Monday, November 26, 2012

Nabi Ismail As (اسماعيل)












Sampai
Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya
dan Hajar, dayangnya di tempat tujuannya di Palestina. Ia telah membawa
pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah
diperolehinya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.

Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:

Pertama-tama yang menggunakan setagi {setagen} ialah Hajar ibu Nabi
Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang
telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil.
tetapi walau bagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang
disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. Dan sebagai lazimnya
seorang isteri sebagai Siti Sarah merasa telah dikalahkan oleh Siti
Hajar sebagai seorang dayangnya yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s.
Dan sejak itulah Siti Sarah merasakan bahawa Nabi Ibrahim a.s. lebih
banyak mendekati Hajar karena merasa sangat gembira dengan puteranya
yang tunggal dan pertama itu, hal ini yang menyebabkan permulaan ada
keratakan dalam rumah tangga Nabi Ibrahim a.s. sehingga Siti Sarah
merasa tidak tahan hati jika melihat Siti Hajar dan minta pada Nabi
Ibrahim a.s. supaya menjauhkannya dari matanya dan menempatkannya di
lain tempat.


Untuk sesuatu hikmah yang belum diketahui dan disadari oleh Nabi
Ibrahim Allah s.w.t. mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan
Sarah isterinya dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya
dan Sarah ke suatu tempat di mana yang ia akan tuju dan di mana Ismail
puteranya bersama ibunya akan di tempatkan dan kepada siapa akan
ditinggalkan.

Maka dengan tawakkal kepada Allah berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan
rumah membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa
tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang
akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta
Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya
keluar kota masuk ke lautan pasir dan padang terbuka di mana terik
matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang
menghembur-hamburkan debu-debu pasir.


Setelah berminggu-minggu berada dalam perjalanan jauh yang melelahkan
tibalah pada akhirnya Nabi Ibrahim bersama Ismail dan ibunya di Makkah
kota suci dimana Kabah didirikan dan menjadi pujaan manusia dari seluruh
dunia. di tempat di mana Masjidil Haram sekarang berada, berhentilah
unta Nabi Ibrahim mengakhiri perjalanannya dan disitulah ia meninggalkan
Hajar bersama puteranya dengan hanya dibekali dengan serantang bekal
makanan dan minuman sedangkan keadaan sekitarnya tiada tumbuh-tumbuhan,
tiada air mengalir, yang terlihat hanyalah batu dan pasir kering .
Alangkah sedih dan cemasnya Hajar ketika akan ditinggalkan oleh Ibrahim
seorang diri bersama dengan anaknya yang masih kecil di tempat yang
sunyi senyap dari segala-galanya kecuali batu gunung dan pasir. Ia
seraya merintih dan menangis, memegang kuat-kuat baju Nabi Ibrahim
memohon belas kasihnya, janganlah ia ditinggalkan seorang diri di tempat
yang kosong itu, tiada seorang manusia, tiada seekor binatang, tiada
pohon dan tidak terlihat pula air mengalir, sedangkan ia masih
menanggung beban mengasuh anak yang kecil yang masih menyusu. Nabi
Ibrahim mendengar keluh kesah Hajar merasa tidak tega meninggalkannya
seorang diri di tempat itu bersama puteranya yang sangat disayangi akan
tetapi ia sedar bahwa apa yang dilakukan nya itu adalah kehendak Allah
SWT yang tentu mengandungi hikmat yang masih terselubung baginya dan ia
sadar pula bahawa Allah akan melindungi Ismail dan ibunya dalam tempat
pengasingan itu dan segala kesukaran dan penderitaan. Ia berkata kepada
Hajar : “Bertawakkallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya,
percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah
aku membawa kamu ke sini dan Dialah yang akan melindungi mu dan
menyertaimu di tempat yang sunyi ini. Sesungguh kalau bukan perintah dan
wahyunya, tidak sesekali aku tergamak meninggalkan kamu di sini seorang
diri bersama puteraku yang sangat ku cintai ini. Percayalah wahai Hajar
bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak akan melantarkan kamu berdua tanpa
perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun di atas kamu
untuk selamanya, insya-Allah.”


