. Maka bukanlah usia atau kekuatan badan yang merupakan
faktor yang menentukan dalam pertempuran tetapi keberanian dan keteguhan
hati serta kelincahan dan kecepatan bergerak dengan disertai
perhitungan yang tepat, itulah merupakan senjata yang lebih ampuh dalam
setiap pertarungan.”


Mendengar kata-kata yang penuh semangat yang keluar dari hati yang
ikhlas dan jujur sadarlah Thalout bahawa pemuda itu berkemauan keras
ingin melawan Jalout. Ia percaya kepada dirinya sendiri bahwa ia dapat
mengalahkannya maka diberinyalah izin dan restu oleh Thalout untuk
melaksanakan kehendaknya dengan diiringi doa semuga Allah melindunginya
dan mengurniainya dengan kemenangan yang diharap-harapkan oleh seluruh
anggota pasukan. Kemudian ia diberinya pedang, topi baja dan zirah baju
besi namun ia enggan mengenakan pakaian yang berat itu dan pedang pun ia
menolak untuk membawanya dengan alasan ia belum biasa menggunakan
senjata itu. Ia hanya membawa sebuah tongkat beberapa batu kerikil dan
sebuah bandul untuk melemparkan batu-batu itu.


Berkatalah Thalout kepadanya: “Bagaimana engkau dapat bertarung
dengan hanya bersenjatakan tongkat, bandul dan batu-batu melawan Jalout
yang bersenjatakan pedang, panah dan berpakaian lengkap?” Pemuda itu
menjawab: “Tuhan yang telah melindungiku dan taring singa dan kuku
beruang akan melindungiku pula dari pedang dan panah Jalout yang durhaka
itu.” Lalu dengan berbekalkan senjata yang sangat sedrhana itu,
keluarlah ia dari tengah-tengah barisan Bani Isra’il menuju gelanggang
di mana Jalout sedang menari-nari mengelu-elukan pedangnya seraya
berteriak-teriak mengejek dan menyombangkan diri.


Tatkala Jalout melihat bahwa yang masuk gelanggang hendak bertanding
dengan dia adalah seorang pemuda remaja tidak bersenjatakan pedang atau
panah dan tidak pula mengenakan topi baja dan zirah, dihinalah ia dan
diejek dengan kata-kata: “Untuk apakah tongkat yang engkau bawa
itu.Untuk mengejar anjingkah atau untuk memukul anak-anak yang sebaya
dengan engkau? Di mana pedangmu dan zirahmu? Rupa-rupanya engkau sudah
bosan hidup dan ingin mati padahal engkau masih muda yang belum
merasakan suka-dukanya kehidupan dan yang masih harus banyak belajar
dari pengalaman. Majulah engkau ke sini akan aku habiskan nyawamudalam
sekelip mata dan akan kujadikan dagingmu makanan yang lazat bagi
binatang-binatang di darat dan burung-burung di udara.”


Sang pemuda menjawab: “Engkau boleh bangga dengan zirah dan topi
bajamu, boleh merasa kuat dan ampuh dengan pedang dan panahmu yang tidak
akan sanggup menyelamatkan nyawamu dan tanganku yang masih halus dan
bersih ini. Aku datang ke sini dengan nama Allah Tuhan Bani Isra’il yang
telah lama engkau hina, engkau jajah dan engkau tundukkan. Engkau
sebentar lagi akan mengetahui pedang dan panahkah yang akan mengakhiri
hayatku atau kehendak Allah dan kekuasaan-Nya yang akan meranggut
nyawamu dan mengirimkan engkau ke neraka Jahannam?”


Melihat Jalout melangkah maju, maka sebelum ia sempat mendekatinya,
sang pemuda segera mengeluarkan batu dari sakunya, melemparkannya dengan
bandul tepat ke arah kepala Jalout yang seketika itu juga mengalirkan
darah dengan derasnya hingga menutupi kedua matanya, lalu diikuti dengan
lemparan batu kedua dan ketiga oleh sang pemuda hingga terjatuhlah
Jalout bertiarap di atas lantai menghembuskan nafas terakhirnya.

Bergemuruhlah suara teriakan gembira dan sorak-sorai dari pihak pasukan
Bani Isra’il menyambut kemenangan pemuda gagah perkasa itu atas Jalout
jaguh dan kebanggaan bangsa Palestinaa. Dan dengan matinya Jalout
hilanglah semangat tempur pasukan Palestinaa dan mundurlah mereka
melarikan diri tunggang-langgang seraya dikejar dan diajar tanpa ampun
oleh pasukan Thalout yang telah memperoleh kembali semangat juangnya dan
harga dirinya.


