Thursday, November 22, 2012

Nabi Ayub (أيوب) (kisah)









Berkata salah seorang malaikat kepada kawan-kawannya yang lagi
berkumpul berbincang-bincang tentang tingkah-laku makhluk Allah, jenis
manusia di atas bumi : “Aku tidak melihat seorang manusia yang hidup di
atas bumi Allah yang lebih baik dari hamba Allah Ayyub”. Ia adalah
seorang mukmin sejati ahli ibadah yang tekun. Dari rezeki yang luas dan
harta kekayaan yang diberikan oleh Allah kepadanya, ia menepikan
sebagian untuk menolong orang-orang yang memerlukan para fakir miskin.
Hari-harinya terisi penuh dengan ibadah, sujud kepada Allah dan
bersyukur atas segala nikmat dan kurnia yang diberikan kepadanya.”






Para kawanan malaikat yang mendengarkan kata-kata pujian dan
sanjungan untuk diri Ayyub mengakui kebenaran itu bahkan masing-masing
menambahkan lagi dengan menyebut beberapa sifat dan tabiat yang lain
yang ada pada diri Ayyub. Percakapan para malaikat yang memuji-muji
Ayyub itu didengar oleh Iblis yang sedang berada tidak jauh dari tempat
mereka berkumpul. Iblis merasa panas hati dan jengkel mendengar
kata-kata pujian bagi seseorang dari keturunan Adam yang ia telah
bersumpah akan disesatkan ketika ia dikeluarkan dari syurga karenanya.
Ia tidak rela melihat seorang dari anak cucu anak Nabi Adam menjadi
seorang mukmin yang baik, ahli ibadah yang tekun dan melakukan amal
soleh sesuai dengan perintah dan petunjuk Allah.


Pergilah Iblis mendatangi Ayyub untuk menyatakan sendiri sampai
sejauh mana kebenaran kata-kata pujian para malaikat itu kepada diri
Ayyub. Ternyata memang benar Ayyub patut mendapat segala pujian itu. Ia
mendatangi Ayyub bergelimpangan dalam kenikmatan duniawi, tenggelam
dalam kekayaan yang tidak ternilai besarnya, mengepalai keluarga yang
besar yang hidup rukun, damai dan bakti. Ia mendapati Ayyub tidak
tersilau matanya oleh kekayaan yang ia miliki dan tidak tergoyahkan
imannya oleh kenikmatan duniawinya. Siang dan malam ia sentiasa menemui
Ayyub berada di mihrabnya melakukan solat, sujud dan tasyakur kepada
Allah atas segala pemberian-Nya. Mulutnya tidak berhenti menyebut nama
Allah berzikir, bertasbih dan bertahmid. Ayyub ditemuinya sebagai
seorang yang penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah yang
lemah, yang lapar diberinya makan, yang telanjang diberinya pakaian,
yang bodoh diajar dan dipimpin dan yang salah ditegur.


Iblis gagal dalam usahanya memujuk Ayyub. Telinga Ayyub pekak
terhadap segala bisikannya dan fitnahannya dan hatinya yang sudah penuh
dengan iman dan takwa tidak ada tempat lagi bagi bibit-bibit kesesatan
yang ditaburkan oleh Iblis. Cinta dan taatnya kepada Allah merupakan
benteng yang ampuh terhadap serangan Iblis dengan peluru kebohongan dan
pemutar-balikan kebenaran yang semuanya mental tidak mendapatkan sasaran
pada diri Ayyub.


