Monday, November 26, 2012

Kisah Nabi Yakub as












Nabi
Ya’qub adalah putera dari Nabi Ishaq bin Ibrahim sedang ibunya adalah
anak saudara dari Nabi Ibrahim, bernama Rifqah binti A’zar. Ia adalah
saudara kembar dari putera Ishaq yang kedua bernama Ishu.

Antara kedua saudara kembar ini tidak terdapat suasana rukun dan damai
serta tidak ada menaruh kasih-sayang satu terhadap yang lain bahkan Ishu
mendendam dengki dan iri hati terhadap Ya’qub saudara kembarnya yang
memang dimanjakan dan lebih disayangi serta dicintai oleh ibunya.
Hubungan mereka yang renggang dan tidak akrab itu makin buruk dan tegang
setelah diketahui oleh Ishu bahwa Ya’qublah yang diajukan oleh ibunya
ketika ayahnya minta kedatangan anak-anaknya untuk diberkahi dan
didoakan, sedangkan dia tidak diberitahu dan karenanya tidak mendapat
kesempatan seperti Ya’qub memperoleh berkah dan doa ayahnya, Nabi Ishaq.


Melihat sikap saudaranya yang bersikap kaku dan dingin dan mendengar
kata-kata sindirannya yang timbul dari rasa dengki dan irihati, bahkan
ia selalu diancam maka datanglah Ya’qub kepada ayahnya mengadukan sikap
permusuhan itu. Ia berkata mengeluh : ” Wahai ayahku! Tolonglah berikan
fikiran kepadaku, bagaimana harus aku menghadapi saudaraku Ishu yang
membenciku mendendam dengki kepadaku dan selalu menyindirku dengan
kata-kata yang menyakitkan hatiku, sehinggakan menjadihubungan
persaudaraan kami ber dua renggang dan tegang tidak ada saling cinta
mencintai saling sayang-menyayangi. Dia marah karena ayah memberkahi dan
mendoakan aku agar aku memperolehi keturunan soleh, rezeki yang mudah
dan kehidupan yang makmur serta kemewahan . Dia menyombongkan diri
dengan kedua orang isterinya dari suku Kan’aan dan mengancam bahwa
anak-anaknya dari kedua isteri itu akan menjadi saingan berat bagi
anak-anakku kelak didalam pencarian dan penghidupan dan macam-macam
ancaman lain yang mencemas dan menyesakkan hatiku. Tolonglah ayah
berikan aku fikiran bagaimana aku dapat mengatasi masalah ini serta
mengatasinya dengan cara kekeluargaan.


Berkata si ayah, Nabi Ishaq yang memang sudah merasa kesal hati
melihat hubungan kedua puteranya yang makin hari makin meruncing:” Wahai
anakku, karena usiaku yang sudah lanjut aku tidak dapat menengahi kamu
berdua ubanku sudah menutupi seluruh kepalaku, badanku sudah membongkok
raut mukaku sudah kisut berkerut dan aku sudak berada di ambang pintu
perpisahan dari kamu dan meninggalkan dunia yang fana ini. Aku khuatir
bila aku sudah menutup usia, gangguan saudaramu Ishu kepadamu akan makin
meningkat dan ia secara terbuka akan memusuhimu, berusaha mencari
kecelakaan mu dan kebinasaanmu. Ia dalam usahanya memusuhimu akan
mendapat sokongan dan pertolongan dan saudara-saudara iparnya yang
berpengaruh dan berwibawa di negeri ini. Maka jalan yang terbaik bagimu,
menurut fikiranku, engkau harus pergi meninggalkan negeri ini dan
berhijrah engkau ke Fadan A’raam di daerah Irak, di mana bermukin bapa
saudaramu saudara ibumu Laban bin Batu;il. Engkau dapat mengharap
dikahwinkan kepada salah seorang puterinya dan dengan demikian menjadi
kuatlah kedudukan sosialmu disegani dan dihormati orang karena karena
kedudukan mertuamu yang menonjol di mata masyarkat. Pergilah engkau ke
sana dengan iringan doa drpku semoga Allah memberkahi perjalananmu,
memberi rezeki murah dan mudah serta kehidupan yang tenang dan tenteram.


Nasihat dan anjuran si ayah mendapat tempat dalam hati si anak.
Ya’qub melihat dalam anjuran ayahnya jalan keluar yang dikehendaki dari
krisis hubungan persaudaraan antaranya dan Ishu, apalagi dengan
mengikuti saranan itu ia akan dapat bertemu dengan bapa saudaranya dan
anggota-anggota keluarganya dari pihak ibunya .Ia segera berkemas-kemas
membungkus barang-barang yang diperlukan dalam perjalanan dan dengan
hati yang terharu serta air mata yang tergenang di matanya ia meminta
kepada ayahnya dan ibunya ketika akan meninggalkan rumah.


Nabi Ya’qub Tiba di Irak


Dengan melalui jalan pasir dan Sahara yang luas dengan panas
mataharinya yang terik dan angi samumnya {panas} yang membakar kulit,
Ya’qub meneruskan perjalanan seorang diri, menuju ke Fadan A’ram dimana
bapa saudaranya Laban tinggal. Dalam perjalanan yang jauh itu , ia
sesekali berhenti beristirehat bila merasa letih dan lesu .Dan dalam
salah satu tempat perhentiannya ia berhenti karena sudah sgt letihnya
tertidur dibawah teduhan sebuah batu karang yang besar .Dalam tidurnya
yang nyenyak, ia mendapat mimpi bahwa ia dikurniakan rezeki luas,
penghidupan yang aman damai, keluarga dan anak cucuc yang soleh dan
bakti serta kerajaan yang besar dan makmur. Terbangunlah Ya’qub dari
tidurnya, mengusapkan matanya menoleh ke kanan dan ke kiri dan sedarlah
ia bahawa apa yang dilihatnya hanyalah sebuah mimpi namun ia percaya
bahwa mimpinya itu akan menjadi kenyataan di kemudian hari sesuia dengan
doa ayahnya yang masih tetap mendengung di telinganya. Dengan diperoleh
mimpi itu ,ia merasa segala letih yang ditimbulkan oleh perjalanannya
menjadi hilang seolah-olah ia memperolehi tanaga baru dan bertambahlah
semangatnya untuk secepat mungkin tiba di tempat yang di tuju dan
menemui sanak-saudaranya dari pihak ibunya.


Tiba pada akhirnya Ya’qub di depan pintu gerbang kota Fadan A’ram
setelah berhari-hari siang dan malam menempuh perjalanan yang
membosankan tiada yang dilihat selain dari langit di atas dan pasir di
bawah. Alangkah lega hatinya ketika ia mulai melihat binatang-binatang
peliharaan berkeliaran di atas ladang-ladang rumput ,burung-burung
berterbangan di udara yang cerah dan para penduduk kota berhilir mundir
mencari nafkah dan keperluan hidup masing-masing.

Sesampainya disalah satu persimpangan jalan ia berhenti sebentar
bertanya salah seorang penduduk di mana letaknya rumah saudara ibunya
Laban barada. Laban seorang kaya-raya yang kenamaan pemilik dari suatu
perusahaan perternakan yang terbesar di kota itu tidak sukar bagi
seseorang untuk menemukan alamatnya. Penduduk yang ditanyanya itu segera
menunjuk ke arah seorang gadis cantik yang sedang menggembala kambing
seraya berkata kepada Ya’qub:”Kebetulan sekali, itulah dia puterinya
Laban yang akan dapat membawamu ke rumah ayahnya, ia bernama Rahil.


Dengan ahti yang berdebar, pergilah Ya’qub menghampiri yang ayu itu
dan cantik itu, lalu dengan suara yang terputus-putus seakan-akan ada
sesuatu yang mengikat lidahnya ,ia mengenalkan diri, bahwa ia adalah
saudara sepupunya sendiri. Ibunya yang bernama Rifqah adalah saudara
kandung dair ayah si gadis itu. Selanjutnya ia menerangkan kepada gadis
itu bahwa ia datang ke Fadam A’raam dari Kan’aan dengan tujuan hendak
menemui Laban ,ayahnya untuk menyampaikan pesanan Ishaq, ayah Ya’qub
kepada gadis itu. Maka dengan senang hati sikap yang ramah muka yang
manis disilakan ya’qub mengikutinya berjalan menuju rumah Laban bapa
saudaranya.


berpeluk-pelukanlah dengan mesranya si bapa saudara dengan anak
saudara, menandakan kegembiraan masing-masing dengan pertemuan yang
tidak disangka-sangka itu dan mengalirlah pada pipi masing-masing air
mata yang dicucurkan oleh rasa terharu dan sukcita. Maka disapkanlah
oleh Laban bin Batu’il tempat dan bilik khas untuk anak saudaranya
Ya’qub yang tidak berbeda dengan tempat-tempat anak kandungnya sendiri
di mana ia dapat tinggal sesuka hatinya seperti di rumahnya sendiri.


Setelah selang beberapa waktu tinggal di rumah Laban ,bapa saudaranya
sebagai anggota keluarga disampaikan oleh Ya’qub kdp bapa saudranya
pesanan Ishaq ayahnya, agar mereka berdua berbesan dengan
mengahwinkannya kepada salah seorang dari puteri-puterinya. Pesanan
tersebut di terima oleh Laban dan setuju akan mengahwinkan Laban dengan
salah seorang puterinya, dengan syarat sebagai maskahwin, ia harus
memberikan tenaga kerjanya di dalam perusahaan penternakan bakal
mentuanya selama tujuh tahun. Ya’qub menyetujuinya syarat-syarat yang
dikemukakan oleh bapa saudaranya dan bekerjalah ia sebagai seorang
pengurus perusahaan penternakan terbesar di kota Fadan A’raam itu.


Setelah mas tujuh tahun dilampaui oleh Ya’qub sebagai pekerja dalam
perusahaan penternakan Laban ,ia menagih janji bapa saudaranya yang akan
mengambilnya sebagai anak menantunya. Laban menawarkan kepada ya’qub
agar menyunting puterinya yang bernama Laiya sebagai isteri, namun anak
saudaranya menghendaki Rahil adik dari Laiya, kerana lebih cantik dan
lebih ayu dari Laiya yang ditawarkannya itu.Keinginan mana diutarakannya
secara terus terang oleh Ya’qub kepada bapa saudaranya, yang juga dari
pihak bapa saudaranya memahami dan mengerti isi hati anak saudaranya
itu. Akan tetapi adat istiadat yang berlaku pada waktu itu tidak
mengizinkan seorang adik melangkahi kakaknya kahwin lebih dahulu.
karenanya sebagi jalan tengah agak tidak mengecewakan Ya’qub dan tidak
pula melanggar peraturan yang berlaku, Laban menyarankan agar anak
saudaranya Ya’qub menerima Laiya sebagai isteri pertama dan Rahil
sebagai isteri kedua yang akan di sunting kelak setelah ia menjalani mas
kerja tujuh tahun di dalam perusahaan penternakannya.