Isi cerita di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah “Al-Baqarah”
ayat 246 sehingga 251 yang bermaksud : “246 Apakah kamu tidak
memperhatikan pemuka-pemuka Bani Isra’il sesudah Nabi Musa, yaitu ketika
mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami
seorang raja supaya kami dapat berperang (di bawah pimpinannya) di jalan
Allah.” Nabi mereka berkata: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan
berperang, kamu tidak akan berperang`.” Mereka menjawab : “Mengapa kami
tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah
diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala
perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali
beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui akan
orang-orang yang zalim. 247 Nabi mereka mengatakan kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah mengangkat Thalout menjadi rajamu.” Mereka menjawab:
“Bagaimana Thalout memerintah kami padahal kami lebih berhak
mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi
kekayaan yang cukup banyak?” Nabi mereka berkata: “Sesungguhnya Allah
telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan
tubuh yang perkasa.” Allah memberi pemerintahan kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
248 Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia
akan menjadi raja ialah kembalinya tabout kepadamu di dalamnya terdapat
ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan
keluarga Harun tabout itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda bagimu jika kamu orang yang beriman. 249
Maka tatkala Thalout ke luar membawa tentaranya ia berkata:
“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan satu sungai. Maka siapa di
antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikuntuku. Dan barangsiapa
tidak merasakan airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk tangan,
maka ia adalah pengikuntuku.” Kemudian mereka meminumnnya terkecuali
beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalout dan orang-orang
yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang
telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk
melawan Jalout dan tentaranya.” Orang-orang yang menyakini bahwa mereka
akan menemui jalan Allah berkata: “Berpa banyak terjadi golongan yang
sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan
Allah berserta orang-orang yang sabar. 250 tatkala Jalout dan tentaranya
telah nampak oleh mereka, mereka pun berdoa: “Ya Tuhan kami,
tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kukuhkanlah pendirian kami dan
tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” 251 Mereka (tentara Thalout)
mengalahkan tentara Jalout dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu)
Daud membunuh Jalout, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud)
pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalkan Thalout) serta Allah
mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.” ( Al-Baqarah : 246 251 )


Pemuda itu adalah Daud bin Yisya adalah salah seorang dari tiga belas
bersaudara turunan ketiga belas dari Nabi Ibrahim a.s. Ia tinggal
bermukim di kota Baitlehem, kota kelahiran Nabi Isa a.s. bersama ayah
dan tiga belas saudaranya.




Nabi Daud Menjadi Penasehat Raja


Sebagai imbalan bagi jasa Daud mengalahkan Jalout maka dijadikan
menantu oleh Thalout dan dikawinkannya dengan puterinya yang bernama
Mikyal, sesuai dengan janji yang telah diumumkan kepada pasukannya bahwa
puterinya akan dikawinkan dengan orang yang dapat bertempur melawan
Jalout dan mengalahkannya. Di samping ia dipungut sebagai menantu, Daud
diangkat pula oleh raja Thalout sebagai penasihatnya dan orang
kepercayaannya. Ia disayang, disanjung dan dihormati serta disegani
bukan saja oleh mertuanya bahkan oleh seluruh rakyat Bani Isra’il yang
melihatnya sebagai pahlawan bangsa yang telah berhasil mengangkat
keturunan serta darjat Bani Isra’il di mata bangsa-2 sekelilingnya.


Suasana keakraban, saling sayang dan saling cinta yang meliputi
hubungan sang menantu Daud dengan sang mertua Thalout tidak dapat
bertahan lama. Pada akhir waktunya Daud merasa bahwa ada perubahan dalam
sikap mertuanya terhadap dirinya. Muka manis yang biasa ia dapat dari
mertuanya berbalik menjadi muram dan kaku, kata-katanya yang biasa
didengar lemah-lembut berubah menjadi kata-kata yang kasar dan keras.
Bertanya ia kepada diri sendiri gerangan apakah kiranya yang menyebabkan
perubahan sikap yang mendadak itu? Adakah hal-hal yang dilakukan yang
dianggap oleh mertuanya kurang layak, sehingga menjadikan ia marah dan
benci kepadanya? Ataukah mungkin hati mertuanya termakan oleh hasutan
dan fitnahan orang yang sengaja ingin merusakkan suasana harmoni dan
damai di dalam rumah tangganya? Bukankah ia seorang menantu yang setia
dan taat kepada mertuanta yang telah memenuhi tugasnya dalam perang
sebaik yang oa harapkan? dan bukankah ia selalu tetap bersedia
mengorbankan jiwa raganya untuk membela dan mempertahankan kekekalan
kerajaan mertuanya?


Daud tidak mendapat jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-
pertanyaan yang melintasi fikirannya itu. Ia kemudian kembali kepada
dirinya sendiri dan berkata dalam hatinya mungkin apa yang ia lihat
sebagai perubahan sikap dan perlakuan dari mertuannya itu hanya suatu
dugaan dan prasangka belaka dari pihaknya dan kalau pun memang ada maka
mungkin disebabkan oleh urusan dan masalah pribadi dari mertua yang
tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya sebagai menantu. demikianlah
dia mencoba menenangkan hati dan fikirannya yang masygul yang berfikir
selanjutnya tidak akan mempedulikan dan mengambil kisah tentang sikap
dan tindak-tanduk mertuanya lebih jauh.