Akan tetapi Iblis bukanlah Iblis jika ia berputus asa dan
kegagalannya memujuk Ayyub secara langsung. Ia pergi menghadapi kepada
Allah untuk menghasut. Ia berkata : ” Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub
yang menyembah dan memuji-muji-Mu, bertasbih dan bertahmid menyebut
nama-Mu, ia tidak berbuat demikian seikhlas dan setulus hatinya karena
cinta dan taat pada-Mu. Ia melakukan itu semua dan berlaku sebagai hamba
yang soleh tekun beribadah kepada-Mu hanya karena takut akan kehilangan
semua kenikmatan duniawi yang telah Engkau kurniakan kepadanya. Ia
takut, jika ia tidak berbuat demikian , bahawa engkau akan mencabut
daripadanya segala nikmat yang telah ia perolehnya berupa puluhan ribu
haiwan ternakan, beribu-ribu hektar tanah ladang, berpuluh-puluh hamba
sahaya dan pembantu serta keluarga dan putera-puteri yang soleh dan
bakti. Tidakkah semuanya itu patut disyukuri untuk tidak terlepas dari
pemilikannya dan habis terkena musibah? Di samping itu Ayyub masih
mengharapkan agar kekayaannya bertambah menjadi berlipat ganda. Untuk
tujuan dan maksud itulah Ayyub mendekatkan diri kepada-Mu dengan ibadah
dan amal-amal solehnya dan andai kata ia terkena musibah dan kehilangan
semua yang ia miliki, nescaya ia akan mengubah sikapnya dan akan
melalaikan kewajibannya beribadah kepada-Mu.”


Allah berfirman kepada Iblis : ” Sesungguhnya Ayyub adalah seorang
hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku, ia seorang mukmin sejati, apa yang
ia lakukan untuk mendekati dirinya kepada-Ku adalah semata-mata didorong
oleh iman yang teguh dan taat yang bulat kepada-Ku. Iman dan takwa yang
telah meresap di dalam lubuk hatinya serta menguasai seluruh jiwa
raganya tidak akan tergoyah oleh perubahan keadaan duniawinya. Cintanya
kepada-Ku yang telah menjiwai amal ibadah dan kebajikannya tidak akan
menurun dan menjadi kurang, musibah apa pun yang akan melanda dalam
dirinya dan harta kekayaannya. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang
ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat Aku cabut
daripadanya atau menjadikannya bertambah berlipat ganda. Ia bersih dari
semua tuduhan dan prasangkamu. Engkau memang tidak rela
melihathamba-hamba-Ku anak cucu Adan berada di atas jalan yang benar,
lurus dan tidak tersesat. Dan untuk menguji keteguhan hati Ayyub dan
kebulatan imannya kepada-Ku dan kepada takdir-Ku, Aku izinkan engkau
untuk mencoba menggodanya serta memalingkannya daripada-Ku. Kerahkanlah
pembantu-pembantumu menggoda Ayyub melalui harta kekayaannya dan
keluarganya. Coba binasakanlah harta kekayaannya dan cerai-beraikanlah
keluarganya yang rukun dan bahagia itu dan lihatlah sampai di mana
kebolehanmu menyesatkan dan merusakkan iman hamba-Ku Ayyub itu.”


Dikumpulkanlah oleh Iblis syaitan-syaitan, pembantunya, diberitahukan
bahawa ia telah mendapatkan izin dari Tuhan untuk mengganyang ayyub,
merusak aqidah dan imannya dan memalingkannya dari Tuhannya yang ia
sembah dengan sepenuh hati dan keyakinan. Jalannya ialah dengan
memusnahkan harta kekayaannya sehingga ia menjadi seorang yang papa dan
miskin, mencerai-beraikan keluarganya sehingga ia menjadi sebatang kara
tidak berkeluarga, Iblis berseru kepada pembantu-pembantunya itu agar
melaksanakan tugas penyesatan Ayyub sebaik-baiknya dengan segala daya
dan siasat apa saja yang mereka dapat lakukan.


Kisah Ayyub di atas dapat dibaca dalam Al-Quran surah Shaad ayat 41 sehingga ayat 44 dan surah Al-Anbiaa’ ayat 83 dan 84






Nabi Ayub Diuji Allah SWT


Dengan berbagai cara gangguan, akhirnya berhasillah kawanan
syaitan itu menghancurkan-luluhkan kekayaan Ayyub, yang dimulai dengan
haiwan-haiwan ternakannya yang bergelimpangan mati satu persatu sehingga
habis sama sekali, kemudian disusul ladang-ladang dan kebun-kebun
tanamannya yang rusak menjadi kering dan gedung-gedungnya yang terbakar
habis dimakan api, sehingga dalam waktu yang sangat singkat sekali Ayyub
yang kaya-raya tiba-tiba menjadi seorang papa miskin tidak memiliki
selain hatinya yang penuh iman dan takwa serta jiwanya yang besar.


