Monday, November 26, 2012

Nabi Sulaiman AS (سليمان)












Nabi
Sulaiman adalah salah seorang putera Nabi Daud. Sejak ia masih
kanak-kanak berusia sebelas tahun, ia sudah menampakkan tanda-tanda
kecerdasan, ketajaman otak, kepandaian berfikir serta ketelitian di
dalam mempartimbangkan dan mengambil sesuatu keputusan.


Sewaktu Daud, ayahnya menduduki tahta kerajaan Bani Isra’il ia selalu
mendampinginya dalam tiap-tiap sidang peradilan yang diadakan untuk
menangani perkara-perkara perselisihan dan sengketa yang terjadi di
dalam masyarakat. Ia memang sengaja dibawa oleh Daud, ayahnya
menghadiri sidang-sidang peradilan untuk melatihnya serta menyiapkannya
sebagai putera mahkota yang akan menggantikanya memimpin kerajaan,
bila tiba saatnya ia harus memenuhi panggilan Ilahi meninggalkan dunia
yang fana ini. Dan memang Sulaimanlah yang terpandai di antara sesama
saudara yang bahkan lebih tua usia daripadanya.


Suatu peristiwa yang menunjukkan kecerdasan dan ketajaman otaknya
yaitu terjadi pada salah satu sidang peradilan yang ia turut
menghadirinya. dalam persidangan itu dua orang datang mengadu meminta
Nabi Daud mengadili perkara sengketa mereka, yaitu bahawa kebun tanaman
salah seorang dari kedua lelaki itu telah dimasuki oleh kambing-kambing
ternak kawannya di waktu malam yang mengakibatkan rusak binasanya
perkarangannya yang sudah dirawatnya begitu lama sehingga mendekati masa
menuainya. Kawan yang diadukan itu mengakui kebenaran pengaduan
kawannya dan bahawa memang hewan ternaknyalah yang merusak kebun dan
perkarangan kawannya itu.


Dalam perkara sengketa tersebut, Daud memutuskan bahawa sebagai ganti
rugi yang diderita oleh pemilik kebun akibat perusakan kambing-kambing
peliharaan tetangganya, maka pemilik kambing-kambing itu harus
menyerahkan binatang peliharaannya kepada pemilik kebun sebagai ganti
rugi yang disebabkan oleh kelalaiannya menjaga binatang ternaknya. Akan
tetapi Sulaiman yang mendengar keputusan itu yang dijatuhkan oleh
ayahnya itu yang dirasa kurang tepat berkata kepada si ayah: “Wahai
ayahku, menurut partimbanganku keputusan itu sepatut berbunyi
sedemikian : Kepada pemilik perkarangan yang telah binasa tanamannya
diserahkanlah hewan ternaknya untuk dipelihara, diambil hasilnya dan
dimanfaatkan bagi keperluannya, sedang perkarangannya yang telah binasa
itu diserahkan kepada tetangganya pemilik peternak untuk dipugar dan
dirawatnya sampai kembali kepada keadaan asalnya, kemudian masing-masing
menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian masing-masing
pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau kerugian lebih daripada
yang sepatutnya.”



Keputusan yang diusulkan oleh Sulaiman itu diterima baik oleh kedua
orang yang menggugat dan digugat dan disambut oleh para orang yang
menghadiri sidang dengan rasa kagum terhadap kecerdasan dan kepandaian
Sulaiman yang walaupun masih muda usianya telah menunjukkan kematangan
berfikir dan keberanian melahirkan pendapat walaupun tidak sesuai dengan
pendapat ayahnya. Peristiwa ini merupakan permulaan dari sejarah hidup
Nabi Sulaiman yang penuh dengan mukjizat kenabian dan karunia Allah
yang dilimpahkan kepadanya dan kepada ayahnya Nabi Daud.


Nabi Sulaiman Menjadi Raja


Sejak
masih berusia muda Sulaiman telah disiapkan oleh Daud untuk
menggantikannya untuk menduduki tahta singgasana kerajaan Bani Isra’il.
Kakak Sulaiman yang bernama Absyalum tidak merelakan dirinya
dilangkahi oleh adiknya .Ia beranggapan bahawa dialah yang sepatutnya
menjadi putera mahkota dan bukan adiknya yang lebih lemah fisiknya dan
lebih muda usianya serta belum banyak mempunyai pengalaman hidup separti
dia. Karenanya ia menaruh dendam terhadap ayahnya yang menurut
anggapannya tidak berlaku adil dan telah memperkosa haknya sebagai
pewaris pertama dari tahta kerajaan Bani Isra’il.


