Monday, November 26, 2012

Nabi Saleh AS (صالح)












Tsamud
adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan
bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke
dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama ”
Alhijir ” terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk
jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin
taufan yang di kirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan
dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud AS


Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu
dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.
Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah,
binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun
bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah
yang datar dan dipahatnya dari gunung. Semuanya itu menjadikan mereka
hidup tenteram ,sejahtera dan bahagia, merasa aman dari segala gangguan
alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan
anak keturunan mereka.


Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan Mereka adalah berhala-berhala
yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berqurban, tempat mereka
minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan
kebaikan serta kebahagiaan. Mereka tidak dapat melihat atau memikirkan
lebih jauh dan apa yang dapat mereka jangkau dengan panca indera.


Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan
hamba-hamba-Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya
nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mereka
keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah
tidak akan menurunkan azab dan siksaan kepada suatu umat sebelum mereka
diperingatkan dan diberi petunjuk oleh-Nya dengan perantara seorang
yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini
berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mereka telah diutuskan
Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mereka sendiri,
dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal
tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.


Dikenalkan mereka oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mereka
sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mereka,
menciptakan alam sekitar mereka, menciptakan tanah-tanah yang subur yang
menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup mereka, mencipta
binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mereka dan
dengan demikian memberi kepada mereka kenikmatan dan kemewahan hidup dan
kebahagiaan lahir dan batin.Tuhan Yang Esa itulah yang harus mereka
sembah dan bukan patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu
gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mereka atau
melindungi mereka dari ketakutan dan bahaya.


Nabi Saleh memperingatkan mereka bahwa ia adlah seorang daripada
mereka, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah.
Mereka adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan
dan sesuku dengan mereka.Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi
mereka dan sesekali tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal
yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mereka. Ia
menerangkan kepada mereka bahwa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah,
dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mereka adalah amanat
Allah yang harus dia sampaikan kepada mereka untuk kebaikan mereka
semasa hidup mereka dan sesudah mereka mati di akhirat kelak. Ia
mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh
apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mereka segera meninggalkan
persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah
Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa
dan perbuatan syirik yang selama ini telah mereka lakukan.Allah maha
dekat kepada mereka mendengarkan doa mereka dan memberi ampun kepada
yang salah bila dimintanya.


Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi
mereka merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari
saudara atau anak mereka sendiri.Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi
Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya : “Wahai Saleh! Kami
mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan
pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat. Pada dirimu kami
melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami
mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpinkami menyelesaikan
hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal
yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala
kami menghadapi krisis dan kesusahan. Akan tetapi segala harapan itu
menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini
dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat
dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Engkau
menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang
kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi
sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan
untuk selama-lamanya.Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena
seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak
mempercayai cakap-cakap kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak
akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan
mereka dan mengikuti jejakmu.”



Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar
mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengurniai mereka
rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada
mereka kisah kaum-kaum yang mendapat siksa dan azab dari Allah karena
menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu
dapat terjadi di atas mereka jika mereka tidak mahu menerima dakwahnya
dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur
sebagai seorang anggota dari keluarga besar mereka dan yang tidak
mengharapkan atau menuntut upah daripada mereka atas usahanya itu. Ia
hanya menyampaikan amanat Allah yang ditugaskan kepadanya dan Allah lah
yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan
dan tuntutan kepada mereka.


Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkan terdiri dari
orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan
beriman kepadanya sedangkan sebagian yang terbesar terutamanya mereka
yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala
dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari
kenabiannya dan berkata kepadanya : ” Wahai Saleh! Kami kira bahwa
engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir.Engkau telah menjadi
sinting dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu
sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan
kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak
memahaminya. Engkau mengaku bahwa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu
sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu daripada kami semua
sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara
kami yang lebih patut dan lebih cakap untuk menjadi nabi atau rasul
daripada engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu
hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan
pemimpin bagi kaummu. Jika engkau merasa bahwa engkau sihat badan dan
sihat fikiran dan mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan
yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan
agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu
sendiri. Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang
telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu”



Nabi Saleh menjawab: “Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu
bahwa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun daripada mu sebagai imbalan
atas usahaku memberi tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak
mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku
ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah dan daripada-Nya
kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku
dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku,
padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran
dakwahku.Jgnlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan melanggar
perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata
untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu.
Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku
berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan
membinasakan aku dengan seruanmu itu.”



Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan
dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan
berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak
membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendapat perhatian
terutama dari kalangan bawah dan menengah dalam masyarakat. Mereka
menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan
suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang
berada di luar kekuasaan manusia.


Nabi Saleh sadar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti
daripadanya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan
pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama
para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mereka.
Nabi Saleh membalas tentangan mereka dengan menuntut janji dengan mereka
bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mereka minta bahwa mereka
akan meninggalkan agama dan persembahan mereka dan akan mengikuti Nabi
Saleh dan beriman kepadanya.


Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud
berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat
untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan
perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia
memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina
dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi
sebuah bukit yang mereka tunjuk.

Maka kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta
terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya
seekor unta betina.


Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu
besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mereka:” Inilah dia unta Allah,
janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di
atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air minum dan
kamu mempunyai giliran untuk mendptkan minum bagimu dan bagi ternakmu
juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu
sampai mengganggu binatang ini.”


Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka
hatinya tanpa mendpt gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba
pergilah unta itu ke sebuah perigi yang diberi nama perigi unta dan
minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu
datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal
mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu
yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh di
tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang
di dalam kerongkong.


Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendatangkan mukjizat yang mereka
tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan
kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya
telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak
keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mereka pemilik-pemilik
ternak yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi
Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mereka serta ditakuti
oleh binatang-binatang peliharaannya.


Musnahnya Kaum Tsamud



Persekongkolan
diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan
pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa
takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di
samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang
itu dari atas bumi mereka, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan
yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dapat
membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang
mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan
salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh
unta itu.


Dua macam hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping
hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda’
bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan
pembunuhan untuk meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan
pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta
Nabi Saleh telah mati dibunuh.


Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu
di suatu tempat di mana biasanya di lalui oleh unta dalam perjalanannya
ke perigi tempat ia minum. Dan begitu unta-unta yang tidak berdosa itu
lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda’ yang disusul oleh Gudar
dengan menikamkan pedangnya di perutnya.


Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke
ibukota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendapat
sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin
seakan-akan mereka kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan
yang gemilang.


Berkata mereka kepada Nabi Saleh : “Wahai Saleh! Untamu telah
mati dibunuh, cobalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan
ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk
orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya.”



Nabi Saleh menjawab : “Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan
menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka
dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa
azab yang Allah talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu.Kamu
telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu
kepada-Nya. Janji Allah tidak akan meleset. Kamu boleh bersuka ria dan
bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu
yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan
taqdir-Nya yang tidak dpt ditunda atau dihalang.”



Ada kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui
rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi
kesempatan, kalau-kalau mereka sadar akan dosanya dan bertaubat minta
ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.


Akan tetapi dalam kenyataannya tempo tiga hari itu bahkan menjadi
bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat
datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.


Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di
atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama
bila mereka terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mereka menjadi
kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari
ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.


Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada
kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang
pembunuhan atas diri Nabi Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan
itu. Mereka mengadakan pertemuan rahasia dan bersumpah bersama akan
melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang
masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh
keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identitas mereka sebagai
pembunuhnya. Rancangan mereka ini dirahasiakan sehingga tidak diketahui
dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.


Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan
jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di
atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana
datangnya dan yang seketika merebahkan mereka di atas tanah dalam
keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindungi
rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir.


Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu,
dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin
pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestina, meninggalkan
Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar
yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.


Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya
surah Al-A’raaf, ayat 73 hingga 79 , surah ” Hud ” ayat 61 sehingga
ayat 68 dan surah ” Al-Qamar ” ayat 23 sehingga ayat 32.

http://jumailischaniago.wordpress.com