Setelah berhasil menghabiskan kekayaan dan harta milik Ayyub
datanglah Iblis kepadanya menyerupai sebagai seorang tua yang tampak
bijaksana dan berpengalaman dan berkata: “Sesungguhnya musibah yang
menimpa dirimu sangat dahsyat sekali sehingga dalam waktu yang begitu
sempit telah habis semua kekayaanmu dan hilang semua harta kekayaan
milikmu. Kawan-kawanmu merasa sedih sedang musuh-musuhmu bersenang hati
dan gembira melihat penderitaan yang engkau alami akibat musibah yang
susul-menyusul melanda kekayaan dan harta milikmu. Mereka
bertanya-tanya, gerangan apakah yang menyebabkan Ayyub tertimpa musibah
yang hebat itu yang menjadikannya dalam sekelip mata kehilangan semua
harta miliknya. Sementara orang dari mereka berkata bahawa mungkin
karena Ayyub tidak ikhlas dalam ibadah dan semua amal kebajikannya dan
ada yang berkata bahawa andaikan Allah, Tuhan Ayyub, benar-benar
berkuasa, nescaya Dia dapat menyelamatkan Ayyub dari malapetaka,
mengingat bahawa ia telah menggunakan seluruh waktunya beribadah dan
berzikir, tidak pernah melanggar perintah-Nya . Seorang lain menggunjing
dengan mengatakan bahawa mungkin amal ibadah Ayyub tidak diterima oleh
Tuhan, karena ia tidak melakukan itu dari hati yang bersih dan sifat ria
dan ingin dipuji dan banyak lagi cerita-cerita orang tentang kejadian
yang sangat menyedihkan itu. Akupun menaruh simpati kepadamu, hai Ayyub
dan turut bersedih hati dan berdukacita atas nasib yang buruk yang
engkau telah alami.”


Iblis yang menyerupai sebagai orang tua itu, mengakhiri kata-kata
hasutannya seraya memperhatikan wajah Ayyub yang tetap tenang
berseri-seri tidak menampakkan tanda-tanda kesedihan atau sesalan yang
ingin ditimbulkan oleh Iblis dengan kata-kata racunnya itu. Ayyub
berkata kepadanya : “Ketahuilah bahawa apa yang aku telah miliki berupa
harta benda, gedung-gedung, tanah ladang dan haiwan ternakan serta
lain-lainnya semuanya itu adalah barangan titipan Allah yang diminta-Nya
kembali setelah aku cukup menikmatinya dan memanfaatkannya sepanjang
masa atau ibarat barang pinjaman yang diminta kembali oleh tuannya jika
saatnya telah tiba. Maka segala syukur dan puji bagi Allah yang telah
memberikan kurniaan-Nya kepadaku dan mencabutnya kembali pula dari siapa
yang Dia kehendaki dan mencabutnya pula dari siapa saja yang Dia suka.
Dia adalah yang Maha Kuasa mengangkat darjat seseorang atau
menurunkannya menurut kehendak-Nya. kami sebagai hamba-hamba makhluk-Nya
yang lemah patut berserah diri kepada-Nya dan menerima segala qadha’
dan takdir-Nya yang kadang kala kami belum dapat mengerti dan menangkap
hikmah yang terkandung dalam qadha’ dan takdir-Nya itu.”


Selesai mengucapkan kata-kata jawabnya kepada Iblis yang sedang duduk
tercenggang di depannya, menyungkurlah Ayyub bersujud kepada Allah
memohon ampun atas segala dosa dan keteguhan iman serta kesabaran atas
segala cobaan dan ujian-Nya.