Absyalum berketetapan hati akan memberotak terhadap ayahnya dan akan
berjuang bermati-matian untuk merebut kekuasaan dari tangan ayahnya
atau adiknya apa pun yang harus ia korbankan untuk mencapai tujuan itu.
Dan sebagai persiapan bagi rancangan pemberontakannya itu, dari
jauh-jauh ia berusaha mendekati rakyat, menunjukkan kasih sayang dan
cintanya kepada mereka menolong menyelesaikan masalah-masalah yang
mereka hadapi serta mempersatukan mereka di bawah pengaruh dan
pimpinannya. Ia tidak jarang bagi memperluaskan pengaruhnya, berdiri
didepan pintu istana mencegat orang-orang yang datang ingin menghadap
raja dan ditanganinya sendiri masalah-masalah yang mereka minta
penyelesaian.


Setelah merasa bahawa pengaruhnya sudah meluas di kalangan rakyat
Bani Isra’il dan bahawa ia telah berhasil memikat hati sebagian besar
dari mereka, Absyalum menganggap bahawa saatnya telah tiba untuk
melaksanakan rencana rampasan kuasa dan mengambil alih kekuasaan dari
tangan ayahnya dengan paksa. Lalu ia menyebarkan mata-matanya ke seluruh
pelosok negeri menghasut rakyat dan memberi tanda kepada
penyokong-penyokong rencananya, bahawa bila mereka mendengar suara bunyi
terompet, maka haruslah mereka segera berkumpul, mengerumuninya
kemudian mengumumkan pengangkatannya sebagai raja Bani Isra’il
menggantikan Daud ayahnya.


Pada suatu pagi hari di kala Daud duduk di serambi istana
berbincang-bincang dengan para pembesar dan para penasihat
pemerintahannya, terdengarlah suara bergemuruh rakyat bersorak-sorai
meneriakkan pengangkatan Absyalum sebagai raja Bani Isra’il menggantikan
Daud yang dituntut turun dari tahtanya. Keadaan kota menjadi
kacau-balau dilanda huru-hara keamanan tidak terkendalikan dan
perkelahian terjadi di mana-mana antara orang yang pro dan yang kontra
dengan kekuasaan Absyalum.


Nabi Daud merasa sedih melihat keributan dan kekacauan yang melanda
negerinya, akibat perbuatan puterannya sendiri. Namun ia berusaha
menguasai emosinya dan menahan diri dari perbuatan dan tindakan yang
dapat menambah parahnya keadaan. Ia mengambil keputusan untuk
menghindari pertumpahan darah yang tidak diinginkan, keluar meninggalkan
istana dan lari bersama-sama pekerjanya menyeberang sungai Jordan
menuju bukit Zaitun. Dan begitu Daud keluar meninggalkan kota Jerusalem,
masuklah Absyalum diiringi oleh para pengikutnya ke kota dan segera
menduduki istana kerajaan. Sementara Nabi Daud melakukan istikharah dan
munajat kepada Tuhan di atas bukit Zaitun memohon taufiq dan
pertolongan-Nya agar menyelamatkan kerajaan dan negaranya dari
malapetaka dan keruntuhan akibat perbuatan puteranya yang durhaka itu.


Setelah mengadakan istikharah dan munajat yang tekun kepada Allah,
akhirnya Daud mengambil keputusan untuk segera mengadakan kontra aksi
terhadap puteranya dan dikirimkanlah sepasukan tentera dari para
pengikutnya yang masih setia kepadanya ke Jerusalem untuk merebut
kembali istana kerajaan Bani Isra’il dari tangan Absyalum. Beliau
berpesan kepada komandan pasukannya yang akan menyerang dan menyerbu
istana, agar bartindak bijaksana dan sedapat mungkin menghindari
pertumpahan darah dan pembunuhan yang tidak perlu, teristimewa mengenai
Absyalum, puteranya, ia berpesan agar diselamatkan jiwanya dan
ditangkapnya hidup-hidup. Akan tetapi takdir telah menentukan lain
daripada apa yang si ayah inginkan bagi puteranya. Komandan yang
berhasil menyerbu istana tidak dapat berbuat lain kecuali membunuh
Absyalum yang melawan dan enggan menyerahkan diri setelah ia terkurung
dan terkepung.