Ya’qub yang sangat hormat kepada bapa saudaranya dan merasa berhutang
budi kepadanya yang telah menerimanya di rumah sebagai keluarga,
melayannya dengan baik dan tidakdibeda-bedakan seolah-olah anak
kandungnya sendiri, tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima cadangan
bapa saudaranya itu . Perkahwinan dilaksanakan dan kontrak untuk masa
tujuh tahun kedua ditanda-tangani.

Begitu masa tujuh tahun kedua berakhir dikahwinkanlah Ya’qub dengan
Rahil gadis yang sangat dicintainya dan selalu dikenang sejak pertemuan
pertamanya tatkala ia masuk kota Fadan A’raam. Dengan demikian Nabi
Ya’qub beristerikan dua wanita bersaudara, kakak dan adik, hal mana
menurut syariat dan peraturan yang berlaku pada waktu tidak terlarang
akan tetapi oleh syariat Muhammad s.a.w. hal semacam itu diharamkan.


Laban memberi hadiah kepada kedua puterinya iaitu kedua isteri ya’qub
seorang hamba sahaya untuk menjadi pembantu rumahtangga mereka. Dan
dari kedua isterinya serta kedua hamba sahayanya itu Ya’qub dikurniai
dua belas anak, di antaraya Yusuf dan Binyamin dari ibu Rahil sedang
yang lain dari Laiya.


Kisah Nabi Ya’qub Di Dalam Al-Quran


Kisah Nabi Ya’qub tidak terdapat dalam Al-Quran secara tersendiri,
namun disebut-sebut nama Ya’qub dalam hubungannya dengan Ibrahim, Yusuf
dan lain-lain nabi. Bahn kisah ini adalah bersumberkan dari kitab-kitab
tafsir dan buku-buku sejarah.

http://jumailischaniago.wordpress.com/

Nabi Yahya (يحيى)












Nabi
Zakaria, ayahnya Nabi Yahya sadar dan mengetahui bahawa anggota-anggota
keluarganya, saudara-saudaranya, sepupu-sepupunya dan anak-anak
saudaranya adalah orang-orang jahat Bani Israil yang tidak segan-segan
melanggar hukum-hukum agama dan berbuat maksiat, disebabkan iman dan
rasa keagamaan mereka belum meresap betul didalam hati mereka, sehingga
dengan mudah mereka tergoda dan terjerumus ke dalam lembah kemungkaran
dan kemaksiatan. Ia khawatir bila ajalnya tiba dan meninggalkan mereka
tanpa seorang waris yang dapat melanjutkan pimpinannya atas kaumnya,
bahawa mereka akan makin rusak dan makin berani melakukan kejahatan dan
kemaksiatan bahkan ada kemungkinan mereka mengadakan perubahan-perubahan
di dalam kitab suci Taurat dan menyalahgunakan hukum-hukum agama.


Kekhawatiran itu selalu mengganggu fikiran Zakaria disamping rasa
sedih hatinya bahawa ia sejak kawin hingga mencapai usia sembilan puluh
tahun, Tuhan belum mengaruniakannya dengan seorang anak yang ia
idam-idamkan untuk menjadi penggantinya memimpin dan mengimami Bani
Isra’il. Ia agak terhibur dari rasa sedih dan kekhawatirannya semasa ia
bertugas memelihara dan mengawasi Maryam yang dapat dianggap sebagai
anak kandungnya sendiri. Akan tetapi rasa sedihnya dan keinginanya yang
kuat untuk memperoleh keturunan tergugah kembali ketika ia menyaksikan
mukjizat hidangan makanan dimihrabnya Maryam. Ia berfikir didalam
hatinya bahawa tiada sesuatu yang mustahil di dalam kekuasaan Allah.
Allah yang telah memberi rezeki kepada Maryam dalam keadaan seorang diri
tidak berdaya dan berusaha, Dia pula berkuasa memberinya keturunan bila
Dia kehendaki walaupun usianya sudah lanjut dan rambutnya sudah penuh
uban.


Pada suatu malam yang sudah larut duduklah Zakaria di mihramnya
mengheningkan cipta memusatkan fikiran kepada kebesaran Allah seraya
bermunajat dan berdoa dengan khusyuk dan keyakinan yang bulat. Dengan
suara yang lemah lembut berucaplah ia dalam doanya: “Ya Tuhanku
berikanlah aku seorang putera yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian
dari keluarga Ya’qub, yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku
kepada Bani Isra’il. Aku khawatir bahawa sepeninggalanku nanti
anggota-anggota keluargaku akan rusak kembali aqidah dan imannya bila
aku tinggalkan mati tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikan aku.
Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi
uban sedang isteriku adalah seorang perempuan yang mandul namun
kekuasaan-Mu adalah diatas segala kekuasaan dan aku tidak jemu-jemunya
berdoa kepadamu memohon rahmat-Mu mengkaruniai kau seorang putera yang
soleh yang engkau ridhai.”


Allah berfirman memperkenankan permohonan Zakaria: “Hai Zakaria Kami
memberi khabar gembira kepadamu, kamu akan memperoleh seorang putera
bernama Yahya yang soleh yang membenarkan kitab-kitab Allah menjadi
pemimpin yang diikuti bertahan diri dari hawa nafsu dan godaan syaitan
serta akan menjadi seorang nabi.” Berkata Zakaria: “Ya Tuhanku bagaimana
aku akan memperolehi anak sedangkan isteri adalah seorang perempuan
yang mandul dan aku sendiri sudah lanjut usianya.”


Allah menjawab dengan firman-Nya: “Demikian itu adalah suatu hal yang
mudah bagi-Ku. Tidakkah aku telah ciptakan engkau padahal engkau di
waktu itu belum ada sama sekali?” Berkata Zakaria: “Ya Tuhanku, berilah
aku akan suatu tanda bahawa isteri aku telah mengandung.” Allah
berfirman: “Tandanya bagimu bahawa engkau tidak dapat berkata-kata
dengan manusia selama tiga hari berturut-turut kecuali dengan isyarat.
Dan sebutlah nama-Ku sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah diwaktu
petang dan pagi hari.”


Nabi Yahya bin Zakaria a.s. tidak banyak dikisahkan oleh Al-Quran
kecuali bahawa ia diberi ilmu dan hikmah selagi ia masih kanak-kanak dan
bahawa ia seorang putera yang berbakti kepada kedua ora ng tuanya dan
bukanlah orang yang sombong durhaka. Ia terkenal cerdik pandai,
berfikiran tajam sejak ia berusia muda, sangat tekun beribadah yang
dilakukan siang dan malam sehingga berpengaruh kepada kesehatan badannya
dan menjadikannya kurus kering, wajahnya pucat dan matanya cekung.


Ia dikenal oleh kaumnya sebagai orang alim menguasai soal-soal
keagamaan, hafal kitab Taurat, sehingga ia menjadi tempat bertanya
tentang hukum-hukum agama. Ia memiliki keberanian dalam mengambil
sesuatu keputusan, tidak takut dicerca orang dan tidak pula menghiraukan
ancaman pihak penguasa dalam usahanya menegakkan kebenaran dan melawan
kebathilan.


Ia selalu menganjurkan orang-orang yang telah berdosa agar bertaubat
dari dosanya. Dan sebagai tanda taubatnya mereka dimandikan di sungai
Jordan, kebiasaan mana hingga kini berlaku di kalangan orang-orang
Kristian dan karena Nabi Yahya adalah orang pertama yang mengadakan
upacara itu, maka ia dijuluki “Yahya Pembaptis”.


Kematian Nabi Yahya


Dikisahkan
bahawa Hirodus Penguasa Palestina pada waktu itu mencintai anak
saudaranya sendiri bernama Hirodia, seorang gadis yang cantik, ayu,
bertubuh lampai dan ramping dan berhasrat ingin mengawininya. Sang gadis
berserta ibunya dan seluruh anggota keluarga menyetujui rencana
perkawinan itu, namun Nabi Yahya menentangnya dan mengeluarkan fakwa
bahawa perkawinan itu tidak boleh dilaksanakan karena bertentangan
dengan syariat Musa yang mengharamkan seorang mengawini anak saudaranya
sendiri.


Berita rencana perkawinan Hirodus dan Hirodia serta fatwa Nabi Yahya
yang melarangnya tersiar di seluruh pelosok kota dan menjadi pembicaraan
orang di segala tempat di mana orang berkumpul. Herodia si gadis cantik
calon isteri itu merasa sedih bercampur marah terhadap Nabi Yahya yang
telah mengeluarkan fatwa mengharamkan perkawinannya dengan bapak
saudaranya sendiri, fatwa mana telah membawa reaksi dan pendapat
dikalangan masyarakat yang luas. Ia khawatir bahawa bapak saudaranya
Herodus calon suami dapat terpengaruh oleh fatwa Nabi Yahya itu dan
terpaksa membatalkan perkawinan yang sudah dinanti-nanti dan
diidam-idamkan, bahkan bahkan sudah menyiapkan segala sesuatu berupa
pakaian maupun peralatan yang perlu untuk pesta perkawinan yang telah
disepakati itu.


Menghadapi fatwa Nabi Yahya dan reaksi masyarakat itu, Herodia tidak
tinggal diam. Ia berusaha dengan bersenjatakan kecantikan dan parasnya
yang ayu itu mempengaruhi bapak saudaranya calon suaminya agar rencana
perkawinan dilaksanakan menurut rencana. Dengan merias diri dan
berpakaian yang merangsang, ia pergi mengunjungi bapak saudaranya
Herodus yang sedang dilanda mabuk asmara. Bertanya Herodus kepada anak
saudaranya calon isterinya yang nampak lebih cantik daripada biasa :
“Hai manisku, apakah yang dapat aku berbuat untukmu. Katakanlah aku akan
patuhi segala permintaanmu, kedatanganmu kemari pada saat ini tentu
didorong oleh sesuatu hajat yang mendesak yang ingin engkau sampaikan
kepadaku. Sampaikanlah kepadaku tanpa ragu-ragu, hai sayangku, aku sedia
melayani segala keperluan dan keinginanmu.”


Herodia menjawab: “Bila Tuan Raja berkenan, maka aku hanya mempunyai
satu permintaan yang mendorongku datang mengunjungi Tuanku pada saat
ini. Permintaanku yang tunggal itu ialah kepala Yahya bin Zakaria orang
yang telah mengacau rencana kita dan mencemarkan nama baik Tuan Raja dan
namaku sekeluarga di segala tempat dan penjuru. Supaya dia dipenggal
kepalanya. Alangkah puasnya hatiku dan besarnya terima kasihku, bila
Tuanku berkenan meluluskan permintaanku ini”.