Mendengar kata-kata Ibrahim itu segeralah Hajar melepaskan
genggamannya pada baju Ibrahim dan dilepaskannyalah beliau menunggang
untanya kembali ke Palestinaa dengan iringan air mata yang bercurahan
membasahi tubuh Ismail yang sedang menetak. Sedang Nabi Ibrahim pun
tidak dapat menahan air matanya keetika ia turun dari dataran tinggi
meninggalkan Makkah menuju kembali ke Palestina di mana isterinya Sarah
dengan puteranya yang kedua Ishak sedang menanti. Ia tidak henti-henti
selama dalam perjalanan kembali memohon kepada Allah perlindungan,
rahmat dan barakah serta kurnia rezeki bagi putera dan ibunya yang
ditinggalkan di tempat terasing itu. Ia berkata dalam doanya:” Wahai
Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya di
dekat rumah-Mu { Baitullahil Haram } di lembah yang sunyi dari tanaman
dan manusia agar mereka mendirikan solat dan beribadat kepada-Mu.
Jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah
mereka rezeki dari buah-buahan yang lazat, mudah-mudahan mereka
bersyukur kepada-Mu.”


Sepeninggal Nabi Ibrahim tinggallah Hajar dan puteranya di tempat
yang terpencil dan sunyi itu. Ia harus menerima nasib yang telah
ditakdirkan oleh Allah atas dirinya dengan kesabaran dan keyakinan penuh
akan perlindungan-Nya. Bekalan makanan dan minuman yang dibawanya dalam
perjalanan pada akhirnya habis dimakan selama beberapa hari
sepeninggalan Nabi Ibrahim. Maka mulailah terasa oleh Hajar beratnya
beban hidup yang harus ditanggungnya sendiri tanpa bantuan suaminya. Ia
masih harus meneteki anaknya, namun air teteknya makin lama makin
mengering disebabkan kekurangan makan .Anak yang tidak dapat minuman
yang memuaskan dari tetek ibunya mulai menjadi cerewet dan tidak
henti-hentinya menangis. Ibunya menjadi panik, bingung dan cemas
mendengar tangisan anaknya yang sangat menyayat hati itu. Ia menoleh ke
kanan dan ke kiri serta lari ke sana ke sini mencari sesuap makanan atau
seteguk air yang dpt meringankan kelaparannya dan meredakan tangisan
anaknya, namun sia-sialah usahanya. Ia pergi berlari harwalah menuju
bukit Shafa kalau-kalau ia boleh mendapatkan sesuatu yang dapat
menolongnya tetapi hanya batu dan pasir yang didapatnya disitu, kemudian
dari bukit Shafa ia melihat bayangan air yang mengalir di atas bukit
Marwah dan larilah ia ke tempat itu namun ternyata bahawa yang
disangkanya air adalah fatamorgana {bayangan} belaka dan kembalilah ke
bukit Shafa karena mendengar seakan-akan ada suara yang memanggilnya
tetapi gagal dan melesetlah dugaannya. Demikianlah maka karena dorongan
hajat hidupnya dan hidup anaknya yang sangat disayangi, Hajar
mundar-mundir berlari sampai tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah
yang pada akhirnya ia duduk termenung merasa penat dan hampir berputus
asa.


Diriwayatkan bahawa selagi Hajar berada dalam keadaan tidak berdaya
dan hampir berputus asa kecuali dari rahmat Allah dan pertolongan-Nya
datanglah kepadanya malaikat Jibril bertanya:” Siapakah sebenarnya
engkau ini?” ” Aku adalah hamba sahaya Ibrahim”. Jawab Hajar.” Kepada
siapa engkau dititipkan di sini?”tanya Jibril.” Hanya kepad Allah”,jawab
Hajar.Lalu berkata Jibril:” Jika demikian, maka engkau telah dititipkan
kepada Dzat Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih, yang akan
melindungimu, mencukupi keperluan hidupmu dan tidak akan mensia-siakan
kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya.”


Kemudian diajaklah Hajar mengikuti-nya pergi ke suatu tempat di mana
Jibril menginjakkan telapak kakinya kuat-kuat di atas tanah dan
segeralah memancur dari bekas telapak kaki itu air yang jernih dengan
kuasa Allah .Itulah dia mata air Zamzam yang sehingga kini dianggap
keramat oleh jemaah haji, berdesakan sekelilingnya bagi mendapatkan
setitik atau seteguk air daripadanya dan kerana sejarahnya mata air itu
disebut orang ” Injakan Jibril “. Alngkah gembiranya dan lega dada Hajar
melihat air yang mancur itu. Segera ia membasahi bibir puteranya dengan
air keramat itu dan segera pula terlihat wajah puteranya segar kembali,
demikian pula wajah si ibu yang merasa sangat bahagia dengan datangnya
mukjizat dari sisi Tuhan yang mengembalikan kesegaran hidup kepadanya
dan kepada puteranya sesudah dibayang-bayangi oleh bayangan mati
kelaparan yang mencekam dada.