Iblis segera meninggalkan rumah Ayyub dengan rasa kecewa bahawa racun
hasutannya tidak termakan oleh hati hamba Allah yang bernama Ayyub itu.
Akan tetapi Iblis tidak akan pernah berputus asa melaksanakan sumpah
yang ia telah nyatakan di hadapan Allah dan malaikat-Nya bahawa ia akan
berusaha menyesatkan Bani Adam di mana saja mereka berada. Ia
merencanakan melanjutkan usaha gangguan dan godaannya kepada Ayyub lewat
penghancuran keluarganya yang sedang hidup rukun, damai dan saling
hidup cinta mencintai dan harga menghargai. Iblis datang lagi menghadap
kepada Tuhan dan meminta izin meneruskan usahanya mencoba Ayyub. Berkata
ia kepada Tuhan: “Wahai Tuhan, Ayyub tidak termakan oleh hasutanku dan
sedikit pun tidak goyah iman dan aqidahnya kepada-Mu meski pun ia sudah
kehilangan semua kekayaannya dan kembali hidup papa dan miskin karena ia
masih mempunyai putera-putera yang cekap yang dapat ia andalkan untuk
mengembalikan semua yang hilang itu dan menjadi sandaran serta tumpuan
hidupnya di hari tuanya. Menurut perkiraanku, Ayyub tidak akan bertahan
jika musibah yang mengenai harta kekayaannya mengenai keluarganya pula,
apa lagi bila ia sangat sayang dan mencintai, maka izinkanlah aku
mencoba kesabarannya dan keteguhannya kali ini melalui godaan yang akan
aku lakukan terhadap keluarganya dan putera-puteranya yang ia sangat
sayang dan cintai itu.”


Allah meluluskan permintaan Iblis itu dan berfirman: “Aku mengizinkan
engkau mencoba sekali lagi menggoyahkan hati Ayyub yang penuh iman,
tawakkal dan kesabaran itu dengan caramu yang lain, namun ketahuilah
bahawa engkau tidak akan berhasil mencapai tujuanmu melemahkan iman
Ayyub dan menipiskan kepercayaannya kepada-Ku.”


Iblis lalu pergi bersama pembantu-pembantunya menuju tempat tinggal
putera-putera Ayyub di suatu gedung yang penuh dengan sarana-sarana
kemewahan dan kemegahan, lalu digoyangkanlah gedung itu hingga roboh
berantakan menjatuhi dan menimbuni seluruh penghuninya. Kemudian
cepat-cepatlah pergi Iblis mengunjungi Ayyub di rumahnya, menyerupai
sebagai seorang dari kawan-kawan Ayyub, yang datang menyampaikan takziah
dan menyatakan turut berdukacita atas musibah yang menimpa puteranya.
Ia berkata kepada Ayyub dalam takziahnya: “Hai Ayyub, sudahkah engkau
melihat putera-puteramu yang mati tertimbun di bawah runtuhan gedung
yang roboh akibat gempa bumi? Kiranya, wahai Ayyub, Tuhan tidak menerima
ibadahmu selama ini dan tidak melindungimu sebagai imbalan bagi amal
solehmu dan sujud rukukmu siang dan malam.”


Mendengar kata-kata Iblis itu, menangislah Ayyub tersedu-sedu seraya
berucap: “Allahlah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali.
Segala puji bagi-Nya, Tuhan yang Maha Pemberi dan Maha Pencabut.”


Iblis keluar meninggalkan Ayyub dalam keadaan bersujud munajat dengan
rasa jengkel dan marah kepada dirinya sendiri karena telah gagal untuk
kedua kalinya memujuk dan menghasut Ayyub. Ia pergi menghadap Tuhan dan
berkata: “Wahai Tuhan, Ayyub sudah kehilangan semua harta benda dan
seluruh kekayaannya dan hari ini ia ditinggalkan oleh putera-puteranya
yang mati terbunuh di bawah runtuhan gedung yang telah kami hancurkan ,
namun ia masih tetap dalam keadaan mentalnya yang kuat dan sehat. Ia
hanya menangis tersedu-sedu namun batinnya, jiwanya, iman dan
kepercayaannya kepada-Mu tidak tergoyah sama sekali. Izinkan aku
mencobanya kali ini mengganggu kesehatan bandanya dan kekuatan
fizikalnya, karena jika ia sudah jatuh sakit dan kekuatannya menjadi
lumpuh, nescaya ia akan mulai malas melakukan ibadah dan lama-kelamaan
akan melalaikan kewajibannya kepada-Mu dan menjadi lunturlah iman dan
akidahnya.”