Herodus yang sudah tergila-gila dan tertawan hatinya oleh kecantikan
dan keelokan Herodia tidak berkutik menghadapi permintaan calon
isterinya itu dan tidak dapat berbuat selain tunduk kepada kehendaknya
dengan mengabaikan suara hati nuraninya dan panggilan akal sehatnya.
Demikianlah maka tiada berapa lama dibawalah kepala Yahya bin Zakaria
berlumuran darah dan diletakkannya di depan kesayangannya Herodia yang
tersenyum tanda gembira dan puas hati bahawa hasratnya membalas dendam
terhadap Yahya telah terpenuhi dan rintangan utama yang akan menghalangi
rencana perkawinannya telah tersingkirkan, walaupun perbuatannya itu
menurunkan laknat Tuhan atas dirinya, diri rajanya dan Bani Isra’il
seluruhnya.


Cerita tentang Zakaria dan Yahya terurai di atas dikisahkan oleh
Al-Quran, surah Maryam ayat 2 sehingga ayat 15, surah Ali Imran ayat 38
senhingga ayat 41 dan surah Al-Anbiya’ ayat 89 sehingga ayat 90.


Nabi Syu’aib (شعيب)












Kaum
Madyam, kaumnya Nabi Syu’ib, adalah segolongan bangsa Arab yang tinggal
di sebuah daerah bernama “Ma’an” di pinggir negeri Syam. Mereka terdiri
dari orang-orang kafir tidak mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Mereka
menyembah kepada “Aikah” yaitu sebidang padang pasir yang ditumbuhi
beberapa pohon dan tanam-tanaman. Cara hidup dan istiadat mereka sudah
sangat jauh dari ajaran agama dan pengajaran nabi-nabi sebelum Nabi
Syu’aib AS


Kemungkaran, kemaksiatan dan tipu menipu dalam pengaulan merupakan
perbuatan dan perilaku yang lumrah dan rutin. Kecurangan dan
perkhianatan dalam hubungan dagang seperti pemalsuan barang, kecurian
dalam takaran dan timbangan menjadi ciri yang sudah sebati dengan diri
mereka. Para pedagang dan petani kecil selalu menjadi korban permainan
para pedagang-pedagang besar dan para pemilik modal, sehingga dengan
demikian yang kaya makin bertambah kekayaannya, sedangkan yang lemah
semakin merosot modalnya dan semakin melarat hidupnya.


Sesuai dengan sunnah Allah sejak Adam diturunkan ke bumi bahwa dari
waktu ke waktu bila manusia sudah lupakan kepada-Nya dan sudah jauh
menyimpang dari ajaran-ajaran nabi-nabi-Nya, dan bila iblis serta
syaitan sudah menguasai sesuatu masyarakat dengan ajaran dan tuntutannya
yang menyesatkan maka Allah mengutuskan seorang rasul dan nabi untuk
memberi penerangan serta tuntutan kepada mereka agar kembali ke jalan
yang lurus dan benar, jalan iman dan tauhid yang bersih dari segala rupa
syirik dan persembahan yang bathil.


Kepada kaum Madyan diutuslah oleh Allah seorang Rasul yaitu Nabi
Syu’aib, seorang dari mereka sendiri, sadarah an sedaging dengan mereka.
Ia mengajak mereka meninggalkan persembahan kepada Aikah, sebuah benda
mati yang tidak bermanfaat atau bermudharat dan sebagai gantinya
melakukan persembahan dan sujud kepada Allah Yang Maha Esa, Pencipta
langit dan bumi termasuk sebidang tanah yang mereka puja sebagai tuhan
mereka.


Nabi Syu’aib kepada mereka agar meninggalkan perbuatan-perbuatan dan
kelakukan-kelakuan yang dilarang oleh Allah serta membawa kerugian bagi
sesama manusia serta mengakibat kerusakan dan kebinasaan masyarakat.
Mereka diajak agar berlaku adil dan jujur terhadap diri sendiri dan
terutama terhadap orang lain, meninggalkan perkhianat dan kezaliman
serta perbuatan curang dalam hubungan dagang, perampasan hak milik
seseorang dan penindasan terhadap orang-orang yang lemah dan miskin.


Diingatkan oleh Nabi Syu’aib akan nikmat Allah dan kurniaan-Nya yang
telah memberi mereka tanah subu serta sarana-sarana kemakmuran yang
berlimpah-limpah dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan anak cucu yang
pesat. Semuanya itu menurut seruan Nabi Syu’aib, patut diimbangi dengan
rasa bersyukur dan bersembah kepada Allah Maha Pencipta yang akan
melipat gandakan nikmat dan kurnia-Nya kepada orang-orang yang beriman
dan bersyukur.


Diingatkan pula Nabi Syu’aib bahwa mereka tidak mau sadar dan kembali
kepada jalan yang benar mengikuti ajaran dan perintah Allah yang
dibawanya, nescaya Allah akan mencabut nikmat dan kurnia-Nya kepada
mereka, bahkan akan menurunkan azabnya atas mereka di dunia selain siksa
dari azab yang menanti mereka kelak di akhirat bila di bangkitkan
kembali dari kubur.


Kepada mereka Nabi Syu’aib dikisahkan siksa dan azab yang diturunkan
oleh Allah terhadap kaum Nuh, kaum Hud, kaum Saleh dan paling dekat kaum
Luth yang kesemua telah menderita dan menjadi binasa akibat kekafiran,
keangkuhan dan keengganan mereka mengikuti ajaran serta tuntutan
nabi-nabi yang diutus Allah kepada Mereka. Diingatkan oleh Nabi Syu’aib
agar mereka beriktibar dan ingat bahwa mereka akan mengalami nasib yang
telah dialami oleh kaum-kaum itu jika mereka tetap melakukan persembahan
yang bathil serta tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk dan
jahat.


Dakwah dan ajakan Nabi Syu’aib disambut oleh mereka terutama
penguasa, pembesar serta orang-orang kaya dengan ejekan dan olok-olok.
Mereka berkata: “Adakah kerana solatmu, engaku memerintahkan kami
menyembah selain apa yang telah kami sembah sepanjang hayat kami.
Persembahan mana pula telah dilakukan oleh nenek moyang kami dan
diwariskan kepada kami. Dan apakah juga karena solatmu engkau
menganjurkan kami meninggalkan cara-cara hidup sehari-hari yang nyata
telah membawa kemakmuran dan kebahagian bagi kami bahkan sudah menjadi
adat istiadat kami turun temurun. Sungguh kami tidak mengerti apa apa
tujuanmu dan apa maksudmu dengan ajaran-ajaran baru yang engkau bawa
kepada kami. Sungguh kami menyaksikan kesempurnaan akalmu dan keberesan
otakmu!”


Ejekan dan olok-olok mereka didengar dan diterima oleh Syu’aib dengan
kesabaran dan kelapangan dada. Ia sesekali tidak menyambut kata-kata
kasar mereka dengan marah atau membalasnya dengan kata-kata yang kasar
pula. Ia bahkan makin bersikap lemah lembut dalam dakwahnya dengan
menggugah hati nurani dan akal mereka supaya memikirkan dan merenungkan
apa yang dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka. Dan sesekali ia
menonjolkan hubungan darah dan kekeluargaannya dengan mereka, sebagai
jaminan bahwa ia menghendaki perbaikan bagi hidup mereka di dunia dan
akhirat dan bukan sebaliknya. Ia tidak mengharapkan sesuatu balas jasa
atas usaha dakwahnya. Ia tidak pula memerlukan kedudukan atau
menginginkan kehormatan bagi dirinya dari kaumnya. Ia akan cukup merasa
puas jika kaumnya kembali kepada jalan Allah, masyarakatnya akan menjadi
masyarakat yang bersih dari segala kemaksiatan dan adt-istiadat yang
buruk. Ia akan menerima upahnya dari Allah yang telah mengutuskannya
sebagai rasul yang dibebani amanat untuk menyampaikan risalah-Nya kepada
kaumnya sendiri.


Kaum Syu’aib akhirnya merasa jengkel dan jemu melihat Nabi Syu’aib
tidak henti-hentinya berdakwah bertabligh pada setiap kesempatan dan di
mana saja ia menemui orang berkumpul. Penghinaan dan ancaman dilontar
kepada Nabi Syu’aib dan para pengikutnya akan diusir dan akan
dikeluarkan dari Madyan jika mereka mau menghentikan dakwahnya atau
tidak mau mengikuti agama adn cara-cara hidup mereka.

Berkata mereka kepada Nabi Syu’aib dengan nada mengejek: “Kami tidak
mengerti apa yang kamu katakan. Nasihat-nasihatmu tidak mempunyai tempat
di dalam hati dan kalbu kami. Engkau adalah seorang yang lemah
fisiknya, rendah kedudukan dalam pengaulan maka tidak mungkin engkau
dapat mempengaruhi atau memimpin kami yang berfisik lebih kuat dan
berkedudukan yang lebih tinggi darimu. Coba tidak kerana kerabatmu yang
kami segani dan hormati, nescaya engkau telah kami rejam dan sisihkan
dari pengaulan kami.”


Nabi Syu’aib menjawab: “aku tidak akan hentikan dakwahku kepada
risalah Allah yang telah diamanahkan kepadaku dan jgnlah kamu
mengharapkan bahwa aku maupun para pengikutku akan kembali mengikuti
agamamu dan adt-istiadatmu setelah Allah memberi hidayahnya kepada kami.
Pelindunganku adalah Allah Yang Maha Berkuasa dan bukan sanad
kerabatku, Dialah yang memberi tugas kepadaku dan Dia pula akan
melindungiku dari segala gangguan dan ancaman. Adakah sanak saudaraku
yang engkau lebih segani dari Allah yang Maha Berkuasa?”


Musnahnya Umat Nabi Syu’aib


Sejak
berdakwah dan bertabligh menyampaikan risalah Allah kepada kaum Madyan,
Nabi Syu’aib berhasil menyedarkan hanya sebahagian kecil dari kaumnya,
sedang bahagian yang terbesar masih tertutup hatinya bagi cahaya iman
dan tauhid yang diajar oleh beliau. Mereka tetap berkeras kepala
mempertahankan tradisi, adat-istiadat dan agama yang mereka warisi dari
nenek moyang mereka. Itulah alasan mereka satu-satunya yang mereka
kemukakan untuk menolak ajaran Nabi Syu’aib dan itulah benteng mereka
satu-satunya tempat mereka berlindung dari serangan Nabi Syu’aib atas
persembahan mereka yang bathil dan adat pengaulan mereka yang mungkar
dan sesat. Di samping itu jika mereka sudah merasa tidak berdaya
menghadapi keterangan-keterangan Nabi Syu’aib yang didukung dengan
dahlil dan bukti yang nyata kebenaran, mereka lalu melemparkan
tuduhan-tuduhan kosong seolah-olah Nabi adalah tukang sihir dan ahli
sulap yang ulung. Mereka telah berani menentang Nabi Syu’aib untuk
membuktikan kebenaran risalahnya dengan memdatangkan bencana dari Allah
yang ia sembah dan menganjurkan orang menyembah-Nya pula.