Pada suatu malam gelap yang sunyi senyap, ketika ia berada di tempat
tidur bersam isterinya Mikyal. Daud berkata kepada isterinya: “Wahai
Mikyal, entah benarkah aku atau salah dalam tanggapanku dan apakah
khayal dan dugaan hatiku belaka atau sesuatu kenyataan apa yang aku
lihat dalam sikap ayahmu terhadap diriku? Aku melihat akhir ini ada
perubahan sikap dari ayahmu terhadap diriku. Ia selalu menghadapi aku
dengan muka muram dan kaku tidak seperti biasanya. Kata-katanya kepadaku
tidak selamah lembut seperti dulu. Dari pancaran pandangannya kepadaku
aku melihat tanda-2 antipati dan benci kepadaku. Ia selalu menggelakkan
diri dari duduk bersama aku bercakap-cakap dan berbincang-bincang
sebagaimana dahulu ia lakukan bila ia melihatku berada di sekitarnya.”


Mikyal menjawab seraya menghela nafas panjang dan mengusap air mata
yang terjatuh di atas pipinya: “Wahai Daud aku tidak akan menyembunyikan
sesuatu daripadamu dan sesekali tidak akan merahasiakan hal-hal yang
sepatutnya engkau ketahui. Sesungguhnya sejak ayahku melihat bahawa
keturunanmu makin naik di mata rakyat dan namamu menjadi buah mulut yang
disanjung-sanjung sebagai pahlawan dan penyelamat bangsa, ia merasa iri
hati dan khawatir bila pengaruhmu di kalangan rakyat makin meluas dan
kecintaan mereka kepadamu makin bertambah, hal itu akan dapat melemahkan
kekuasaannya dan bahkan mungkin mengganggu kewibawaan kerajaannya.
Ayahku walau ia seorang mukmin berilmu dan bukan dari keturunan raja
menikmati kehidupan yang mewah, menduduki yang empuk dan merasakan
manisnya berkuasa. Orang mengiakan kata-katanya, melaksanakan segala
perintahnya dan membungkukkan diri jika menghadapinya. Ia khawatir akan
kehilangan itu semua dan kembali ke tanah ladangnya dan usaha ternaknya
di desa. Karenanya ia tidak menyukai orang menonjol yang dihormati dan
disegani rakyat apalagi dipuja-puja dan dianggapnya pahlawan bangsa
seperti engkau. Ia khawatir bahawa engkau kadangdapat merenggut
kedudukan dan mahkotanya dan menjadikan dia terpaksa kembali ke cara
hidupnya yang lama sebagaimana tiap raja meragukan kesetiaan tiap orang
dan berburuk sangka terhadap tindakan orang bila ia belum mengerti apa
yang dituju dengan tindakan itu.”


“Wahai Daud”, Mikyal meneruskan ceritanya, “Aku mendapat tahu bahawa
ayahku sedang memikirkan suatu rencana untuk menyingkirkan engkau dan
mengikis habis pengaruhmu di kalangan rakyat dan walaupun aku masih
merayukan kebenaran berita itu, aku rasa tidak ada salahnya jika engkau
dari sekarang berlaku waspada dan hati-hati terhadap kemungkinan terjadi
hal-hal yang malang bagi dirimu.”


Daud merasa heran kata-kata isterinya itu lalu ia bertanya kepada
dirinya sendiri dan kepada isterinya: “Mengapa terjadi hal yang
sedemikian itu? Mengapa kesetiaku diragukan oleh ayah mu, padahal aku
dengan jujur dan ikhlas hati berjuang di bawah benderanya, menegakkan
kebenaran dan memerangi kebathilan serta mengusir musuh ayahmu, Thalout
telah kemasukan godaan Iblis yang telah menghilangkan akal sehatnya
serta mengaburkan jalan fikirannya?” Kemudian tertidurlah Daud selesai
mengucapkan kata-kata itu.


Pada esok harinya Daud terbangun oleh suara seorang pesuruh Raja yang
menyampaikan panggilan dan perintah kepadanya untuk segera datang
menghadap. Berkata sang raja kepada Daud yang berdiri tegak di
hadapannya: “Hai Daud fikiranku kebelakang ini sangat terganggu oleh
sebuah berita yang memusingkan. Aku mendengar bahwa bangsa Kan’aan
sedang menyusun kekuatannya dan mengerahkan rakyatnya untuk datang
menyerang dan menyerbu daerah kita. Engkaulah harapan ku satu-satunya,
hai Daud yang akan dapat menanganu urusan ini maka ambillah pedangmu dan
siapkanlah peralatan perangmu pilihlah orang-orang yang engkau percayai
di antara tentaramu dan pergilah serbu mereka di rumahnya sebelum
sebelum mereka sempat datang kemari. Janganlah engkau kembali dari medan
perang kecuali dengan membawa bendera kemenangan atau dengan jenazahmu
dibawa di atas bahu orang-orangmu.”