Dengan terbunuhnya Absyalum kembalilah Daud menduduki tahtanya dan
kembalilah ketenangan meliputi kota Jerusalem sebagaimana sediakala. Dan
setelah menduduki tahta kerajaan Bani Isra’il selama empat puluh tahun
wafatlah Nabi Daud dalam usia yang lanjut dan dinobatkanlah sebagai
pewarisnya Sulaiman sebagaimana telah diwasiatkan oleh ayahnya.


Nabi Sulaiman yang telah berkuasa penuh atas kerajaan Bani Isra’il
yang makin meluas dan melebar, Allah telah menundukkan baginya
makhluk-makhluk lain, yaitu Jin angin dan burung-burung yang kesemuanya
berada di bawah perintahnya melakukan apa yang dikehendakinya dan
melaksanakan segala komandonya. Di samping itu Allah memberinya pula
suatu karunia berupa mengalirnya cairan tembaga dari bawah tanah untuk
dimanfaatkannya bagi karya pembangunan gedung-gedung, pembuatan
piring-piring sebesar kolam air, periuk-periuk yang tetap berada diatas
tungku yang dikerjakan oleh pasukan Jinnya.


Sebagai salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Sulaiman
ialah kesanggupan beliau menangkap maksud yang terkandung dalam suara
binatang-binatang dan sebaliknya binatang-binatang dapat pula mengerti
apa yang ia perintahkan dan ucapkan.Demikianlah maka tatkala Nabi
Sulaiman berpergian dalam rombongan kafilah yang besar terdiri dari
manusia, jin dan binatang-binatang lain, menuju ke sebuah tempat bernama
Asgalan ia melalui sebuah lembah yang disebut lembah semut. Disitu ia
mendengar seekor semut berkata kepada kawan-kawannya: “Hai
semut-semut, masuklah kamu semuanya ke dalam sarangmu, agar supaya kamu
selamat dan tidak menjadi binasa diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya
tanpa ia sadar dan sengaja.



Nabi Sulaiman tersenyum tertawa mendengar suara semut yang ketakutan
itu. Ia memberitahu hal itu kepada para pengikutnya seraya bersyukur
kepada Allah atas karunia-Nya yang menjadikan ia dapat mendengar serta
menangkap maksud yang terkandung dalam suara semut itu. Ia merasa takjud
bahawa binatang pun mengarti bahawa nabi-nabi Allah tidak akan
mengganggu sesuatu makhluk dengan sengaja dan dalam keadaan sadar.




Nabi Sulaiman Dan Ratu Balqis



Setelah
Nabi Sulaiman membangunkan Baitulmaqdis dan melakukan ibadah haji
sesuai dengan nadzarnya pergilah ia meneruskan perjalannya ke Yeman.
Setibanya di San’a – ibu kota Yeman ,ia memanggil burung hud-hud
sejenis burung pelatuk untuk disuruh mencari sumber air di tempat yang
kering tandus itu. Ternyata bahawa burung hud-hud yang dipanggilnya itu
tidak berada diantara kawasan burung yang selalu berada di tempat
untuk melakukan tugas dan perintah Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman marah
dan mengancam akan mengajar burung Hud-hud yang tidak hadir itu bila ia
datang tanpa alasan yang nyata.


Berkata burung Hud-hud yang hinggap didepan Sulaiman sambil menundukkan kepala ketakutan:
“Aku telah melakukan penerbangan pengintaian dan menemukan sesuatu
yang sangat penting untuk diketahui oleh paduka Tuan. Aku telah
menemukan sebuah kerajaan yang besar dan mewah di negeri Saba yang
dikuasai dan diperintah oleh seorang ratu. Aku melihat seorang ratu itu
duduk di atas sebuah tahta yang megah bertaburkan permata yang
berkilauan. Aku melihat ratu dan rakyatnya tidak mengenal Tuhan
Pencipta alam semesta yang telah mengurniakan mereka kenikmatan dan
kebahagian hidup. Mereka tidak menyembah dan sujud kepada-Nya, tetapi
kepada matahari. Mereka bersujud kepadanya dikala terbit dan terbenam.
Mereka telah disesatkan oleh syaitan dari jalan yang lurus dan benar.”