Mendengar tentangan kaumnya yang menandakan hati mereka telah
tertutup rapat-rapat bagi sinar agama dan wahyu yang ia bawa dan bahwa
tiada harapan lagi akan menarik mereka ke jalan yang lurus serta
mengangkat mereka dari lembah syirik dan kemaksiatan serta pergaulan
buruk, maka bermohonlah Nabi Syu’aib kepada Allah agak menurunkan azzab
siksanya kepada kaum Madyan bahwa wujud-Nya serta menentang kekuasaannya
untuk menjadi peringatan bagi generasi-generasi yang mendatang.


Allah Yang Maha berkuasa berkenan menerima permohonan dan doa
Syu’aib, maka diturunkanlah lebih dahulu di atas mereka hawa udara yang
sangat panas yang mengeringkan kerongkongan karena dahaga yang tidak
dapat dihilangkan dengan air dan membakar kulit yang tidak dapat diubati
dengan berteduh di bawah atap rumah atau pohon-pohon.


Di dalam keadaan mereka yang sedang bingung, panik berlari-lari ke
sana ke mari, mencari perlindungan dari terik panasnya matahari yang
membakar kulit dan dari rasa dahaga karena keringnya kerongkong
tiba-tiba terlihat di atas kepala mereka gumpalan awan hitam yang tebal,
lalu berlarilah mereka ingin berteduh dibawahnya. Namun setelah mereka
berada di bawah awan hitam itu seraya berdesak-desak dan berjejal-jejal,
jatuhlah ke atas kepala mereka percikan api dari jurusan awan hitam itu
diiringi oleh suara petir dan gemuruh ledakan dahsyat sementara bumi di
bawah mereka bergoyang dengan kuatnya menjadikan mereka berjatuhan,
tertimbun satu di bawah yang lain dan melayanglah jiwa mereka dengan
serta-merta.


Nabi Syu’aib merasa sedih atas kejadian yang menimpa kaumnya dan
berkata kepada para pengikutnya yang telah beriman: “Aku telah sampaikan
kepada mereka risalah Allah, menasihati dan mengajak mereka agar
meninggalkan perbuatan-perbuatan mungkar serta persembahan bathil mereka
dan aku telah memperingatkan mereka akan datangnya siksaan Allah bila
mereka tetap berkeras hati, menutup telinga mereka terhadap suara
kebenaran ajaran-ajaran Allah yang aku bawa, namun mereka tidak
menghiraukan nasihatku dan tidak mempercayai peringatanku. Karenanya
tidak patutlah aku bersedih hati atas terjadinya bencana yang telah
membinasakan kaumku yang kafir itu.”


Makam Syu’aib terpelihara dengan baik di Yordania yang terletak 2 km
barat kota Mahis dalam area yang disebut Wadi Syu’aib. Situs lain yang
dikenal sebagai makam Syu’aib terletak di dekat Horns of Hattin di Lower
Galilee. Tempat ini suci bagi Druze.

http://jumailischaniago.wordpress.com


Nabi Sulaiman AS (سليمان)












Nabi
Sulaiman adalah salah seorang putera Nabi Daud. Sejak ia masih
kanak-kanak berusia sebelas tahun, ia sudah menampakkan tanda-tanda
kecerdasan, ketajaman otak, kepandaian berfikir serta ketelitian di
dalam mempartimbangkan dan mengambil sesuatu keputusan.


Sewaktu Daud, ayahnya menduduki tahta kerajaan Bani Isra’il ia selalu
mendampinginya dalam tiap-tiap sidang peradilan yang diadakan untuk
menangani perkara-perkara perselisihan dan sengketa yang terjadi di
dalam masyarakat. Ia memang sengaja dibawa oleh Daud, ayahnya
menghadiri sidang-sidang peradilan untuk melatihnya serta menyiapkannya
sebagai putera mahkota yang akan menggantikanya memimpin kerajaan,
bila tiba saatnya ia harus memenuhi panggilan Ilahi meninggalkan dunia
yang fana ini. Dan memang Sulaimanlah yang terpandai di antara sesama
saudara yang bahkan lebih tua usia daripadanya.


Suatu peristiwa yang menunjukkan kecerdasan dan ketajaman otaknya
yaitu terjadi pada salah satu sidang peradilan yang ia turut
menghadirinya. dalam persidangan itu dua orang datang mengadu meminta
Nabi Daud mengadili perkara sengketa mereka, yaitu bahawa kebun tanaman
salah seorang dari kedua lelaki itu telah dimasuki oleh kambing-kambing
ternak kawannya di waktu malam yang mengakibatkan rusak binasanya
perkarangannya yang sudah dirawatnya begitu lama sehingga mendekati masa
menuainya. Kawan yang diadukan itu mengakui kebenaran pengaduan
kawannya dan bahawa memang hewan ternaknyalah yang merusak kebun dan
perkarangan kawannya itu.


Dalam perkara sengketa tersebut, Daud memutuskan bahawa sebagai ganti
rugi yang diderita oleh pemilik kebun akibat perusakan kambing-kambing
peliharaan tetangganya, maka pemilik kambing-kambing itu harus
menyerahkan binatang peliharaannya kepada pemilik kebun sebagai ganti
rugi yang disebabkan oleh kelalaiannya menjaga binatang ternaknya. Akan
tetapi Sulaiman yang mendengar keputusan itu yang dijatuhkan oleh
ayahnya itu yang dirasa kurang tepat berkata kepada si ayah: “Wahai
ayahku, menurut partimbanganku keputusan itu sepatut berbunyi
sedemikian : Kepada pemilik perkarangan yang telah binasa tanamannya
diserahkanlah hewan ternaknya untuk dipelihara, diambil hasilnya dan
dimanfaatkan bagi keperluannya, sedang perkarangannya yang telah binasa
itu diserahkan kepada tetangganya pemilik peternak untuk dipugar dan
dirawatnya sampai kembali kepada keadaan asalnya, kemudian masing-masing
menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian masing-masing
pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau kerugian lebih daripada
yang sepatutnya.”



Keputusan yang diusulkan oleh Sulaiman itu diterima baik oleh kedua
orang yang menggugat dan digugat dan disambut oleh para orang yang
menghadiri sidang dengan rasa kagum terhadap kecerdasan dan kepandaian
Sulaiman yang walaupun masih muda usianya telah menunjukkan kematangan
berfikir dan keberanian melahirkan pendapat walaupun tidak sesuai dengan
pendapat ayahnya. Peristiwa ini merupakan permulaan dari sejarah hidup
Nabi Sulaiman yang penuh dengan mukjizat kenabian dan karunia Allah
yang dilimpahkan kepadanya dan kepada ayahnya Nabi Daud.


Nabi Sulaiman Menjadi Raja


Sejak
masih berusia muda Sulaiman telah disiapkan oleh Daud untuk
menggantikannya untuk menduduki tahta singgasana kerajaan Bani Isra’il.
Kakak Sulaiman yang bernama Absyalum tidak merelakan dirinya
dilangkahi oleh adiknya .Ia beranggapan bahawa dialah yang sepatutnya
menjadi putera mahkota dan bukan adiknya yang lebih lemah fisiknya dan
lebih muda usianya serta belum banyak mempunyai pengalaman hidup separti
dia. Karenanya ia menaruh dendam terhadap ayahnya yang menurut
anggapannya tidak berlaku adil dan telah memperkosa haknya sebagai
pewaris pertama dari tahta kerajaan Bani Isra’il.


Absyalum berketetapan hati akan memberotak terhadap ayahnya dan akan
berjuang bermati-matian untuk merebut kekuasaan dari tangan ayahnya
atau adiknya apa pun yang harus ia korbankan untuk mencapai tujuan itu.
Dan sebagai persiapan bagi rancangan pemberontakannya itu, dari
jauh-jauh ia berusaha mendekati rakyat, menunjukkan kasih sayang dan
cintanya kepada mereka menolong menyelesaikan masalah-masalah yang
mereka hadapi serta mempersatukan mereka di bawah pengaruh dan
pimpinannya. Ia tidak jarang bagi memperluaskan pengaruhnya, berdiri
didepan pintu istana mencegat orang-orang yang datang ingin menghadap
raja dan ditanganinya sendiri masalah-masalah yang mereka minta
penyelesaian.


Setelah merasa bahawa pengaruhnya sudah meluas di kalangan rakyat
Bani Isra’il dan bahawa ia telah berhasil memikat hati sebagian besar
dari mereka, Absyalum menganggap bahawa saatnya telah tiba untuk
melaksanakan rencana rampasan kuasa dan mengambil alih kekuasaan dari
tangan ayahnya dengan paksa. Lalu ia menyebarkan mata-matanya ke seluruh
pelosok negeri menghasut rakyat dan memberi tanda kepada
penyokong-penyokong rencananya, bahawa bila mereka mendengar suara bunyi
terompet, maka haruslah mereka segera berkumpul, mengerumuninya
kemudian mengumumkan pengangkatannya sebagai raja Bani Isra’il
menggantikan Daud ayahnya.


Pada suatu pagi hari di kala Daud duduk di serambi istana
berbincang-bincang dengan para pembesar dan para penasihat
pemerintahannya, terdengarlah suara bergemuruh rakyat bersorak-sorai
meneriakkan pengangkatan Absyalum sebagai raja Bani Isra’il menggantikan
Daud yang dituntut turun dari tahtanya. Keadaan kota menjadi
kacau-balau dilanda huru-hara keamanan tidak terkendalikan dan
perkelahian terjadi di mana-mana antara orang yang pro dan yang kontra
dengan kekuasaan Absyalum.


Nabi Daud merasa sedih melihat keributan dan kekacauan yang melanda
negerinya, akibat perbuatan puterannya sendiri. Namun ia berusaha
menguasai emosinya dan menahan diri dari perbuatan dan tindakan yang
dapat menambah parahnya keadaan. Ia mengambil keputusan untuk
menghindari pertumpahan darah yang tidak diinginkan, keluar meninggalkan
istana dan lari bersama-sama pekerjanya menyeberang sungai Jordan
menuju bukit Zaitun. Dan begitu Daud keluar meninggalkan kota Jerusalem,
masuklah Absyalum diiringi oleh para pengikutnya ke kota dan segera
menduduki istana kerajaan. Sementara Nabi Daud melakukan istikharah dan
munajat kepada Tuhan di atas bukit Zaitun memohon taufiq dan
pertolongan-Nya agar menyelamatkan kerajaan dan negaranya dari
malapetaka dan keruntuhan akibat perbuatan puteranya yang durhaka itu.


Setelah mengadakan istikharah dan munajat yang tekun kepada Allah,
akhirnya Daud mengambil keputusan untuk segera mengadakan kontra aksi
terhadap puteranya dan dikirimkanlah sepasukan tentera dari para
pengikutnya yang masih setia kepadanya ke Jerusalem untuk merebut
kembali istana kerajaan Bani Isra’il dari tangan Absyalum. Beliau
berpesan kepada komandan pasukannya yang akan menyerang dan menyerbu
istana, agar bartindak bijaksana dan sedapat mungkin menghindari
pertumpahan darah dan pembunuhan yang tidak perlu, teristimewa mengenai
Absyalum, puteranya, ia berpesan agar diselamatkan jiwanya dan
ditangkapnya hidup-hidup. Akan tetapi takdir telah menentukan lain
daripada apa yang si ayah inginkan bagi puteranya. Komandan yang
berhasil menyerbu istana tidak dapat berbuat lain kecuali membunuh
Absyalum yang melawan dan enggan menyerahkan diri setelah ia terkurung
dan terkepung.