Mancurnya air Zamzam telah menarik burung-burung berterbangan
mengelilingi daerah itu menarik pula perhatian sekelompok bangsa Arab
dari suku Jurhum yang merantau dan sedang berkemah di sekitar Makkah.
Mereka mengetahui dari pengalaman bahwa di mana ada terlihat burung di
udara, niscaya dibawanya terdapat air, maka diutuslah oleh mereka
beberapa orang untuk memeriksa kebenaran teori ini. Para pemeriksa itu
pergi mengunjungi daerah di mana Hajar berada, kemudian kembali membawa
berita gembira kepada kaumnya tentang mata air Zamzam dan keadaan Hajar
bersama puteranya. Segera sekelompok suku Jurhum itu memindahkan
perkemahannya ke tempat sekitar Zamzam ,dimana kedatangan mereka
disambut dengan gembira oleh Hajar karena adanya sekelompok suku Jurhum
di sekitarnya, ia memperoleh jiran-jiran yang akan menghilangkan
kesunyian dan kesepian yang selama ini dirasakan di dalam hidupnya
berduaan dengan puteranya saja.


Hajar bersyukur kepada Allah yang dengan rahmatnya telah membuka hati
orang-orang itu cenderung datang meramaikan dan memecahkan kesunyian
lembah di mana ia ditinggalkan sendirian oleh Ibrahim.






Nabi Ismail Dikorbankan


Nabi
Ibrahim dari masa ke semasa pergi ke Makkah untuk mengunjungi dan
menjenguk Ismail di tempat pengasingannya bagi menghilangkan rasa rindu
hatinya kepada puteranya yang ia sayangi serta menenangkan hatinya yang
selalu resah bila mengenangkan keadaan puteranya bersama ibunya yang
ditinggalkan di tempat yang tandus, jauh dari masyarakat kota dan
pengaulan umum. Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remajanya Nabi Ibrahim
a.s. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Dan
mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah
, maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan
oleh Nabi Ibrahim. Ia duduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha
berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikurniai seorang
putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan ,seorang
putera yang telah mencapai usia di mana jasa-jasanya sudah dapat
dimanfaatkan oleh si ayah , seorang putera yang diharapkan menjadi
pewarisnya dan penyambung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus
dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oleh tangan si ayah sendiri.


Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang
seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam
bertaat kepada Allah ,menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan
cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, isteri, harta benda
dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan
melalui mimpinya, apa pun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan
perintah itu. Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim,
namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud:” Allah lebih mengetahui
di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalahnya.” Nabi Ibrahim
tidak membuang masa lagi, berazam (niat) tetap akan menyembelih Nabi
Ismail puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah
diterimanya.Dan berangkatlah serta merta Nabi Ibrahim menuju ke Makkah
untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah
perintahkan.


Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada Allah dan
bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud
kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang berkata
kepada ayahnya: ” Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah
diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah
sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta
dalam melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku kuat-kuat
supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua agar
menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan
berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga
tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar
meringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir
sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini
untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta
kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.”Kemudian dipeluknyalah
Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata:” Bahagialah
aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang
tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan
perintah Allah.”


Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan
dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah
parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang di
tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang tergenang air berpindah
memandang dari wajah puteranya ke parang yang mengilap di tangannya,
seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara
perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu
pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang
diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan di lakukan . Akan
tetapi apa daya, parang yang sudah demikian tajamnya itu ternyata
menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya dan sebagaimana diharapkan.


Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan
bahwa perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi
Ibrahim dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada
Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu.
Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan
puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi
Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan
kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan
jiwa raganya untuk dikorbankan, sampai-sampai terjadi seketika merasa
bahwa parang itu tidak bisa memotong lehernya, berkatalah ia kepada
ayahnya:” Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong
leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan
laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku.”Akan tetapi parang itu
tetap tidak berdaya mengeluarkan setitik darah pun dari daging Ismail
walau ia telah ditelangkupkan dan dicoba memotong lehernya dari
belakang.


Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya
menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan
firmannya:” Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan mimpimu,
demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikan
.”Kemudian sebagai tebusan ganti nyawa Ismail telah diselamatkan itu,
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing yang telah
tersedia di sampingnya dan segera dipotong leher kambing itu oleh beliau
dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Dan inilah
asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap
hari raya idul adha di seluruh pelosok dunia.




Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim membangun Ka’bah


Nabi
Ismail pun beranjak dewasa dan belajar Bahasa Arab dari Suku Jurhum
tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita mereka.
Diceritakan pula bahwa Hajar kemudian meninggal dunia.