Berkata Sulaiman kepada Hud-hud: “Baiklah, kali ini aku ampuni
dosamu karena berita yang engkau bawakan ini yang aku anggap penting
untuk diperhatikan dan untuk mengesahkan kebenaran beritamu itu, bawalah
suratku ini ke Saba dan lemparkanlah ke dalam istana ratu yang engkau
maksudkan itu, kemudian kembalilah secepat-cepatnya, sambil kami
menanti perkembangan selanjutnya bagaimana jawaban ratu Saba atas
suratku ini.”



Hud-hud terbang kembali menuju Saba dan setibanya di atas istana
kerajaan Saba dilemparkanlah surat Nabi Sulaiman tepat di depan ratu
Balqis yang sedang duduk dengan megah di atas tahtanya. Ia terkejut
melihat sepucuk surat jatuh dari udara tepat di depan wajahnya. Ia lalu
mengangkat kepalanya melihat ke atas, ingin mengetahui dari manakah
surat itu datang dan siapakah yang secara kurang hormat melemparkannya
tepat di depannya. Kemudian diambillah surat itu oleh ratu, dibuka dan
baca isinya yang berbunyi: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Penyayang, surat ini adalah dariku, Sulaiman. Janganlah kamu
bersikap sombong terhadapku dan menganggap dirimu lebih tinggi
daripadaku. Datanglah sekalian kepadaku berserah diri.”



Setelah dibacanya berulang kali surat Nabi Sulaiman Ratu Balqis
memanggil para pembesarnya dan para penasihat kerajaan berkumpul untuk
memusyawarahkan tindakan apa yang harus diambil sehubungan dengan surat
Nabi Sulaiman yang diterimanya itu.

Berkatlah para pembesar itu ketika diminta petimbangannya: “Wahai
paduka tuan ratu, kami adalah putera-putera yang dibesarkan dan dididik
untuk berperang dan bertempur dan bukan untuk menjadi ahli pemikir atau
perancang yang patut memberi partimbangan atau nasihat kepadamu. Kami
menyerahkan kepadamu untuk mengambil keputusan yang akan membawa
kebaikan bagi kerajaan dan kami akan tunduk dan melaksanakan segala
perintah dan keputusanmu tanpa ragu. Kami tidak akan gentar menghadapi
segala ancaman dari mana pun datangnya demi menjaga keselamatanmu dam
keselamatan kerajaanmu.”



Ratu Balqis menjawab: “Aku memperoleh kesan dari uraianmu bahwa kamu
mengutamakan cara kekerasan dan kalau perlu kamu tidak akan gentar
masuk medan perang melawan musuh yang akan menyerbu. Aku sangat
berterima kasih atas kesetiaanmu kepada kerajaan dan kesediaanmu
menyabung nyawa untuk menjaga keselamatanku dan keselamatan kerajaanku.
Akan tetapi aku tidak sependirian dengan kamu sekalian. Menurut
partimbanganku, lebih bijaksana bila kami menempuh jalan damai dan
menghindari cara kekerasan dan peperangan. Sebab bila kami menentang
secara kekerasan dan sampai terjadi perang dan musuh kami berhasil
menyerbu masuk kota-kota kami, maka niscaya akan berakibat kerusakan dan
kehancuran yang sangat menyedihkan. Mereka akan menghancur binasakan
segala bangunan, memperhambakan rakyat dan merampas segala harta milik
dan peninggalan nenek moyang kami. Hal yang demikian itu adalah
merupakan akibat yang wajar dari tiap peperangan yang dialami oleh
sejarah manusia dari masa ke semasa. Maka menghadapi surat Sulaiman yang
mengandung ancaman itu, aku akan coba melunakkan hatinya dengan
mengirimkan sebuah hadiah kerajaan yang akan terdiri dari barang-barang
yang berharga dan bermutu tinggi yang dapat mempesonakan hatinya dan
menyilaukan matanya dan aku akan melihat bagaimana ia memberi tanggapan
dan reaksi terhadap hadiahku itu dan bagaimana ia menerima utusanku di
istananya.”