Thalout hendak mencapi dua tujuan sekaligus dengan siasatnya ini, ia
handak menghancurkan musuh yang selalu mengancam negerinya dan bersamaan
dengan itu mengusir Daud dari atas buminya karena hampir dapat
memastikan kepada dirinya bahwa Daud tidak akan kembali selamat dan
pulang hidup dari medan perang kali ini.

Siasat yang mengandungi niat jahat dan tipu daya Thalout itu bukan tidak
diketahui oleh Daud. Ia merasa ada udang dibalik batu dalam perintah
Thalout itu kepadanya, namun ia sebagai rakyat yang setia dan anggota
tentara yang berdisiplin ia menerima dan melaksanakan perintah itu
dengan sebaik-baiknya tanpa mempedulikan atau memperhitungkan akibat
yang akan menimpa dirinya.


Dengan bertawakkal kepada Allah berpasrah diri kepada takdir-Nya dan
berbekal iman dan talwa di dalam hatinya berangkatlah Daud berserta
pasukannya menuju daerah bangsa Kan’aan. Ia tidak luput dari lindungan
Allah yang memang telah menyuratkan dalam takdir-Nya mengutuskan Daud
sebagai Nabi dan Rasul. Maka kembalilah Daud ke kampung halamannya
berserta pasukannya dengan membawa kemenangan gemilang.


Kedatangan Daud kembali dengan membawa kemenangan diterima oleh
Thalout dengan senyum dan tanda gembira yang dipaksakan oleh dirinya. Ia
berpura-pura menyambut Daud dengan penghormatan yang besar dan
puji-pujian yang berlebih-lebihan namun dalam dadanya makin
menyala-nyala api dendam dan kebenciannya, apalagi disadarinya bahwa
dengan berhasilnya Daud menggondol kemenangan, pengaruhnya di mata
rakyat makin naik dan makin dicintainyalah ia oleh Bani Isra’il sehingga
di mana saja orang berkumpul tidak lain yang dipercakapkan hanyalah
tentang diri Daud, keberaniannya, kecekapannya memimpin pasukan dan
kemahirannya menyusun strategi dengan sifat-sifat mana ia dapat
mengalahkan bangsa Kan’aan dan membawa kembali ke rumah kemenangan yang
menjadi kebanggaan seluruh bangsa.


Gagalah siasat Thalout menyingkirkan Daud dengan meminjam tangan
orang-orang Kan’aan. Ia kecewa tidak melihat jenazah Daud diusung oleh
orang-orang nya yang kembali dari medan perang sebagaimana yang ia
harapkan dan ramalkan, tetapi ia melihat Daud dalam keadaan segar-bugar
gagah perkasa berada di hadapan pasukannya menerima elu-elukan rakyat
dan sorak-sorainya tanda cinta kasih sayang mereka kepadanya sebagai
pahlawan bangsa yang tidak terkalahkan.


Thalout yang dibayang rasa takut akan kehilangan kekuasaan melihat
makin meluasnya pengaruh Daud, terutama sejak kembalinya dari perang
dengan bangsa Kan’aan, berfikir jalan satu-satunya yang akan
menyelamatkan dia dari ancaman Daud ialah membunuhnya secara langsung.
Lalu diaturlah rencana pembunuhannya sedemikian cermatnya sehingga tidak
akan menyeret namanya terbawa-bawa ke dalamnya. Mikyal, isteri Daud
yang dapat mencium rancangan jahat ayahnya itu, segera memberitahu
kepada suaminya, agar ia segera menjauhkan diri dan meninggalkan kota
secepat mungkin sebelum rancangan jahat itu sempat dilaksanakan . Maka
keluarlah Daud memenuhi anjuran isterinya yang setia itu meninggalkan
kota diwaktu malam gelap dengan tiada membawa bekal kecuali iman di dada
dan kepercayaan yang teguh yang akan inayahnya Allah dan rahmat-Nya.


Setelah berita menghilangnya Daud dari istana Raja diketahui oleh
umum, berbondong-bondonglah menyusul saudara- saudaranya, murid-
muridnya dari para pengikutnya mencari jejaknya untuk menyampaikan
kepadanya rasa setia kawan mereka serta menawarkan bantuan dan
pertolongan yang mungkin diperlukannya. Mereka menemui Daud sudah agak
jauh dari kota, ia lagi istirahat seraya merenungkan nasib yang ia alami
sebgai akibat dari perbuatan seorang hamba Allah yang tidak mengenal
budi baik sesamanya dan yang selalu memperturutkan hawa nafsunya sekadar
untuk mempertahankan kekuasaan duniawinya. Hamba Allah itu tidak sadar,
fikir Daud bahwa kenikmatan dan kekuasaan duniawi yang ia miliki adalah
pemberian Allah yang sewaktu-waktu dapat dicabut-Nya kembali
daripadanya.