Pada suatu saat, Nabi Ibrahim datang ingin menjenguk Nabi Ismail
‘alaihimassalam. Namun, beliau hanya menemui istri Nabi Ismail saja.
Nabi Ibrahim bertanya kepada wanita tersebut ke mana kiranya Nabi Ismail
pergi. Istrinya menjawab, “Dia sedang mencari nafkah untuk kami.”


Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang keadaan mereka. Istri Nabi Ismail
menjawab, “Kami dalam kondisi yang jelek dan hidup dalam kesempitan dan
kemiskinan.” Mendengar jawaban tersebut, sebelum pulang Nabi Ibrahim
berpesan kepada wanita itu untuk menyampaikan salam kepada Nabi Ismail
dan berpesan agar Nabi Ismail mengganti pegangan pintunya.


Setelah Nabi Ismail kembali ke rumah, istrinya pun menceritakan
peristiwa tadi dan menyampaikan pesan Nabi Ibrahim kepada suaminya.
Mendengar hal tersebut, Nabi Ismail pun berkata kepada istrinya, “Itu
tadi adalah bapakku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah
engkau kepada orang tuamu.”


Nabi Ismail pun menceraikan istrinya tadi sesuai dengan pesan Nabi
Ibrahim dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Jurhum
juga.


Setelah beberapa waktu berlalu, Nabi Ibrahim kemudian kembali
mengunjungi Nabi Ismail. Namun, Nabi Ismail tidak ada di rumah. Nabi
Ibrahim pun menemui istri Nabi Ismail yang baru. Beliau bertanya dimana
Nabi Ismail sekarang. Istrinya menjawab bahwa Nabi Ismail sedang mencari
nafkah.


Nabi Ibrahim juga bertanya tentang keadaan mereka. Wanita itu
menjawab bahwa keadaan mereka baik-baik saja dan berkecukupan, sambil
kemudian memuji Allah azza wa jalla. Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang
makanan serta minuman mereka. Wanita itu menjawab bahwa makanan mereka
adalah daging, adapun minuman mereka adalah air. Maka Nabi Ibrahim
mendoakan kedua hal ini, “Ya Allah berkatilah mereka pada daging dan
air.”


Setelah itu, Nabi Ibrahim pun pergi dari rumah Nabi Ismail. Namun,
sebelumnya beliau berpesan kepada wanita itu agar Nabi Ismail
memperkokoh pegangan pintunya.


Ketika Nabi Ismail pulang, beliau bertanya kepada istrinya, “Adakah
tadi orang yang bertamu?” Istrinya menjawab, “Ada, seorang tua yang
berpenampilan bagus.” Dia memuji Nabi Ibrahim. “Ia bertanya kepadaku
tentang dirimu, maka aku jelaskan keadaanmu kepadanya. Dia juga bertanya
tentang kehidupan kita, dan aku jawab bahwa kehidupan kita baik-baik
saja.”


Nabi Ismail kemudian bertanya, “Apakah dia memesankan sesuatu
kepadamu?” Istrinya kembali menjawab, “Ya. Ia menyampaikan salam
kepadamu dan menyuruhku mengokohkan pegangan pintumu.”


Nabi Ismail berkata, “Itu adalah ayahku dan engkau adalah pegangan
pintu tersebut. Beliau menyuruhku untuk tetap menikahimu (menjagamu).”


Waktu pun berlalu. Suatu saat ketika Nabi Ismail sedang meraut anak
panah, Nabi Ibrahim pun datang. Nabi Ismail pun bangkit menyambutnya,
dan mereka pun saling melepaskan rindu.


Selanjutnya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya Allah
menyuruhku menjalankan perintah.” Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang
diperintahkan Rabbmu.”


“Apakah engkau akan membantuku?”, Tanya Nabi Ibrahim kembali.


“Aku pasti akan membantumu.” seru Ismail. Nabi Ibrahim kemudian
menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari yang sekitarnya.
Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di
sini.”


Pada saat itulah, keduanya kemudian meninggikan pondasi Baitullah.
Ismail mulai mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya. Setelah
bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk menjadi pijakan
bagi Nabi Ibrahim. Batu inilah yang akhirnya disebut sebagai maqam
(tempat berdiri) Nabi Ibrahim.


Mereka pun terus bekerja sembari mengucapkan doa, “Wahai Rabb kami
terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha
mendengar lagi Maha Mengetahui”.


Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan baitullah itu. Ka’bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah ‘azza wa jalla.

 Source: http://jumailischaniago.wordpress.com