Allah tetap menentang Iblis bahwa ia tidak akan berhasil dalam
usahanya menggoda Ayyub walau bagaimana pun besarnya musibah yang
ditimpakan kepadanya dan bagaimana pun beratnya cobaan yang dialaminya.
Karena Allah telah menetapkan dia menjadi teladan kesabaran, keteguhan
iman dan ketekunan beribadah bagi hamba-hamba-Nya. Allah berfirman
kepada Iblis: “Bolehlah engkau mencoba lagi usahamu mengganggu kesehatan
badan dan kekuatan fizikal Ayyub. Aku akan lihat sejauh mana
kepandaianmu mengganggu dan menghamba pilihan-Ku ini.”


Iblis lalu memerintahkan kepada anak buahnya agar menaburkan
benih-benih baksil penyakit ke dalam tubuh Ayyub. Kuman ysng ditaburkan
itu segera mengganyang kesehatan Ayyub yang menjadikan ia menderita
berbagai-bagai penyakit, deman panas, batuk dan lain-lain lagi sehingga
menyebabkan badannya makin lama makin kurus, tenaganya makin lemah dan
wajahnya menjadi pucat tidak berdarah dan kulitnya menjadi
berbintik-bintik . Ianya akhir dijauhi oleh orang-orang sekampungnya dan
oleh kawan-kawan dekatnya, karena penyakit Ayyub dapat menular dengan
cepatnya kepada orang-orang yang menyentuhnya atau mendekatinya. Ia
menjadi terasing daripada pergaulan orang di tempatnya dan hanya
isterinyalah yang tetap mendampinginya, merawatnya dengan penuh
kesabaran dan rasa kasih sayang, melayani segala keperluannya tanpa
mengeluh atau menunjukkan tanda kesal hati dari penyakit suaminya yang
tidak kunjung sembuh itu.


Iblis memperhatikan Ayyub dalam keadaan yang sudah amat parah itu
tidak meninggalkan adat kebiasaannya, ibadahnya, zikirnya, ia tidak
mengeluh, tidak bergaduh, ia hanya menyebut nama Allah memohon ampun dan
lindungan-Nya bila ia merasakan sakit. Iblis merasa kesal hati dan
jengkel melihat ketabahan hati Ayyub menanggung derita dan kesabarannya
menerima berbagai musibah dan ujian. Iblis kehabisan akal, tidak tahu
apa usaha lagi yang harus diterapkan bagi mencapai tujuannya merusakkan
aqidah dan iman Ayyub. Ia lalu meminta bantuan fikiran dari para
kawan-kawan pembantunya, apa yang harus dilakukan lagi untuk menyesatkan
Ayyub setelah segala usahanya gagal tidak mencapai sasarannya.


Bertanya mereka kepadanya: “Di manakah kepandaianmu dan tipu dayamu
yang ampuh serta kelincinanmu menyebar benih was-was dan ragu ke dalam
hati manusia yang biasanya tidak pernah sia-sia?” Seorang pembantu lain
berkata: “Engkau telah berhasil mengeluarkan Adam dari syurga,
bagaimanakah engkau lakukan itu semuanya sampai berhasilnya tujuanmu
itu?. Dengan memujuk isterinya”, jawab Iblis. “Jika demikian” berkata
syaitan itu kembali, “Laksanakanlah siasat itu dan terapkanlah terhadap
Ayyub, hembuskanlah racunmu ke telinga isterinya yang tampak sudah agak
kesal merawatnya, namun masih tetap patuh dan setia.”


“Benarlah dan tepat fikiranmu itu,” kata Iblis, “Hanya tinggal itulah
satu-satu jalan yang belum aku coba. Pasti kali ini dengan cara
menghasut isterinya aku akan berhasil melaksanakan akan maksudku selama
ini.” Dengan rencana barunya pergilah Iblis mendatangi isteri Ayyub,
menyamar sebagai seorang kawan lelaki yang rapat dengan suaminya. Ia
berkata kepada isteri Ayyub: “Apa khabar dan bagaimana keadaan suamimu
di ketika ini?”Seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah suaminya,
berkata isteri Ayyub kepada Iblis itu, tamunya: “Itulah dia terbaring
menderita kesakitan, namun mulutnya tidak henti-hentinya berzikir
menyebut nama Allah. Ia masih berada dalam keadaan parah, mati tidak
hidup pun tidak.”