Nabi Daud Dinobatkan Menjadi Raja


Raja Thalout makin lama makin berkurang pengaruhnya dan merosot
kewibawaannya sejak ia ditingglkan oleh Daud dan diketahui oleh rakyat
rancangan jahatnya terhadap orang yang telah berjasa membawa kemenangan
demi kemenangan bagi negara dan bangsanya. Dan sejauh penghargaan
rakyat terhadap Thalout merosot, sejauh itu pula cinta kasih mereka
kepada Daud makin meningkat, sehingga banyak diantara mereka yang lari
mengikuti Daud dan menggabungkan diri ke dalam barisannya, hal mana
menjadikan Thalout kehilangan akal dan tidak dapat menguasai dirinya.
Ia lalu menjalankan siasat tangan besi, menghunus pedang dan membunuh
siapa saja yang ia ragukan kesetiaannya, tidak terkecuali di antara
korban- korbannya terdapat para ulama dan para pemuka rakyat.


Thalout yang mengetahui bahawa Daud yang merupakan satu-satunya
saingan baginya masih hidup yang mungkin sekali akan menuntut balas atas
pengkhianatan dan rancangan jahatnya, merasakan tidak dapat tidur
nyenyak dan hidup tenteram di istananya sebelum ia melihatnya mati
terbunuh. Karenanya ia mengambil keputusan untuk mengejar Daud di mana
pun ia berada, dengan sisa pasukan tentaranya yang sudah goyah
disiplinnya dan kesetiaannya kepada Istana. Ia fikir harus cepat-cepat
membinasakan Daud dan para pengikutnya sebelum mereka menjadi kuat dan
bertambah banyak pengikutnya.


Daud bersert para pengikutnya pergi bersembunyi di sebuah tempat
persembunyian tatkala mendengar bahwa Thalout dengan laskarnya sedang
mengejarnya dan sedang berada Tidak jauh dari tempat persembunyiannya.
Ia menyuruh beberapa orang dari para pengikutnya untuk melihat dan
mengamat-amati kedudukan Thalout yang sudah berada dekat dari tempat
mereka bersembunyi. Mereka kembali memberitahukan kepada Daud bahawa
Thalout dan laskarnya sudah berada di sebuah lembah dekat dengan tempat
mereka dan sedang tertidur semuanya dengan nyenyak. Mereka berseru
kepada Daud jangan menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini untuk memberi
pukulan yang memastikan kepada Thalout dan laskarnya. Anjuran mereka
ditolak oleh Daud dan ia buat sementara merasa cukup sebagai peringatan
pertama bagi Thalout menggunting saja sudut bajunya selagi ia nyenyak
dalam tidurnya.


Setelah Thalout terbangun dari tidurnya, dihampirilah ia oleh Daud
yang seraya menunjukkan potongan yang digunting dari sudut bajunya
berkatalah ia kepadanya: “Lihatlah pakaian bajumu yang telah aku
gunting sewaktu engkau tidur nyenyak. Sekiranya aku mau niscaya aku
dengan mudah telah membunuhmu dan menceraikan kepalamu dari tubuhmu,
namun aku masih ingin memberi kesempatan kepadamu untuk bertaubat dan
ingat kepada Tuhan serta membersihkan hati dan fikiranmu dari
sifat-sifat dengki, hasut dan buruk sangka yang engkau jadikan dalih
untuk membunuh orang sesuka hatimu.”



Thalout tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya bercampur malu yang
nampak jelas pada wajahnya yang pucat. Ia berkata menjawab Daud: “Sungguh
engkau adalah lebih adil dan lebih baik hati daripadaku. Engkau
benar-benar telah menunjukkan jiwa besar dan perangai yang luhur. Aku
harus mengakui hal itu.”



Peringatan yang diberikan oleh Daud belum dapat menyadarkan Thalout.
Hasratnya yang keras untuk mempertahankan kedudukannya yang sudah lapuk
itu menjadikan ia lupa peringatan yang ia terima dari Daud tatkala
digunting sudut bajunya. Ia tetap melihat Daud sebagai musuh yang akan
menghancurkan kerajaannya dan mengambil alih mahkotanya. Ia merasa belum
aman selama masih hidup dikelilingi oleh para pengikutnya yang makin
lama makin membesar bilangannya. Ia enggan menarik pengajaran dan
peristiwa penguntingan bajunya dan mencoba sekali lagi membawa laskarnya
mengejar dan mencari Daud untuk menangkapnya hidup atau mati.