Selagi Ratu Balgis siap-siap mengatur hadiah kerajaan yang akan dikirim
kepada Sulaiman dan memilih orang-orang yang akan menjadi utusan
kerajaan membawa hadiah, tibalah hinggap di depan Nabi Sulaiman burung
pengintai Hud-hud memberitakan kepadanya rancangan Balqis untuk mengirim
utusan membawa hadiah baginya sebagai jawaban atas surat beliau
kepadanya. Setelah mendengar berita yang dibawa oleh Hud-hud itu, Nabi
Sulaiman mengatur rencana penerimaan utusan Ratu Balqis dan
memerintahkan kepada pasukan Jinnya agar menyediakan dan membangunkan
sebuah bangunan yang megah yang tiada taranya yang akan menyilaukan mata
utusan Balqis bila mereka tiba.


Tatkala utusan Ratu Balqis datang, diterimalah mereka dengan ramah
tamah oleh Sulaiman dan setelah mendengar uraian mereka tentang maksud
dan tujuan kedatangan mereka dengan hadiah kerajaan yang dibawanya,
berkatalah Nabi Sulaiman: “Kembalilah kamu dengan hadiah-hadiah ini
kepada ratumu. Katakanlah kepadanya bahawa Allah telah memberiku rezeki
dan kekayaan yang melimpah ruah dan mengaruniaiku dengan karunia dan
nikmat yang tidak diberikannya kepada seseorang dari makhluk-Nya. Di
samping itu aku telah diutuskan sebagai nabi dan rasul-Nya dan
dianugerahi kerajaan yang luas yang kekuasaanku tidak saja berlaku atas
manusia tetapi mencakup juga jenis makhluk Jin dan binatang-binatang.
Maka bagaimana aku akan dapat dibujuk dengan harta benda dan hadiah
serupa ini? Aku tidak dapat dilalaikan dari kewajiban dakwah kenabianku
oleh harta benda dan emas walaupun sepenuh bumi ini. Kamu telah
disilaukan oleh benda dan kemegahan duniawi, sehingga kamu memandang
besar hadiah
yang kamu bawakan ini dan mengira bahawa akan
tersilaulah mata kami dengan hadiah Ratumu. Pulanglah kamu kembali dan
sampaikanlah kepadanya bahawa kami akan mengirimkan bala tentera yang
sangat kuat yang tidak akan terkalahkan ke negeri Saba dan akan
mengeluarkan ratumu dan pengikut-pengikutnya dari negerinya sebagai-
orang-orang yang hina-dina yang kehilangan kerajaan dan kebesarannya,
jika ia tidak segera memenuhi tuntutanku dan datang berserah diri
kepadaku.”



Utusan Balqis kembali melaporkan kepada Ratunya apa yang mereka alami
dan apa yang telah diucapkan oleh Nabi Sulaiman. Balqis berfikir, jalan
yang terbaik untuk menyelamatkan diri dan kerajaannya ialah menyerah
saja kepada tuntutan Sulaiman dan datang menghadap dia di istananya.
Nabi Sulaiman berhasrat akan menunjukkan kepada Ratu Balqis bahawa ia
memiliki kekuasaan ghaib di samping kekuasaan lahirnya dan bahwa apa
yang dia telah ancamkan melalui rombongan utusan bukanlah ancaman yang
kosong. Maka bertanyalah beliau kepada pasukan Jinnya, siapakah diantara
mereka yang sanggup mendatangkan tahta Ratu Balqis sebelum orangnya
datang berserah diri.


Berkata Ifrit, seorang Jin yang tercerdik: “Aku sanggup membawa
tahta itu dari istana Ratu Balqis sebelum engkau sempat berdiri dari
tempat dudukimu. Aku adalah pesuruhmu yang kuat dan dapat dipercayai.”
Seorang lain yang mempunyai ilmu dan hikmah nyeletuk berkata: “Aku akan membawa tahta itu ke sini sebelum engkau sempat memejamkan matamu.”


