Friday, November 23, 2012

kisah Nabi Ibrahim AS (ابراهيم)













Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin
Rau’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh
A.S. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama “Faddam A’ram” dalam
kerajaan “Babylon” yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja
bernama “Namrud bin Kan’aan.”


Kerajaan Babylon pada masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat
hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang maupun
pandangan serta saranan-saranan yang menjadi keperluan pertumbuhan
jasmani mereka. Akan tetapi tingkatan hidup rohani mereka masih berada
di tingkat jahiliyah. Mereka tidak mengenal Tuhan Pencipta mereka yang
telah mengaruniakan mereka dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan
duniawi. Persembahan mereka adalah patung-patung yang mereka pahat
sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.


Raja mereka Namrud bin Kan’aan menjalankan tampuk pemerintahnya
dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak.Semua kehendaknya harus
terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak
dapat dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di
tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebih-lebihan yang ia nikmati
lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja.
Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia
berfikir jika rakyatnya mau dan rela menyembah patung-patung yang
terbina dari batu yang tidak dapat memberi manfaat dan mendatangkan
kebahagiaan bagi mereka, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai
tuhan.Dia yang dapat berbicara, dapat mendengar, dapat berfikir, dapat
memimpin mereka, membawa kemakmuran bagi mereka dan melepaskan dari
kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dapat mengubah orang miskin menjadi
kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia. Di
samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara
yang besar dan luas.


Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan
dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai
pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calon Rasul dan pesuruh Allah
yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya, jauh-jauh telah
diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang
telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat
yang sesat yang menandakan kebodohan dan kedangkalan fikiran dan bahwa
persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar
yang harus diberantas dan diperangi agar mereka kembali kepada
persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Tuhan pencipta alam semesta ini.


Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan
persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih
dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan hatinya serta
membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin sekali mangganggu
fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya
bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.
Berserulah ia kepada Allah : “Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku
bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.” Allah
menjawab seruannya dengan berfirman : ”Tidakkah engkau beriman dan
percaya kepada kekuasaan-Ku ” Nabi Ibrahim menjawab : “Betul, wahai
Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada
kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku
sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan
agar makin menjadi tebal dan kokouh keyakinanku kepada-Mu dan kepada
kekuasaan-Mu.”


Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia
menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti
bahgian tubuh-tubuh burung itu, lalu memotongnya menjadi
berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak
hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap
bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.

Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu,
diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah
terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bagian tubuh burung
dari bagian yang lain.


Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan empat ekor
burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sediakala begitu
mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah
empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata
kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan
kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari
sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang
diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan
menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya,
bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau
di bumi yang dapat menghalangi atau menentangnya dan hanya kata “Kun”
yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikehendaki ”
Fayakun”.


Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang
lain, bertuhan dan menyembah berhala. Bahkan ia adalah pedagang dari
patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan darinya orang
membeli patung-patung yang dijadikan persembahan. Nabi Ibrahim merasa
bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada
orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat
kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala
itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.Beliau merasakan bahwa bakti
kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar
melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada
Allah Yang Maha Kuasa.


Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota
menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang
telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk
menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan
patung-patung ayahnya kepada calon pembeli dengan kata-kata : “Siapakah
yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? “


Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang
anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang
kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi
dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu
yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan
lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala
seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala
itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi
penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula
kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah
semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh kepada manusia
sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar
merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari
berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan
manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mereka rezeki dan
kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada
manusia.


Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata
seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan hal
yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina
kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan
itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak
menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata
yang kasar dan dalam maki namun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara
mereka. Ia berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: “Hai Ibrahim!
Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan
kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar
aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba
mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama
ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan
persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi
bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah
engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan
engkau.”


Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata
kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seraya
berkata : “Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan
ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan
selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka
dan malang dengan doaku untukmu.” Lalu keluarlah Nabi Ibrahim
meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih dan prihati karena tidak
berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.


Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyadarkan ayahnya yang
tersesat itu sangat menusuk hatinya karena ia sebagai putera yang baik
ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat
dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah
di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar
ayahnya mendapat hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka
sia-sialah keinginan dan usahanya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya
dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi
ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus
memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih
persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang
bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya


Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak
kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anut
dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa bila mereka sudah tidak
berdaya menilai dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang
dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan
kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka
kemukakan yaitu bahwa mereka hanya meneruskan apa yang oleh bapak-bapak
dan nenek moyang mereka dilakukan dan sesekali mereka tidak akan
melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.


Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan
bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mau
menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau
dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mereka tidak akan
menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun oleh Nabi
Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahwa mereka dan bapak-bapak mereka
keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis. Nabi Ibrahim
kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang
nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa
berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi
mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.




Nabi Ibrahim AS di Bakar


Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan
Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu
hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka
tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkemah dengan membawa
bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan
bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi.
Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan
rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi
Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit
dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khawatir
bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan
menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.


“Inilah dia kesempatan yang ku nantikan,” kata hati Nabi Ibrahim
tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak
terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun
pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak
ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah
ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan
patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil
menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap
kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek : “Mengapa kamu tidak makan
makanan yang lazat yang disajikan bagi kamu ini?. Jawablah aku dan
berkata-katalah kamu.” Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu
dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di
tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang
pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.


Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari
berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan
mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak
di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada heran dan
takjub : “Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang
jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mereka ini?” Berkata
salah seorang diantara mereka : “Ada kemungkinan bahwa orang yang
selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim
itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini.” Seorang yang lain
menambah keterangan dengan berkata : “Bahkan dialah yang pasti berbuat,
karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami
semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu.” Selidik punya
selidik, akhirnya terdapat kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa
Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat
kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian
atau penghinaan yang tidak dapat diampuni terhadap kepercayaan dan
persembahan mereka. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari
segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab
dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota
dapat turut serta menyaksikannya.


Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar
pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat
dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat
secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mereka yang bathil
dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang
ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan
terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.Hari
pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok
berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang
pengadilan itu.


Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili
ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan,
menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang
telah berani menghancurkan persembahan mereka. Ditanyalah Nabi Ibrahim
oleh para hakim :” Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan
merusakkan tuhan-tuhan kami?” Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi
Ibrahim menjawab:” Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya
itulah yang melakukannya. Coba tanya saja kepada patung-patung itu
siapakah yang menghancurkannya.” Para hakim penanya terdiam sejenak
seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik,
seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si
hakim:” Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan
berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?” Tibalah masanya
yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawaban atas
pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan
persembahan mereka,yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata
hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim
kepada para hakim itu:” Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah
patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan
tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak
mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan
kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan
kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa
persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh
syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu,
menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi
dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan
persembahan kamu itu.”


Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya iut, para hakim
mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup
sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan
tuhan-tuhan mereka, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir
menyaksikan pengadilan itu:” Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu ,
jika kamu benar-benar setia kepadanya.”


Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum
dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah
dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh
seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran
disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana
tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bagian membawa kayu
bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan
persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.


Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu
bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara
terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa
sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari
tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi
yang hamil di kala ia bersalin.Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan
yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun
laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan
pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan
terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di
atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya uap yang ditimbulkan oleh api
yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim
didatangkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia
kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman
Allah:” Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”


Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke
dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan
sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak
akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan korban
keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang
terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia
merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali
temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus,
sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak
sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang
diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat
melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada
hamba-hamba Allah yang tersesat itu.


Para penonton upacara pembakaran heran tercenggang tatkala melihat
Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu
dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berda seperti
biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Mereka
bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan heran seraya bertanya-tanya
pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib
itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah
nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah.Ada sebahagian
dari mereka yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama
mereka namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang
lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mereka merasa kecewa dan
malu, karena hukuman yang mereka jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan
kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah
berakhir dengan kegagalan, sehingga mereka merasa malu kepada Nabi
Ibrahim dan para pengikutnya.


Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai
bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan
dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan
patung-patung mereka dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk
memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak
kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi
Ibrahim, namun khawatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya
akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang
mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah
beralih ke pihak Nabi Ibrahim.


Sarah wafat dalam usia lanjut, dan dimakamkan di gua ladang Makhpela,
dekat Hebron, yang telah dibeli Ibrahim. Ibrahim juga dimakamkan di
sini. Berabad-abad kemudian makam ini menjadi tempat kunjungan agama dan
umat Islam membangun Masjid Ibrahim di tempat ini.