Sampailah berita pengejaran Thalout ke telinga Daud buat kali
keduanya, maka dikirimlah pengintai oleh Daud untuk mengetahui dimana
tempat laskar Thalout berkemah. Di ketemukan sekali lagi mereka sedang
berada disebuah bukit tertidur dengan nyenyaknya karena payah kecapaian.
Dengan melangkah beberapa anggota pasukan yang lagi tidur, sampailah
Daud di tempat Thalout yang lagi mendengkur dalam tidurnya,
diambilnyalah anak panah yang tertancap di sebelah kanan kepala Thalout
beserta sebuah kendi air yang terletak disebelah kirinya. Kemudian dari
atas bukit berserulah Daud sekeras suaranya kepada anggota pasukan
Thalout agar mereka bangun dari tidurnya dan menjaga baik-baik
keselamatan rajanya yang nyaris terbunuh karena kelalaian mereka. Ia
mengundang salah seorang dari anggota pasukan untuk datang mengambil
kembali anak panah dan kendi air kepunyaan raja yang telah dicuri dari
sisinya tanpa seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.


Tindakan Daud itu yang dimaksudkan sebagai peringatan kali kedua
kepada Thalout bahwa pasukan pengawal yang besar yang mengelilinginya
tidak akan dapat menyelamatkan nyawanya bila Allah menghendaki
merenggutnya. Daud memberi dua kali peringatan kepada Thalout bukan
dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan yang nyata yang menjadikan ia
merasa ngeri membayangkan kesudahan hayatnya andaikan Daud menuntut
balas atas apa yang ia telah lakukan dan rancangkan untuk pembunuhannya.


Jiwa besar yang telah ditunjukkan oleh daud dalam kedua peristiwa itu
telah sangat berkesan dalam lubuk hati Thalout. Ia terbangun dari
lamunannya dan sadar bahawa ia telah jauh tersesat dalam sikapnya
terhadap Daud. Ia sadar bahawa nafsu angkara murka dan bisikan iblislah
yang mendorongkan dia merancangkan pembunuhan atas diri Daud yang tidak
berdosa, yang setia kepada kerajaannya, yang berkali-kali
mempertaruhkan jiwanya untuk kepentingan bangsa dan negerinya, tidak
pernah berbuat khianat atau melalaikan tugas dan kewajibannya. Ia sadar
bahawa ia telah berbuat dosa besar dengan pembunuhan yang telah
dilakukan atas beberapa pemuka agama hanya karena buruk sangka yang
tidak berdasar.


Thalout duduk seorang diri termenung membalik-balik lembaran sejarah
hidupnya, sejak berada di desa bersama ayahnya, kemudian tanpa diduga
dan disangka, berkat rahmat dan karunia Allah diangkatlah ia menjadi
raja Bani Isra’il dan bagaimana Tuhan telah mengutuskan Daud untuk
mendampinginya dan menjadi pembantunya yang setia dan komandan
pasukannya yang gagah perkasa yang sepatutnya atas jasa-jasanya itu ia
mendapat penghargaan yang setinggi-tingginya dan bukan sebagaimana ia
telah lakukan yang telah merancangkan pembunuhannya dan
mengejar-gejarnya setelah ia melarikan diri dari istana. Dan walaupun ia
telah mengkhianati Daud dengan rancangan jahatnya, Daud masih berkenan
memberi ampun kepadanya dalam dua kesempatan di mana ia dengan mudah
membunuhnya andaikan dia mau.


Membayangkan peristiwa itu semunya menjadi sesaklah dada Thalout
menyesalkan diri yang telah terjerumus oleh hawa nafsu dan godaan Iblis
sehingga ia menyia-nyiakan karunia dan rahmat Allah dengan
tindakan-tindakan yang bahkan membawa dosa dan murka Allah. Maka untuk
menebuskan dosa-dosanya dan bertaubat kepada Allah, Thalout akhirnya
mengambil keputusan keluar dari kota melepaskan mahkotanya dan
meninggalkan istananya berserta segala kebesaran dan kemegahannya lalu
pergilah ia berkelana dan mengembara di atas bumi Allah sampai tiba
saatnya ia mendapat panggilan meninggalkan dunia yang fana ini menuju
alam yang baka.


Syahdan, setelah istana kerajaan Bani Isra’il ditinggalkan oleh
Thalout yang pergi tanpa meninggalkan bekas, beramai-ramailah rakyat
mengangkat dan menobatkan Daud sebagai raja yang berkuasa.