Nabi Ayub Lulus Ujian Allah SWT


Kata-kata isteri Ayyub itu menimbulkan harapan bagi Iblis bahawa
ia kali ini akan berhasil maka diingatkanlah isteri Ayyub akan masa
mudanya di mana ia hidup dengan suaminya dalam keadaan sehat, bahagia
dan makmur dan dibawakannyalah kenang-kenangan dan kemesraan. Kemudian
keluarlah Iblis dari rumah Ayyub meninggalkan isteri Ayyub duduk
termenung seorang diri, mengenangkan masa lampaunya, masa kejayaan
suaminya dan kesejahteraan hidupnya, membanding-bandingkannya dengan
masa di mana berbagai penderitaan dan musibah dialaminya, yang dimulai
dengan musnahnya kekayaan dan harta-benda, disusul dengan kematian
puteranya, dan kemudian yang terakhirnya diikuti oleh penyakit suaminya
yang parah yang sangat menjemukan itu. Isteri Ayyub merasa kesepian
berada di rumah sendirian bersama suaminya yang terbaring sakit, tiada
sahabat tiada kerabat, tiada handai, tiada taulan, semua menjauhi mereka
karena khawatir kejangkitan penyakit kulit Ayyub yang menular dan
menjijikkan itu.


Seraya menarik nafas panjang datanglah isteri Ayyub mendekati
suaminya yang sedang menderita kesakitan dan berbisik-bisik kepadanya
berkata: “Wahai sayangku, sampai bilakah engkau tersiksa oleh Tuhanmu
ini? Di manakah kekayaanmu, putera-puteramu, sahabat-sahabatmu dan
kawan-kawan terdekatmu? Oh, alangkah syahdunya masa lampau kami, usia
muda, badan sehat, sarana kebahagiaan dan kesejahteraan hidup tersedia
dikelilingi oleh keluarga dan terulang kembali masa yang manis itu?
Mohonlah wahai Ayyub dari Tuhanmu, agar kami dibebaskan dari segala
penderitaan dan musibah yang berpanjangan ini.”


Berkata Ayyub menjawab keluhan isterinya: “Wahai isteriku yang
kusayangi, engkau menangisi kebahagiaan dan kesejahteraan masa yang
lalu, menangisi anak-anak kita yang telah mati diambil oleh Allah dan
engkau minta aku memohon kepada Allah agar kami dibebaskan dari
kesengsaraan dan penderitaan yang kami alami masa kini. Aku hendak
bertanya kepadamu, berapa lama kami tidak menikmati masa hidup yang
mewah, makmur dan sejahtera itu?”. “Delapan puluh tahun”, jawab isteri
Ayyub. “Lalu berapa lama kami telah hidup dalam penderitaan ini?” tanya
lagi Ayyub. “Tujuh tahun”, jawab si isteri.


“Aku malu”, Ayyub melanjutkan jawabannya,” memohon dari Allah
membebaskan kami dari sengsaraan dan penderitaan yang telah kami alami
belum sepanjang masa kejayaan yang telah Allah kurniakan kepada kami.
Kiranya engkau telah termakan hasutan dan bujukan syaitan, sehingga
mulai menipis imanmu dan berkesal hati menerima taqdir dan hukum Allah.
Tunggulah ganjaranmu kelak jika aku telah sembuh dari penyakitku dan
kekuatan badanku pulih kembali. Aku akan mencambukmu seratus kali. Dan
sejak detik ini aku haramkan diriku makan dan minum dari tanganmu atau
menyuruh engkau melakukan sesuatu untukku. Tinggalkanlah aku seorang
diri di tempat ini sampai Allah menentukan taqdir-Nya.”