Ketika Nabi Sulaiman melihat tahta Balqis sudah berada didepannya, berkatalah ia: “Ini
adalah salah satu karunia Tuhan kepadaku untuk mencoba apakah aku
bersyukur atas karunia-Nya itu atau mengingkari-Nya, karena barang
siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya
sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan karunia Allah, ia akan
rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha
Mulia.”



Menyonsong kedatangan Ratu Balqis, Nabi Sulaiman memerintahkan
orang-orangnya agar mengubah sedikit bentuk dan warna tahta Ratu itu
yang sudah berada di depannya kemudian setelah Ratu itu tiba berserta
pengiring-pengiringnya, bertanyalah Nabi Sulaiman seraya menundingkan
kepada tahtanya: “Serupa inikah tahtamu?” Balqis menjawab: “Seakan-akan ini adalah tahtaku sendiri,”
seraya bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana mungkin bahawa tahtanya
berada di sini padahal ia yakin bahawa tahta itu berada di istana
tatkala ia bertolak meninggalkan Saba.


Selagi Balgis berada dalam keadaan kacau fikiran, keheranan melihat
tahta kerajaannya sudah berpindah ke istana Sulaiman, ia dibawa masuk ke
dalam sebuah ruangan yang sengaja dibangun untuk penerimaannya. Lantai
dan dinding-dindingnya terbuat dari kaca putih. Balqis segera
menyingkapkan pakaiannya ke atas betisnya ketika berada dalam ruangan
itu, mengira bahawa ia berada di atas sebuah kolam air yang dapat
membasahi tubuh dan pakaiannya.


Berkata Nabi Sulaiman kepadanya: “Engkau tidak usah menyingkap
pakaianmu. Engkau tidak berada di atas kolam air. Apa yang engkau lihat
itu adalah kaca-kaca putih yang menjadi lantai dan dinding ruangan
ini.”



“Oh,Tuhanku,” Balqis berkata menyedari kelemahan dirinya terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang dipertunjukkan oleh Nabi Sulaiman, “aku
telah lama tersesat berpaling daripada-Mu, melalaikan nikmat dan
karunia-Mu, merugikan dan menzalimi diriku sendiri sehingga terjatuh
dari cahaya dan rahmat-Mu. Ampunilah aku. Aku berserah diri kepada
Sulaiman Nabi-Mu dengan ikhlas dan keyakinan penuh. Kasihanilah diriku
wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”



Demikianlah kisah Nabi Sulaiman dan Balqis Ratu Saba. Dan menurut
sementara ahli tafsir dan ahli sejarah nabi-nabi, bahawa Nabi Sulaiman
pada akhirnya kawin dengan Balqis dan dari perkawinannya itu lahirlah
seorang putera. Menurut pengakuan maharaja Ethiopia Abessinia, mereka
adalah keturunan Nabi Sulaiman dari putera hasil perkawinannya dengan
Balqis itu. Wallahu alam bisshawab.


Al-Quran mengisahkan bahawa tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan
kematian Sulaiman kecuali rayap yang memakan tongkatnya yang ia sandar
kepadanya ketika Tuhan mengambil rohnya. Para Jin yang sedang
mengerjakan bangunan atas perintahnya tidak mengetahui bahawa Nabi
Sulaiman telah mati kecuali setelah mereka melihat Nabi Sulaiman
tersungkur jatuh di atas lantai, akibat jatuhnya tongkat sandarannya
yang dimakan oleh rayap. Sekiranya para Jin sudah mengetahui sebelumnya,
pasti mereka tidak akan tetap meneruskan pekerjaan yang mereka anggap
sebagai siksaan yang menghinakan.


Berbagai cerita yang dikaitkan orang pada ayat yang mengisahkan
matinya Nabi Sulaiman, namun karena cerita-cerita itu tidak ditunjang
dikuatkan oleh sebuah hadis sahih yang muktamad, maka sebaiknya kami
berpegang saja dengan apa yang dikisahkan oleh Al-Quran dan selanjutnya
Allah lah yang lebih Mengetahui dan kepada-Nya kami berserah diri.


Kisah Nabi Sulaiman dapat dibaca di dalam Al-Quran, surah An-Naml ayat 15 sehingga ayat 44

http://jumailischaniago.wordpress.com