Nabi Daud Ditegur Allah SWT


Daud dapat menangani urusan pemerintahan dan kerajaan, mengadakan
peraturan dan menentukan bagi dirinya hari-hari khusus untuk melakukan
ibadah dan bermunajat kepada Allah, hari-hari untuk peradilan,
hari-hari untuk berdakwah dan memberi penerangan kepada rakyat dan
hari-hari menyelesaikan urusan-urusan pribadinya. Pada hari-hari yang
ditentukan untuk beribadah dan menguruskan urusan peribadahan, ia tidak
diperkenankan seorang pun menemuinya dan mengganggu dalam khalawatnya,
sedang pada hari-hari yang ditentukan untuk peradilan maka ia
menyiapkan diri untuk menerima segala laporan dan keluhan yang
dikemukan oleh rakyatnya serta menyelesaikan segala pertikaian dan
perkelahian yang terjadi diantara sesama mereka. Peraturan itu diikuti
secara teliti dan diterapkan secara ketat oleh para pengawal dan
petugas keamanan istana.


Pada suatu hari di mana ia harus menutup diri untuk beribadah dan
berkhalwat datanglah dua orang lelaki meminta izin dari para pengawal
untuk masuk bagi menemui raja. Izin tidak diberikan oleh para pengawal
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, namun lelaki itu memaksa
kehendaknya dan melalui pagar yang dipanjat sampailah mereka ke dalam
istana dan bertemu muka dengan Daud. Daud yang sedang melakukan
ibadahnya terperanjat melihat kedua lelaki itu sudah berada di depannya,
padahal ia yakin para penjaga pintu istana tidak akan dapat melepaskan
siapa pun masuk istana menemuinya. Berkatalah kedua tamu yang tidak
diundang itu ketika melihat wajah Daud menjadi pucat tanda takut dan
terkejut: “Janganlah terkejut dan janganlah takut. Kami berdua
datang kemari untuk meminta keputusan yang adil dan benar mengenai
perkara sengketa yang terjadi antara kami berdua.”



Nabi Daud tidak dapat berbuat selain daripada menerima mereka yang sudah
berada didepannya, kendatipun tidak melalui prosedur dan protokol yang
sepatutnya. Berkatalah ia kepada mereka setelah pulih kembali
ketenangannya dan hilang rasa paniknya: “Cobalah bentangkan kepadaku persoalanmu dalam keadaan yang sebenarnya.” Berkata seorh daripada kedua lelaki itu: “Saudaraku
ini memiliki sembilan puluh sembilan ekor domba betina dan aku hanya
memilki seekor saja. Ia menuntut dan mendesakkan kepadaku agar aku
serahkan kepadanya dombaku yang seekor itu bagi melengkapi
perternakannya menjadi genap seratus ekor. Ia membawa macam-macam
alasan dan berbagai dalil yang sangat sukar bagiku untuk menolaknya,
mengingatkan bahawa ia memang lebih cakap berdebat dan lebih pandai
bersilat lidah daripadaku.”



Nabi Daud berpaling muka kepada lelaki yang lain yang sedang seraya bertanya: “Benarkah apa yang telah diuraikan oleh saudara kamu ini?” “Benar” ,jawab lelaki itu.

“Jika memang demikian halnya”, kata Daud, dengan marah “maka
engkau telah berbuat zalim kepada saudaramu ini dan memperkosakan hak
miliknya dengan tuntutanmu itu. Aku tidak akan membiarkan engkau
melanjutkan tindakanmu yang zalim itu atau engkau akan menghadapi
hukuman pukulan pada wajah dan hidungmu. Dan memang banyak di antara
orang-orang yang berserikat itu yang berbuat zalim satu terhadap yang
lain kecuali mereka yang benar beriman dan beramal soleh.”



“Wahai Daud”, berkata lelaki itu menjawab, “sebenarnya
engkaulah yang sepatut menerima hukuman yang engkau ancamkan kepadaku
itu. Bukankah engkau sudah mempunyai sembilan puluh sembilan perempuan
mengapa engkau masih menyunting lagi seorang gadis yang sudah lama
bertunangan dengan seorang pemuda anggota tentaramu sendiri yang setia
dan bakti dan sudah lama mereka berdua saling cinta dan mengikat janji.”



Nabi Daud tercengang mendengar jawaban lelaki yang berani, tegas dan
pedas itu dan sekali lagi ia memikirkan ke mana sasaran dan tujuan
kata-kata itu, sekonyong-konyong lenyaplah menghilang dari pandangannya
kedua susuk tubuh kedua lelaki itu. Nabi Daud berdiam diri tidak
mengubah sikap duduknya dan seraya termenung sadarlah ia bahawa kedua
lelaki itu adalah malaikat yang diutuskan oleh Allah untuk memberi
peringatan dan teguran kepadanya. Ia seraya bersujud memohon ampun dan
maghfirah dari Tuhan atas segala tindakan dan perbuatan yang tidak
diredhai oleh-Nya. Allah menyatakan menerima taubat Daud, mengampuni
dosanya serta mengangkatnya ke tingkat para nabi dan rasul-Nya.