Setelah ditinggalkan oleh isterinya yang diusir, maka Nabi Ayyub
tinggal seorang diri di rumah, tiada sanak saudara, tiada anak dan tiada
isteri. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh hati memohon rahmat
dan kasih sayang-Nya. Ia berdoa: “Wahai Tuhanku, aku telah diganggu oleh
syaitan dengan kepayahan dan kesusahan serta siksaan dan Engkaulah
wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Allah menerima doa Nabi Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan
keteguhan iman serta berhasil memenangkan perjuangannya melawan hasutan
dan bujukan Iblis. Allah mewahyukan firman kepadanya: “Hantamkanlah
kakimu ke tanah. Dari situ air akan memancur dan dengan air itu engkau
akan sembuh dari semua penyakitmu dan akan pulih kembali kesehatan dan
kekuatan badanmu jika engkau gunakannya untuk minum dan mandimu.”


Dengan izin Allah setelah dilaksanakan petunjuk Illahi itu, sembuhlah
segera Nabi Ayyub dari penyakitnya, semua luka-luka kulitnya menjadi
kering dan segala rasa pedih hilang, seolah-olah tidak pernah terasa
olehnya. Ia bahkan kembali menampakkan lebih sehat dan lebih kuat
daripada sebelum ia menderita. Dalam pada itu isterinya yang telah
diusir dan meninggalkan dia seorang diri di tempat tinggalnya yang
terasing, jauh dari kota, jauh dari keramaian kota, merasa tidak sampai
hati lebih lama berada jauh dari suaminya, namun ia hampir tidak
mengenalnya kembali, karena bukanlah Ayyub yang ditinggalkan sakit itu
yang berada didepannya, tetapi Ayyub yang muda belia, segar bugar, sehat
afiat seakan-akan tidak pernah sakit dan menderita. Ia segera memeluk
suaminya seraya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan
kurnia-Nya mengembalikan kesehatan suaminya bahkan lebih baik daripada
keadaan asalnya.


Nabi Ayyub telah bersumpah sewaktu ia mengusir isterinya akan
mencambuknya seratus kali bila ia sudah sembuh. Ia merasa wajib
melaksanakan sumpahnya itu, namun merasa kasihan kepada isterinya yang
sudah menunjukkan kesetiaannya di dalam segala duka dan deritanya. Ia
bingung, hatinya terumbang-ambingkan oleh dua perasaan, ia merasa
berwajiban melaksanakan sumpahnya, tetapi isterinya yang setia dan bakti
itu tidak patut, kata hatinya, menjalani hukuman yang seberat itu.
Akhirnya Allah memberi jalan keluar baginya dengan firman-Nya: “Hai
Ayyub, ambillah dengan tanganmu seikat rumput dan cambuklah isterimu
dengan rumput itu seratus kali sesuai dengan sesuai dengan sumpahmu,
sehingga dengan demikian tertebuslah sumpahmu.”


Nabi Ayyub dipilih oleh Allah sebagai nabi dan teladan yang baik bagi
hamba-hamba_Nya dalam hal kesabaran dan keteguhan iman sehingga kini
nama Ayyub disebut orang sebagai simbul kesabaran. Orang menyatakan , si
Fulan memiliki kesabaran Ayyub dan sebagainya. Dan Allah telah membalas
kesabaran dan keteguhan iman Ayyub bukan saja dengan memulihkan kembali
kesehatan badannya dan kekuatan fizikalnya kepada keadaan seperti masa
mudanya, bahkan dikembalikan pula kebesaran duniawinya dan kekayaan
harta-bendanya dengan berlipat gandanya. Juga kepadanya dikurniakan lagi
putera-putera sebanyak yang telah hilang dan mati dalam musibah yang ia
telah alami. Demikianlah rahmat Tuhan dan kurnia-Nya kepada Nabi Ayyub
yang telah berhasil melalui masa ujian yang berat dengan penuh sabar,
tawakkal dan beriman kepada Allah.


Kisah Ayyub di atas dapat dibaca dalam Al-Quran surah Shaad ayat 41 sehingga ayat 44 dan surah Al-Anbiaa’ ayat 83 dan 84

Source : jumailischaniago