Dengan terbunuhnya Absyalum kembalilah Daud menduduki tahtanya dan
kembalilah ketenangan meliputi kota Jerusalem sebagaimana sediakala. Dan
setelah menduduki tahta kerajaan Bani Isra’il selama empat puluh tahun
wafatlah Nabi Daud dalam usia yang lanjut dan dinobatkanlah sebagai
pewarisnya Sulaiman sebagaimana telah diwasiatkan oleh ayahnya.


Nabi Sulaiman yang telah berkuasa penuh atas kerajaan Bani Isra’il
yang makin meluas dan melebar, Allah telah menundukkan baginya
makhluk-makhluk lain, yaitu Jin angin dan burung-burung yang kesemuanya
berada di bawah perintahnya melakukan apa yang dikehendakinya dan
melaksanakan segala komandonya. Di samping itu Allah memberinya pula
suatu karunia berupa mengalirnya cairan tembaga dari bawah tanah untuk
dimanfaatkannya bagi karya pembangunan gedung-gedung, pembuatan
piring-piring sebesar kolam air, periuk-periuk yang tetap berada diatas
tungku yang dikerjakan oleh pasukan Jinnya.


Sebagai salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Sulaiman
ialah kesanggupan beliau menangkap maksud yang terkandung dalam suara
binatang-binatang dan sebaliknya binatang-binatang dapat pula mengerti
apa yang ia perintahkan dan ucapkan.Demikianlah maka tatkala Nabi
Sulaiman berpergian dalam rombongan kafilah yang besar terdiri dari
manusia, jin dan binatang-binatang lain, menuju ke sebuah tempat bernama
Asgalan ia melalui sebuah lembah yang disebut lembah semut. Disitu ia
mendengar seekor semut berkata kepada kawan-kawannya: “Hai
semut-semut, masuklah kamu semuanya ke dalam sarangmu, agar supaya kamu
selamat dan tidak menjadi binasa diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya
tanpa ia sadar dan sengaja.



Nabi Sulaiman tersenyum tertawa mendengar suara semut yang ketakutan
itu. Ia memberitahu hal itu kepada para pengikutnya seraya bersyukur
kepada Allah atas karunia-Nya yang menjadikan ia dapat mendengar serta
menangkap maksud yang terkandung dalam suara semut itu. Ia merasa takjud
bahawa binatang pun mengarti bahawa nabi-nabi Allah tidak akan
mengganggu sesuatu makhluk dengan sengaja dan dalam keadaan sadar.




Nabi Sulaiman Dan Ratu Balqis



Setelah
Nabi Sulaiman membangunkan Baitulmaqdis dan melakukan ibadah haji
sesuai dengan nadzarnya pergilah ia meneruskan perjalannya ke Yeman.
Setibanya di San’a – ibu kota Yeman ,ia memanggil burung hud-hud
sejenis burung pelatuk untuk disuruh mencari sumber air di tempat yang
kering tandus itu. Ternyata bahawa burung hud-hud yang dipanggilnya itu
tidak berada diantara kawasan burung yang selalu berada di tempat
untuk melakukan tugas dan perintah Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman marah
dan mengancam akan mengajar burung Hud-hud yang tidak hadir itu bila ia
datang tanpa alasan yang nyata.


Berkata burung Hud-hud yang hinggap didepan Sulaiman sambil menundukkan kepala ketakutan:
“Aku telah melakukan penerbangan pengintaian dan menemukan sesuatu
yang sangat penting untuk diketahui oleh paduka Tuan. Aku telah
menemukan sebuah kerajaan yang besar dan mewah di negeri Saba yang
dikuasai dan diperintah oleh seorang ratu. Aku melihat seorang ratu itu
duduk di atas sebuah tahta yang megah bertaburkan permata yang
berkilauan. Aku melihat ratu dan rakyatnya tidak mengenal Tuhan
Pencipta alam semesta yang telah mengurniakan mereka kenikmatan dan
kebahagian hidup. Mereka tidak menyembah dan sujud kepada-Nya, tetapi
kepada matahari. Mereka bersujud kepadanya dikala terbit dan terbenam.
Mereka telah disesatkan oleh syaitan dari jalan yang lurus dan benar.”



Berkata Sulaiman kepada Hud-hud: “Baiklah, kali ini aku ampuni
dosamu karena berita yang engkau bawakan ini yang aku anggap penting
untuk diperhatikan dan untuk mengesahkan kebenaran beritamu itu, bawalah
suratku ini ke Saba dan lemparkanlah ke dalam istana ratu yang engkau
maksudkan itu, kemudian kembalilah secepat-cepatnya, sambil kami
menanti perkembangan selanjutnya bagaimana jawaban ratu Saba atas
suratku ini.”



Hud-hud terbang kembali menuju Saba dan setibanya di atas istana
kerajaan Saba dilemparkanlah surat Nabi Sulaiman tepat di depan ratu
Balqis yang sedang duduk dengan megah di atas tahtanya. Ia terkejut
melihat sepucuk surat jatuh dari udara tepat di depan wajahnya. Ia lalu
mengangkat kepalanya melihat ke atas, ingin mengetahui dari manakah
surat itu datang dan siapakah yang secara kurang hormat melemparkannya
tepat di depannya. Kemudian diambillah surat itu oleh ratu, dibuka dan
baca isinya yang berbunyi: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Penyayang, surat ini adalah dariku, Sulaiman. Janganlah kamu
bersikap sombong terhadapku dan menganggap dirimu lebih tinggi
daripadaku. Datanglah sekalian kepadaku berserah diri.”



Setelah dibacanya berulang kali surat Nabi Sulaiman Ratu Balqis
memanggil para pembesarnya dan para penasihat kerajaan berkumpul untuk
memusyawarahkan tindakan apa yang harus diambil sehubungan dengan surat
Nabi Sulaiman yang diterimanya itu.

Berkatlah para pembesar itu ketika diminta petimbangannya: “Wahai
paduka tuan ratu, kami adalah putera-putera yang dibesarkan dan dididik
untuk berperang dan bertempur dan bukan untuk menjadi ahli pemikir atau
perancang yang patut memberi partimbangan atau nasihat kepadamu. Kami
menyerahkan kepadamu untuk mengambil keputusan yang akan membawa
kebaikan bagi kerajaan dan kami akan tunduk dan melaksanakan segala
perintah dan keputusanmu tanpa ragu. Kami tidak akan gentar menghadapi
segala ancaman dari mana pun datangnya demi menjaga keselamatanmu dam
keselamatan kerajaanmu.”



Ratu Balqis menjawab: “Aku memperoleh kesan dari uraianmu bahwa kamu
mengutamakan cara kekerasan dan kalau perlu kamu tidak akan gentar
masuk medan perang melawan musuh yang akan menyerbu. Aku sangat
berterima kasih atas kesetiaanmu kepada kerajaan dan kesediaanmu
menyabung nyawa untuk menjaga keselamatanku dan keselamatan kerajaanku.
Akan tetapi aku tidak sependirian dengan kamu sekalian. Menurut
partimbanganku, lebih bijaksana bila kami menempuh jalan damai dan
menghindari cara kekerasan dan peperangan. Sebab bila kami menentang
secara kekerasan dan sampai terjadi perang dan musuh kami berhasil
menyerbu masuk kota-kota kami, maka niscaya akan berakibat kerusakan dan
kehancuran yang sangat menyedihkan. Mereka akan menghancur binasakan
segala bangunan, memperhambakan rakyat dan merampas segala harta milik
dan peninggalan nenek moyang kami. Hal yang demikian itu adalah
merupakan akibat yang wajar dari tiap peperangan yang dialami oleh
sejarah manusia dari masa ke semasa. Maka menghadapi surat Sulaiman yang
mengandung ancaman itu, aku akan coba melunakkan hatinya dengan
mengirimkan sebuah hadiah kerajaan yang akan terdiri dari barang-barang
yang berharga dan bermutu tinggi yang dapat mempesonakan hatinya dan
menyilaukan matanya dan aku akan melihat bagaimana ia memberi tanggapan
dan reaksi terhadap hadiahku itu dan bagaimana ia menerima utusanku di
istananya.”



Selagi Ratu Balgis siap-siap mengatur hadiah kerajaan yang akan dikirim
kepada Sulaiman dan memilih orang-orang yang akan menjadi utusan
kerajaan membawa hadiah, tibalah hinggap di depan Nabi Sulaiman burung
pengintai Hud-hud memberitakan kepadanya rancangan Balqis untuk mengirim
utusan membawa hadiah baginya sebagai jawaban atas surat beliau
kepadanya. Setelah mendengar berita yang dibawa oleh Hud-hud itu, Nabi
Sulaiman mengatur rencana penerimaan utusan Ratu Balqis dan
memerintahkan kepada pasukan Jinnya agar menyediakan dan membangunkan
sebuah bangunan yang megah yang tiada taranya yang akan menyilaukan mata
utusan Balqis bila mereka tiba.


Tatkala utusan Ratu Balqis datang, diterimalah mereka dengan ramah
tamah oleh Sulaiman dan setelah mendengar uraian mereka tentang maksud
dan tujuan kedatangan mereka dengan hadiah kerajaan yang dibawanya,
berkatalah Nabi Sulaiman: “Kembalilah kamu dengan hadiah-hadiah ini
kepada ratumu. Katakanlah kepadanya bahawa Allah telah memberiku rezeki
dan kekayaan yang melimpah ruah dan mengaruniaiku dengan karunia dan
nikmat yang tidak diberikannya kepada seseorang dari makhluk-Nya. Di
samping itu aku telah diutuskan sebagai nabi dan rasul-Nya dan
dianugerahi kerajaan yang luas yang kekuasaanku tidak saja berlaku atas
manusia tetapi mencakup juga jenis makhluk Jin dan binatang-binatang.
Maka bagaimana aku akan dapat dibujuk dengan harta benda dan hadiah
serupa ini? Aku tidak dapat dilalaikan dari kewajiban dakwah kenabianku
oleh harta benda dan emas walaupun sepenuh bumi ini. Kamu telah
disilaukan oleh benda dan kemegahan duniawi, sehingga kamu memandang
besar hadiah
yang kamu bawakan ini dan mengira bahawa akan
tersilaulah mata kami dengan hadiah Ratumu. Pulanglah kamu kembali dan
sampaikanlah kepadanya bahawa kami akan mengirimkan bala tentera yang
sangat kuat yang tidak akan terkalahkan ke negeri Saba dan akan
mengeluarkan ratumu dan pengikut-pengikutnya dari negerinya sebagai-
orang-orang yang hina-dina yang kehilangan kerajaan dan kebesarannya,
jika ia tidak segera memenuhi tuntutanku dan datang berserah diri
kepadaku.”