Adapun gadis yang dimaksudkan dalam percakapan Daud dengan kedua
malaikat yang menyerupai sebagai manusia itu ialah “Sabigh binti Sya’igh
seorang gadis yang berparas elok dan cantik, sedang calon suaminya
adalah “Uria bin Hannan” seorang pemuda jejaka yang sudah lama menaruh
cinta dan mengikat janji dengan gadis tersebut bahwa sekembalinya dari
medan perang mereka berdua akan melangsungkan perkawinan dan hidup
sebagai suami isteri yang bahagia. Pemuda itu telah secara rasmi
meminang Sabigh dari kedua orang tuanya, yang dengan senang hati telah
menerima baik uluran tangan pemuda itu.


Akan tetapi apa yang hendak dikatakan sewaktu Uria bin Hannan berada
di negeri orang melaksanakan perintah Daud berjihad untuk menegakkan
kalimah Allah, terjadilah sesuatu yang menghancurkan rancangan syahdunya
itu dan menjadilah cita-citanya untuk beristerikan Sabigh gadis yang
diidam-idamkan itu, seakan-akan impian atau fatamorgana belaka.


Pada suatu hari di mana Uria masih berada jauh di negeri orang
melaksanakan perintah Allah untuk berjihad, tertangkaplah paras Sabigh
yang ayu itu oleh kedua belah mata Daud dan dari pandangan pertama itu
timbullah rasa cinta di dalam hati Daud kepada sang gadis itu, yang
secara sah adalah tunangan dari salah seorang anggota tentaranya yang
setia dan cakap. Daud tidak perlu berfikir lama untuk menyatakan rasa
hatinya terhadap gadis yang cantik itu dan segera mendatangi kedua orang
tuanya meminang gadis tersebut.


Gerangan orang tua siapakah yang akan berfikir akan menolak uluran
tangan seorang seperti Daud untuk menjadi anak menantunya. Bukankah
merupakan suatu kemuliaan yang besar baginya untuk menjadi ayah mertua
dari Daud seorang pesuruh Allah dan raja Bani Isra’il itu. Dan walaupun
Sabigh telah diminta oleh Uria namin Uria sudah lama meninggalkan
tunangannya dan tidak dapat dipastikan bahwa ia akan cepat kembali atau
berada dalam keadaan hidup. Tidak bijaksanalah fikir kedua orang tua
Sabigh untuk menolak uluran tangan Daud hanya semata-mata karena
menantikan kedatangan Uria kembali dari medan perang. Maka diterimalah
permintaan Daud dan kepadanya diserahkanlah Sabigh untuk menjadi
isterinya yang sah.


Demikianlah kisah perkawinan Daud dan Sabigh yang menurut para ahli
tafsir menjadi sasaran kritik dan teguran Allah melalui kedua malaikat
yang merupai sebagai dua lelaki yang datang kepada Nabi Daud memohon
penyelesaian tentang sengketa mereka perihal domba betina mereka.




Beberapa Karunia Allah Kepada Nabi Daud


Allah mengutusnya sebagai nabi dan rasul mengaruniainya nikmah,
kesempurnaan ilmu, ketelitian amal perbuatan serta kebijaksanaan dalam
menyelesaikan perselisihan.


Kepadanya diturunkan kitab “Zabur”, kitab suci yang menghimpunkan
qasidah-qasidah dan sajak-sajak, serta lagu-lagu yang mengandungi tasbih
dan pujian-pujian kepada Allah, kisah umat-umat yang dahulu dan berita
nabi-nabi yang akan datang, di antaranya berita tentang datangnya Nabi
Muhammad SAW.


Allah menundukkan gunung-gunung dan memerintahkannya bertasbih mengikuti tasbih Nabi Daud tiap pagi dan senja.


Burung pun turut bertasbih mengikuti tasbih Nabi Daud berulang-ulang.


Nabi Daud diberi peringatan tentang maksud suara atau bahasa burung-burung.


Allah telah memberinya kekuatan melunakkan besi, sehingga ia dapat
membuat baju-baju dan lingkaran besi dengan tangannya tanpa pertolongan
api.


Nabi Daud telah diberikannya kesempatan menjadi raja memimpin
kerajaan yang kuat yang tidak dapat dikalahkan oleh musuh, bahkan
sebaliknya ia selalu memperolehi kemenangan di atas semua musuhnya.


Nabi Daud dikaruniakan suara yang merdu oleh Allah yang enak
didengar sehingga kini ia menjadi kiasan bila seseorang bersuara merdu
dikatakan bahwa ia memperolehi suara Nabi Daud.


Kisah Nabi Daud dan kisah Sabtunya Bani Isra’il terdapat dalam
Al-Quran surah “Saba’” ayat 11, surah “An-Nisa’” ayat 163, surah
“Al-Isra’” ayat 55, surah “Shaad” ayat 17 sehingga ayat 26 dan surah
“Al-’Aaraaf” ayat 163 sehingga ayat 165.




 Source : http://jumailischaniago.wordpress.com