Utusan Balqis kembali melaporkan kepada Ratunya apa yang mereka alami
dan apa yang telah diucapkan oleh Nabi Sulaiman. Balqis berfikir, jalan
yang terbaik untuk menyelamatkan diri dan kerajaannya ialah menyerah
saja kepada tuntutan Sulaiman dan datang menghadap dia di istananya.
Nabi Sulaiman berhasrat akan menunjukkan kepada Ratu Balqis bahawa ia
memiliki kekuasaan ghaib di samping kekuasaan lahirnya dan bahwa apa
yang dia telah ancamkan melalui rombongan utusan bukanlah ancaman yang
kosong. Maka bertanyalah beliau kepada pasukan Jinnya, siapakah diantara
mereka yang sanggup mendatangkan tahta Ratu Balqis sebelum orangnya
datang berserah diri.


Berkata Ifrit, seorang Jin yang tercerdik: “Aku sanggup membawa
tahta itu dari istana Ratu Balqis sebelum engkau sempat berdiri dari
tempat dudukimu. Aku adalah pesuruhmu yang kuat dan dapat dipercayai.”
Seorang lain yang mempunyai ilmu dan hikmah nyeletuk berkata: “Aku akan membawa tahta itu ke sini sebelum engkau sempat memejamkan matamu.”


Ketika Nabi Sulaiman melihat tahta Balqis sudah berada didepannya, berkatalah ia: “Ini
adalah salah satu karunia Tuhan kepadaku untuk mencoba apakah aku
bersyukur atas karunia-Nya itu atau mengingkari-Nya, karena barang
siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya
sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan karunia Allah, ia akan
rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha
Mulia.”



Menyonsong kedatangan Ratu Balqis, Nabi Sulaiman memerintahkan
orang-orangnya agar mengubah sedikit bentuk dan warna tahta Ratu itu
yang sudah berada di depannya kemudian setelah Ratu itu tiba berserta
pengiring-pengiringnya, bertanyalah Nabi Sulaiman seraya menundingkan
kepada tahtanya: “Serupa inikah tahtamu?” Balqis menjawab: “Seakan-akan ini adalah tahtaku sendiri,”
seraya bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana mungkin bahawa tahtanya
berada di sini padahal ia yakin bahawa tahta itu berada di istana
tatkala ia bertolak meninggalkan Saba.


Selagi Balgis berada dalam keadaan kacau fikiran, keheranan melihat
tahta kerajaannya sudah berpindah ke istana Sulaiman, ia dibawa masuk ke
dalam sebuah ruangan yang sengaja dibangun untuk penerimaannya. Lantai
dan dinding-dindingnya terbuat dari kaca putih. Balqis segera
menyingkapkan pakaiannya ke atas betisnya ketika berada dalam ruangan
itu, mengira bahawa ia berada di atas sebuah kolam air yang dapat
membasahi tubuh dan pakaiannya.


Berkata Nabi Sulaiman kepadanya: “Engkau tidak usah menyingkap
pakaianmu. Engkau tidak berada di atas kolam air. Apa yang engkau lihat
itu adalah kaca-kaca putih yang menjadi lantai dan dinding ruangan
ini.”



“Oh,Tuhanku,” Balqis berkata menyedari kelemahan dirinya terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang dipertunjukkan oleh Nabi Sulaiman, “aku
telah lama tersesat berpaling daripada-Mu, melalaikan nikmat dan
karunia-Mu, merugikan dan menzalimi diriku sendiri sehingga terjatuh
dari cahaya dan rahmat-Mu. Ampunilah aku. Aku berserah diri kepada
Sulaiman Nabi-Mu dengan ikhlas dan keyakinan penuh. Kasihanilah diriku
wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”



Demikianlah kisah Nabi Sulaiman dan Balqis Ratu Saba. Dan menurut
sementara ahli tafsir dan ahli sejarah nabi-nabi, bahawa Nabi Sulaiman
pada akhirnya kawin dengan Balqis dan dari perkawinannya itu lahirlah
seorang putera. Menurut pengakuan maharaja Ethiopia Abessinia, mereka
adalah keturunan Nabi Sulaiman dari putera hasil perkawinannya dengan
Balqis itu. Wallahu alam bisshawab.


Al-Quran mengisahkan bahawa tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan
kematian Sulaiman kecuali rayap yang memakan tongkatnya yang ia sandar
kepadanya ketika Tuhan mengambil rohnya. Para Jin yang sedang
mengerjakan bangunan atas perintahnya tidak mengetahui bahawa Nabi
Sulaiman telah mati kecuali setelah mereka melihat Nabi Sulaiman
tersungkur jatuh di atas lantai, akibat jatuhnya tongkat sandarannya
yang dimakan oleh rayap. Sekiranya para Jin sudah mengetahui sebelumnya,
pasti mereka tidak akan tetap meneruskan pekerjaan yang mereka anggap
sebagai siksaan yang menghinakan.


Berbagai cerita yang dikaitkan orang pada ayat yang mengisahkan
matinya Nabi Sulaiman, namun karena cerita-cerita itu tidak ditunjang
dikuatkan oleh sebuah hadis sahih yang muktamad, maka sebaiknya kami
berpegang saja dengan apa yang dikisahkan oleh Al-Quran dan selanjutnya
Allah lah yang lebih Mengetahui dan kepada-Nya kami berserah diri.


Kisah Nabi Sulaiman dapat dibaca di dalam Al-Quran, surah An-Naml ayat 15 sehingga ayat 44

http://jumailischaniago.wordpress.com


Nabi Saleh AS (صالح)












Tsamud
adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan
bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke
dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama ”
Alhijir ” terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk
jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin
taufan yang di kirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan
dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud AS


Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu
dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.
Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah,
binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun
bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah
yang datar dan dipahatnya dari gunung. Semuanya itu menjadikan mereka
hidup tenteram ,sejahtera dan bahagia, merasa aman dari segala gangguan
alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan
anak keturunan mereka.


Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan Mereka adalah berhala-berhala
yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berqurban, tempat mereka
minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan
kebaikan serta kebahagiaan. Mereka tidak dapat melihat atau memikirkan
lebih jauh dan apa yang dapat mereka jangkau dengan panca indera.


Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan
hamba-hamba-Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya
nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mereka
keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah
tidak akan menurunkan azab dan siksaan kepada suatu umat sebelum mereka
diperingatkan dan diberi petunjuk oleh-Nya dengan perantara seorang
yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini
berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mereka telah diutuskan
Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mereka sendiri,
dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal
tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.


Dikenalkan mereka oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mereka
sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mereka,
menciptakan alam sekitar mereka, menciptakan tanah-tanah yang subur yang
menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup mereka, mencipta
binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mereka dan
dengan demikian memberi kepada mereka kenikmatan dan kemewahan hidup dan
kebahagiaan lahir dan batin.Tuhan Yang Esa itulah yang harus mereka
sembah dan bukan patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu
gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mereka atau
melindungi mereka dari ketakutan dan bahaya.


Nabi Saleh memperingatkan mereka bahwa ia adlah seorang daripada
mereka, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah.
Mereka adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan
dan sesuku dengan mereka.Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi
mereka dan sesekali tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal
yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mereka. Ia
menerangkan kepada mereka bahwa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah,
dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mereka adalah amanat
Allah yang harus dia sampaikan kepada mereka untuk kebaikan mereka
semasa hidup mereka dan sesudah mereka mati di akhirat kelak. Ia
mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh
apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mereka segera meninggalkan
persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah
Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa
dan perbuatan syirik yang selama ini telah mereka lakukan.Allah maha
dekat kepada mereka mendengarkan doa mereka dan memberi ampun kepada
yang salah bila dimintanya.


Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi
mereka merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari
saudara atau anak mereka sendiri.Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi
Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya : “Wahai Saleh! Kami
mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan
pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat. Pada dirimu kami
melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami
mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpinkami menyelesaikan
hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal
yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala
kami menghadapi krisis dan kesusahan. Akan tetapi segala harapan itu
menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini
dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat
dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Engkau
menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang
kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi
sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan
untuk selama-lamanya.Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena
seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak
mempercayai cakap-cakap kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak
akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan
mereka dan mengikuti jejakmu.”



Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar
mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengurniai mereka
rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada
mereka kisah kaum-kaum yang mendapat siksa dan azab dari Allah karena
menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu
dapat terjadi di atas mereka jika mereka tidak mahu menerima dakwahnya
dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur
sebagai seorang anggota dari keluarga besar mereka dan yang tidak
mengharapkan atau menuntut upah daripada mereka atas usahanya itu. Ia
hanya menyampaikan amanat Allah yang ditugaskan kepadanya dan Allah lah
yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan
dan tuntutan kepada mereka.


Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkan terdiri dari
orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan
beriman kepadanya sedangkan sebagian yang terbesar terutamanya mereka
yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala
dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari
kenabiannya dan berkata kepadanya : ” Wahai Saleh! Kami kira bahwa
engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir.Engkau telah menjadi
sinting dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu
sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan
kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak
memahaminya. Engkau mengaku bahwa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu
sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu daripada kami semua
sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara
kami yang lebih patut dan lebih cakap untuk menjadi nabi atau rasul
daripada engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu
hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan
pemimpin bagi kaummu. Jika engkau merasa bahwa engkau sihat badan dan
sihat fikiran dan mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan
yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan
agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu
sendiri. Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang
telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu”



Nabi Saleh menjawab: “Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu
bahwa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun daripada mu sebagai imbalan
atas usahaku memberi tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak
mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku
ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah dan daripada-Nya
kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku
dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku,
padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran
dakwahku.Jgnlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan melanggar
perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata
untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu.
Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku
berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan
membinasakan aku dengan seruanmu itu.”



Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan
dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan
berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak
membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendapat perhatian
terutama dari kalangan bawah dan menengah dalam masyarakat. Mereka
menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan
suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang
berada di luar kekuasaan manusia.


Nabi Saleh sadar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti
daripadanya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan
pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama
para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mereka.
Nabi Saleh membalas tentangan mereka dengan menuntut janji dengan mereka
bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mereka minta bahwa mereka
akan meninggalkan agama dan persembahan mereka dan akan mengikuti Nabi
Saleh dan beriman kepadanya.


Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud
berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat
untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan
perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia
memohon dari Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina
dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi
sebuah bukit yang mereka tunjuk.

Maka kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta
terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya
seekor unta betina.


Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu
besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mereka:” Inilah dia unta Allah,
janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di
atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air minum dan
kamu mempunyai giliran untuk mendptkan minum bagimu dan bagi ternakmu
juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu
sampai mengganggu binatang ini.”


Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka
hatinya tanpa mendpt gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba
pergilah unta itu ke sebuah perigi yang diberi nama perigi unta dan
minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu
datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal
mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu
yang makin hari makin merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh di
tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang
di dalam kerongkong.


Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendatangkan mukjizat yang mereka
tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan
kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya
telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak
keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mereka pemilik-pemilik
ternak yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi
Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mereka serta ditakuti
oleh binatang-binatang peliharaannya.


Musnahnya Kaum Tsamud



Persekongkolan
diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan
pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa
takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di
samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang
itu dari atas bumi mereka, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan
yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dapat
membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang
mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan
salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh
unta itu.


Dua macam hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping
hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda’
bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan
pembunuhan untuk meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan
pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta
Nabi Saleh telah mati dibunuh.


Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu
di suatu tempat di mana biasanya di lalui oleh unta dalam perjalanannya
ke perigi tempat ia minum. Dan begitu unta-unta yang tidak berdosa itu
lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda’ yang disusul oleh Gudar
dengan menikamkan pedangnya di perutnya.


Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke
ibukota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendapat
sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin
seakan-akan mereka kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan
yang gemilang.


Berkata mereka kepada Nabi Saleh : “Wahai Saleh! Untamu telah
mati dibunuh, cobalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan
ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk
orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya.”



Nabi Saleh menjawab : “Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan
menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka
dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa
azab yang Allah talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu.Kamu
telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu
kepada-Nya. Janji Allah tidak akan meleset. Kamu boleh bersuka ria dan
bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu
yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan
taqdir-Nya yang tidak dpt ditunda atau dihalang.”



Ada kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui
rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi
kesempatan, kalau-kalau mereka sadar akan dosanya dan bertaubat minta
ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.


Akan tetapi dalam kenyataannya tempo tiga hari itu bahkan menjadi
bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat
datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.


Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di
atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama
bila mereka terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mereka menjadi
kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari
ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.


Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada
kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang
pembunuhan atas diri Nabi Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan
itu. Mereka mengadakan pertemuan rahasia dan bersumpah bersama akan
melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang
masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh
keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identitas mereka sebagai
pembunuhnya. Rancangan mereka ini dirahasiakan sehingga tidak diketahui
dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.


Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan
jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di
atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana
datangnya dan yang seketika merebahkan mereka di atas tanah dalam
keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindungi
rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir.


Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu,
dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin
pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestina, meninggalkan
Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar
yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.


Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya
surah Al-A’raaf, ayat 73 hingga 79 , surah ” Hud ” ayat 61 sehingga
ayat 68 dan surah ” Al-Qamar ” ayat 23 sehingga ayat 32.

http://jumailischaniago.wordpress.com

Nabi Nuh AS (نوح)








Nabi Nuh AS
adalah nabi keempat sesudah Adam, Syith dan Idris dan keturunan
kesembilan dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamik bin Metusyalih bin
Idris.


Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa “fatrah” masa
kekosongan di antara dua rasul di mana biasanya manusia secara
beransur-ansur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang
meninggalkan mereka dan kembali bersyirik meninggalkan amal kebajikan,
melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah pimpinan Iblis.
Demikianlah maka kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut,
sehingga ketika Nabi Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang
menyembah berhala ialah patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan
mereka sendiri disembahnya sebagai tuhan-tuhan yang dapat membawa
kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan
kemalangan.berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan
mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu
diberinya nama-nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera
kebodohan mereka.Kadang-kadang mereka namakan berhala mereka ” Wadd ”
dan ” Suwa ” kadangkala ” Yaguts ” dan bila sudah bosan digantinya
dengan nama ” Yatuq ” dan ” Nasr “.


Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis
itu, mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan
kembali kepada tauhid menyembah Allah Tuhan sekalian alam melakukan
ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan
kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.


Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya agar melihat alam semesta yang
diciptakan oleh Allah berupa langit dengan matahari, bulan dan
bintang-bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang ada di atas
dan di bawahnya, berupa tumbuh-tumbuhan dan air yang mengalir yang
memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pengantian malam menjadi siang
dan sebaliknya yang kesemua itu menjadi bukti dan tanda nyata akan
adanya keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang
mereka buat dengan tangan mereka sendiri.Di samping itu Nabi Nuh juga
memberitakan kepada mereka bahwa akan ada ganjaran yang akan diterima
oleh manusia atas segala amalannya di dunia iaitu syurga bagi amalan
kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran terhadap perintah agama
yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.


Nabi Nuh yang dikurniakan Allah dengan sifat-sifat yang patut
dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata-katanya,
bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya melaksanakan tugas risalahnya
kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara
yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang kala dengan
kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi
pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah
dan dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka
membantahnya atau mematahkannya.


Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat tenaganya
berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan
kesabaran dan dalam setiap kesempatan, siang mahupun malam dengan cara
berbisik-bisik atau cara terang dan terbuka ternyata hanya sedikit
sekali dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti
ajakannya, yang menurut sementara riwayat tidak melebihi bilangan
seratus orang. Mereka pun terdiri dari orang-orang yang miskin
berkedudukan sosial lemah. Sedangkan orang yang kaya-raya, berkedudukan
tinggi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan
pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak
mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan
melepas agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala
mereka, bahkan mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak
melumpuhkan dan menggagalkan usaha dakwah Nabi Nuh.


Berkata mereka kepada Nabi Nuh:


“Bukankah engkau hanya seorang daripada kami dan tidak berbeda
daripada kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah akan
mengutuskan seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Ia akan
mengutuskan seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan
kami ikuti ajakannya dan bukan manusia biasa seperti engkau hanya dapat
diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya seperti para buruh
petani orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka
seperti sampah masyarakat.Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang
yang tidak mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak, mereka
mengikutimu secara buta tuli tanpa memikirkan dan menimbangkan
masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Cuba agama
yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau sadurkan kepada kami
itu betul-betul benar, nescaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya
orang-orang yang mengemis pengikut-pengikutmu itu. kami sebagai
pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak
dan pandangan yang luas dan yang dipandang masyarakat sebagai
pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudah kami menerima ajakanmu dan
dakwahmu.Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soa-soal
kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pandai dan lebih
mengetahui daripada mu tentang hal itu semua.nya.Anggapan kami
terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalah pendusta
belaka.”



Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya:


“Adakah engkau mengira bahwa aku dapat memaksa kamu mengikuti
ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan
kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak ajakan ku dan
tetap membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap
mempertahankan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh
kesombongan dan kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu
miliki.Aku hanya seorang manusia yang mendapat amanah dan diberi tugas
oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap
berkeras kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang benar dan menerima
agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada Allah
untuk menentukan hukuman-Nya dan ganjaran-Nya keatas diri kamu. Aku
hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan
amanah-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah
kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan seksaan-Nya di
atas kamu sekalian jika Ia kehendaki.Dialah pula yang berkuasa
menurunkan seksa dan azab-nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari
kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa ,Maha
Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.”.



Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan berkata:


“Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki kami mengikutimu dan memberi
sokongan dan semangat kepada kamu dan kepada agama yang engkau bawa,
maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani,
buruh dan hamba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pengaulanmu karena
kami tidak dapat bergaul dengan mereka duduk berdampingan dengan
mereka mengikut cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam
suatu agama dan kepercayaan. Dan bagaimana kami dapat menerima satu
agama yang menyamaratakan para bangsawan dengan orang awam, penguasa
dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan orang kaya yang berkedudukan
dengan orang yang miskin dan papa.”



Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya dan berkata:


“Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tiada
pengecualian, yang pandai mahupun yang bodoh, yang kaya mahupun miskin,
majikan ataupun buruh ,diantara penguasa dan rakyat biasa semuanya
mempunyai kedudukan dan tempat yang sama terhadap agama dan hukum Allah.
Andai kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu
menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dapat
ku harapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana
aku sampai hati menjauhkan daripadaku orang-orang yang telah beriman dan
menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu
menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam
tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan
bagaimanakah aku dapat mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku
kepada mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahawa aku telah
membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya semata-mata
untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak
wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran yang sihat.
Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran
sihat.



Pada akhirnya, karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran
kata-kata Nabi Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk
melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka: “Wahai Nabi
Nuh! Kita telah banyak bermujadalah dan berdebat dan cukup berdialog
serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap tidak
akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan
adat-istiadat kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau
mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah dengan kami.
Datangkanlah apa yang engkau benar-benar orang yang menepati janji dan
kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu
dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap
meragukan dakwahmu.”


Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima
puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka
meninmggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah
kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan yang
sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka
hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya,
mengangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingkat yang
sesuai dengan fitrah dan qudratnya dan berusaha menghilangkan
sifat-sifat sombong dan bongkak yang melekat pada para pembesar kaumnya
dan medidik agar mereka berkasih sayang, tolong-menolong diantara
sesama manusia. Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh
tidak berhasil menyedarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan
menerima dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadat kepada Allah
kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus
orang, walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-usahanya
dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran dan kesulitan menghadapi
penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, karena ia mengharapkan
akan datang masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan datang mengakui
kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Harapan Nabi Nuh akan kesedaran
kaumnya ternyata makin hari makin berkurangan dan bahawa sinar iman dan
takwa tidak akan menebus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat
oleh ajaran dan bisikan Iblis.


“Sesungguhnya tidak akan seorang daripada kaumnya mengikutimu dan
beriman kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih
dahulu, maka janganlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka
perbuatkan.”
Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa
harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Ia memohon
kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala
batu seraya berseru:”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun
daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini.
Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan
mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain
anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir spt mereka.”


Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah dan permohonannya diluluskan dan
tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, karena mereka
itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam.


Nabi Nuh AS Membuat Kapal


Setelah
menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh
mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang
diperlukan untuk maksud tersebut, kemudian dengan mengambil tempat di
luar dan agak jauh dari kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan
tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembinaan kapal yang
diperintahkan itu. Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan
masyarakatnya, agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi
menyelesaikan pembinaan kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan
cemuhan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja
membina kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan:
“Wahai Nuh! Sejak kapan engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat
kapal?Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu,
kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal. Dan
kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah
maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang akan
menarik kapalmu ke laut?” Dan lain-lain kata ejekan yang diterima oleh
Nabi Nuh dengan sikap dingin dan tersenyum seraya menjawab:”Baiklah
tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekarang mengejek dan
mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk
mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami
siapkan ini.Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas diri
kamu.”


Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat
pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah :
“Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan
terlihat tanda-tanda daripada-Ku maka segeralah angkut bersamamu di
dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis
makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku.”

Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras
dan dahsyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda
seluruh kota dan desa menggenangi daratan yang rendah mahupun yang
tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat
berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang
telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang
diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.


Dengan iringan “Bismillahi majraha wa mursaha” belayarlah kapal Nabi
Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang
kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal
terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang
menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang sudah sedia
menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu. Tatkala Nabi
Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat
orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan
air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama
“Kan’aan” timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak
menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman
Allah itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih
sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam
keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.


Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak
dengan sekuat suaranya memanggil puteranya:Wahai anakku! Datanglah
kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan
berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya
maut yang engkau menjalani hukuman Allah.” Kan’aan, putera Nabi Nuh,
yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya
yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan
panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang
menentang:”Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi
berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku
sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh
air bah ini.”


Nuh menjawab:”Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat
menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa
tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang
telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan
keampunan-Nya.” Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah
Kan’aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan
mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya
dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.


Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam
keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau
berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah:”Ya Tuhanku, sesungguhnya
puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku
dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan Engkaulah Maha Hakim
yang Maha Berkuasa.”Kepadanya Allah berfirman:”Wahai Nuh! Sesungguhnya
dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah
menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan
mengikuti jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu.Coretlah namanya
dari daftar keluargamu.Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu
mengikuti jalan mu dan beriman kepada-Ku dapat engkau masukkan dan
golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan
perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya.Adapun orang-orang yang
mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa
nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani
hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung.
Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau
belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam
golongan orang-orang yang bodoh.”


Nabi Nuh sedar segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta
kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan
ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri.
Ia sedar bahawa ia tersesat pada saat ia memanggil puteranya untuk
menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri
darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta
dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan
harta-benda. Ia sangat sesalkan kelalaian dan kealpaannya itu dan
menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru : “Ya
Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat,
ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang
aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan
maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi orang
yang rugi.”



Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis
binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan
hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah
kapal Nuh di atas bukit ” Judie ” dengan iringan perintah Allah kepada
Nabi Nuh : “Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang
menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku
bagimu dan bagi umat yang menyertaimu.”



Nabi Nuh turun dari perahunya dan ia melepaskan burung-burung dan
binatang-binatang buas sehingga mereka menyebar ke bumi. Setelah itu,
orang-orang mukmin juga tumbuhan. Nabi Nuh meletakkan dahinya ke atas
tanah dan bersujud. Saat itu bumi masih basah karena pengaruh topan.
Nabi Nuh bangkit setelah salatnya dan menggali pondasi untuk membangun
tempat ibadah yang agung bagi Allah SWT. Orang-orang yang selamat
menyalakan api dan duduk-duduk di sekelilinginya. Menyalakan api
sebelumnya di larang di dalam perahu karena dikhawatirkan api akan
menyentuh kayu-kayunya dan membakarnya. Tak seorang pun di antara mereka
yang memakan makanan yang hangat selama masa topan.


Berlalulah hari puasa sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.
Al-Qur’an tidak lagi menceritakan kisah Nabi Nuh setelah topan sehingga
kita tidak mengetahui bagaimana peristiwa yang dialami Nabi Nuh bersama
kaumnya. Yang kita ketahui atau yang perlu kita tegaskan bahwa Nabi
Nuh mewasiatkan kepada putra-putranya saat ia meninggal agar mereka
hanya menyembah Allah SWT.






Perahu Nabi Nuh AS



Menakjubkan: Perahu Nabi Nuh AS Telah Ditemukan Melalui Penelitian Ilmiah


Umat Nabi Nuh A.S yang ditenggelamkan oleh Allah SWT karena
kedurhakaannya seperti dikisahkan dalam Al-Qur’an, sudah menemukan
pembuktian kebenarannya secara ilmiah. Sejak tahun 1949, sudah
ditemukan lokasinya dan kemudian dilakukan penggalian oleh penelitian
tim antropolog yang dipimpin oleh Prof. Ron Wyatt di Turki sejak tahun
1977. Ini adalah sebagian foto-fotonya. ENJOY IT!! (Moef)




______________________________


1. Awal Penemuan


Pemotretan awal oleh Angkatan Udara AS di tahun 1949 tentang adanya
benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan ketinggian 14.000 feet
(sekitar 4.600 meter).


Kemudian, awal tahun 1960, berita dalam Life Magazine: Pesawat
Tentara Nasional Turki menangkap sebuah benda mirip perahu di puncak
gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang diduga perahu
Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark)


a


a


2. Foto-foto tahun 1999-2000


Seri pemotretan oleh Penerbangan AS IKONOS tahun 1999-2000 tentang dugaan adanya perahu di Gunung Ararat yang tertutup salju.







3. Peta Lokasi Perahu Nabi Nuh








a


4.  Tanah berbentuk Perahu Nabi Nuh di atas Gunung Arafat.





a


5. Situs Perahu Nabi Nuh sebelum dibersihkan



picture2.jpg


a


6. Pengukuran di Atas Perahu













a


7. Struktur Perahu menurut para arkeolog yang menemukannya


picture3.jpg a





a


8. Bentuk Perahu Nabi Nuh AS







a



The Real Noah’s Ark!

Top Points to Consider


10 Hal Penting untuk Diketahui tentang Perahu Nabi Nuh:!!



  1. It is in the shape of a boat, with a pointed bow and rounded stern. Bentuknya adalah perahu dengan deknya berbentuk bundar/melingkar.

  2. Exact length as noted in biblical description, 515 feet or
    300 Egyptian cubits.  (Egyptian not Hebrew cubit would have been known
    to Moses who studied in Egypt then wrote Genesis.)
    Panjangnya seperti dinyatakan Bible adalah 515 feet atau 300 cubit Mesir  [± 160 meter.

  3. It rests on a mountain in Eastern Turkey, matching the
    biblical account, “The ark rested . . . upon the mountains of Ararat”
    Genesis 8:4.  (Ararat being the name of the ancient country Urartu which
    covered this region.)
    Perahu ini terdampar di Timur Turki,
    akur dengan pernyataan Bible, “Perahu itu terdampar … di atas
    pegunungan Ararat” (Genesis 8:4). (Ararat adalah sebutan untuk  negara
    kuno Urartu yang meliputi wilayah ini.

  4. Contains petrified wood, as proven by lab analysis. Dari pengujian laboratotirum, perahu itu adalah kayu yang sudah membatu.

  5. Contains high-tech metal alloy fittings, as proven by
    separate lab analyses paid for by Ron Wyatt, then performed later by
    Kevin Fisher of this web site.  Aluminum metal and titanium metal was
    found in the fittings which are MAN-MADE metals!
    Dari beberapa
    pengujian terpisah, bahannya mengandung metal yang sangat kuat dan
    berteknologi tinggi. Metal alumunium dan titanium ditemukan ditemukan
    menyatu yang dibuat tangan manusia.

  6. Vertical rib timbers on its sides, comprising the skeletal
    superstructure of a boat.  Regular patterns of horizontal and vertical
    deck support beams are also seen on the deck of the ark.

    Bingkai timah vertikal pada sisi-sisinya menunjukkan kerangka struktur
    perahu yang canggih. Pola-pola yang sama pada dek horisontal dan
    vertikal yang memperkuat balok-balok tiang juga terlihat di atas dek
    perahu.

  7. Occupied ancient village at the ark site at 6,500 ft.
    elevation matching Flavius Josephus’ statement “Its remains are shown
    there by the inhabitants to this day.”
    Lokasi perahu itu menutupi sebuah desa kuno di ketinggian 6.500 kaki (2275 meter.

  8. Dr. Bill Shea, archaeologist found an ancient pottery sherd
    within 20 yards of the ark which has a carving on it that depicts a
    bird, a fish, and a man with a hammer wearing a headdress that has the
    name “Noah” on it.  In ancient times these items were created by the
    locals in the village to sell to visitors of the ark.  The ark was a
    tourist attraction in ancient times and today.
    Dr. Bill Shea,
    seorang antropolog, menemukan pecahan-pecahan tembikar sekitar 18 meter
    dari perahu yang memiliki ukiran2 burung, ikan, dan orang memegang
    palu dengan memakai hiasan kepala yang bertuliskan “Nuh.” Pada zaman
    kuno, barang-barang tersebut dibuat oleh penduduk lokal di desa itu
    untuk dijual kepada para pengunjung perahu. Sejak zaman kuno hingga
    sekarang, perahu tersebut telah menjadi lokasi wisata.

  9. Recognized by Turkish Government as Noah’s Ark National Park
    and a National Treasure.  Official notice of its discovery appeared in
    the largest Turkish newspaper in 1987.
    Sekarang ini lokasi
    itu dijadikan Taman Nasional Perahu Nabi Nuh dan (Warisan Nasional.
    Pejabat setempat menyebutkan berita liputan penemuan perahu tersebut
    muncul dalam koran terbesar Turki pada tahun 1987.

  10. Visitors’ center built by the government to accommodate tourists further confirms the importance of the site. Gedung Pusat Turis dibangun oleh Pemerintah untuk mengakomodasi para turis agar mengetahui pentingnya lokasi tersebut.

  11. 11.  Huge anchor stones were found near the ark and in the
    village Kazan, 15 miles away, which hung off the rear of the ark to
    steady its ride.
    Jangkar batu besar ditemukan dekat perahu di
    Desa Kazan, berjarak 15 mile (24 meter) yang menggantung di bagian
    belakang perahu untuk mengokohkan tumpangan.

  12. 12.  The ark rests upon Cesnakidag (or Cudi Dagi) Mountain, which is  translated as “Doomsday” Mountain. Perahu terletak di atas Gunung Cesnakidag yang diartikan sebagai “Gunung Kiamat.”

  13. Dr. Salih Bayraktutan of Ataturk University stated, “It is a man made structure, and for sure it’s Noah’s Ark”  Common Sense. This
    same article also states “The site is immediately below the mountain
    of Al Judi, named in the Qur’an as the resting place of the Ark.”  Houd Sura 11:44
    .
    Dr. Salih Bayraktutan dari Universitas Ataturk menyatakan “ Perahu ini
    adalah strukur yang dibuat manusia dan karenanya yakin ini adalah
    Perahu Nabi Nuh.” Artikel itu juga menyatakan, “Lokasinya di Gunung
    Judi yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai tempat pendaratan bahtera.”
    Surat Hud ayat 44.

  14. Radar scans show a regular pattern of timbers inside the
    ark formation, revealing keels, keelsons, gunnels, bulkheads, animal
    chambers, ramp system, door in right front, two large barrels in the
    front 14′ x 24′, and an open center area for air flow to all three
    levels.
    Scan radar menunjukkan pola timah yang tetap di dalam
    formasi perahu, ada balok-balok kayu besar di dasar perahu, dinding
    pemisah, kandang2 binatang, sistem lorong-lorong jalan dalam perahu,
    pintu bagian depan, dua tong besar berukuran 14’x24’, dan sebuah pusat
    area terbuka untuk sirkulasi udara untuk tiga tingkat ruangan dalam
    perahu.


http://jumailischaniago.wordpress.com/category/kisah-para-nabi/nabi-nuh-as/